Corona di Indonesia
Ganasnya Varian Baru Covid-19, Banyak Pasien Muda dan Nonkomorbid Meninggal
Benny mengatakan empat hari lalu, ia memeriksa sejumlah pasien yang meninggal dan menentukan kausa atau penyebab kematiannya.
TRIBUN-BALI.COM -Ganasnya varian baru virus corona yang sudah masuk Jakarta bukanlah isapan jempol belaka.
Hal ini dikonfirmasi penanggung jawab Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng, Jakarta Barat, dr Benny Octavianus, dalam wawancara bersama TV One, Jumat 2 Juli 2021.
Benny mengatakan empat hari lalu, ia memeriksa sejumlah pasien yang meninggal dan menentukan kausa atau penyebab kematiannya. Ada tiga orang pasien yang masih berusia produktif meninggal dunia karena terpapar virus corona.
Ketiga pasien tersebut bahkan tidak memiliki penyakit penyerta (nonkomorbid).
Baca juga: Muncul Varian Baru Virus Corona Kappa Dan Lambda yang Dikhawatirkan Ilmuwan Selain Delta
Baca juga: Indonesia Awasi Tiga Varian Baru, 151 Kasus Varian Delta Tersebar di 8 Provinsi
Jika varian virus corona yang ada sebelumnya menimbulkan gejala berat pada pasien berusia lanjut dan pasien komorbid, virus corona varian baru menyerang semua kelompok usia dan menimbulkan gejala yang lebih berat.
Terdapat empat jenis varian baru virus corona yang sudah menyebar di Jakarta, yakni varian Alpha dari Inggris, Beta dari Afrika Selatan, serta Delta dan Kappa dari India.
Virus yang mendominasi saat ini adalah varian Delta, yang diyakini berkontribusi pada gelombang kedua Covid-19 di India yang lebih mematikan.
"Saya kaget (pasien yang meninggal berusia) 23 tahun, 34 tahun, dan 35 tahun. Saya langsung sedih banget. Wah berarti varian baru ini ngeri ya, orang-orang umur segitu saja bisa meninggal," ujar Benny.
Harapan tim medis
Benny berharap pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat yang berlangsung pada 3-20 Juli 2021 ini dapat secara signifikan menekan penularan Covid-19 di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan Bali.
Kasus aktif di DKI Jakarta saat ini mencapai angka 78.000 kasus, tertinggi dari yang pernah ada di Indonesia selama pandemi Covid-19. Ini membuat berbagai fasilitas kesehatan lumpuh dan tidak mampu lagi menerima pasien.
"Kita harus lebih serius menekan penularan Covid-19. Saya harapkan dengan PPKM darurat, kasus bisa turun. (Keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate/BOR) bisa kurang dari 50 persen, bahkan kurang dari 20 persen di bulan Agustus," imbuhnya.
BOR isolasi di Jakarta saat ini sudah melebihi angka 90 persen dan mendekati 100 persen.
Hanya ada beberapa tempat tidur yang tersisa untuk pasien Covid-19. Jakarta mencatatkan kasus harian tertinggi pada 2 Juli 2021 dengan 9.399 kasus.
Secara total, kasus positif Covid-19 di Ibu Kota mencapai angka 560.408 kasus. (tribun network/kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-covid-19-kasus-sembuh.jpg)