Penjelasan Tentang Roh Penasaran Dalam Hindu di Bali
Dari sloka tersebut di atas, menandakan bahwa tingkatan pitara atau pitra adalah lebih tinggi dari tingkatan petra.
Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam kitab Manawa Dharmasastra, disebutkan bahwa pitara adalah roh yang pertama ke alam dewa. Untuk nantinya bisa menjadi dewa.
Dalam sloka Manawa Dharmasastra II.192 disebutkan 'Akrodhanah Saucaparah Satatam Brahmacarinah Nyasta Sastra, Mahabhagah Pitarah Purwadewatah'.
Artinya, pitra adalah dewa-dewa yang pertama, bebas dari kemarahan, hati-hati terhadap kesuciannya, selalu jujur,tidak suka bertengkar, dan kaya akan kebajikan.
Dari sloka tersebut di atas, menandakan bahwa tingkatan pitara atau pitra adalah lebih tinggi dari tingkatan petra.
"Itulah sebabnya apabila orang yang meninggal bertahun-tahun bahkan hingga puluhan tahun, namun tidak diaben maka Antahkarana Sariranya akan selalu dipengaruhi oleh Suksma Sarira.
Sehingga menjadi roh yang terikat oleh nafsu serta keinginan yang semena-mena," jelas Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, kepada Tribun Bali, 5 Juli 2021.
Perlu dijelaskan pengertian Suksma Sarira adalah badan astral, atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran (citta), perasaan (manah), keinginan (indriya), dan nafsu (ahamkara).
Kemudian Antahkarana Sarira adalah yang menyebabkan hidup atau yang disebut Sanghyang Atma.
Sehingga apabila raga sarira telah meninggal, namun belum diaben hingga waktu yang lama.
Membuat rohnya masih terikat oleh nafsu duniawi dan menjadi roh penasaran.
Roh yang masih terikat ini, berkeliaran dan membawa bencana yang disebut Bhuta Cuil dan menganggu kehidupan manusia.
"Untuk memisahkan hal tersebut, perlu dilakukan upacara yang disebut pengaskaran. Yaitu upacara inisiasi agar roh dari preta.
Atau roh yang masih terikat oleh Suksma Sarira bisa berubah menjadi pitra," sebut beliau.
Pitra adalah roh atau Antahkarana Sarira yang bebas dari ikatan.
Itulah sebabnya dalam upacara pengabenan, perlu adanya upacara pengaskaran.
Yakni askara atau inisiasi roh, agar roh tersebut menjadi bersih dan kemudian disebut pitra.
"Jadi upacara pengaskaran yaitu upacara askara atau upacara penyucian, atau juga pendwijatian roh dari roh yang disebut preta diabhiseka (diubah) dan dinaikkan statusnya menjadi pitara," sebut ida.
Sebagai puncak upacara pengaskaran, ditandai dengan upacara pemetikan sebagai simbol pembersihan roh yang disebut Antahkarana Sarira dari pengaruh ikatan Suksma Sarira.
Dalam tradisi Hindu di Bali, roh atau Antahkarana Sarira yang telah lepas, dari ikatan Suksma Sarira maka disebut pitara.
"Namun ada suatu ketentuan di dalam masyarakat Hindu di Bali. Bahwa ketika roh atau atman baru berstatus sebagai pitara. Maka roh tersebut belum bisa dilinggihkan di bale Samanggen (bale delod atau bale dangin)," jelas pensiunan dosen Unhi ini.
Hal tersebut karena roh masih dianggap belum mencapai kesucian yang sempurna.
Oleh sebab itu roh yang baru disebut pitara dan perlu diinisiasi atau ditingkatkan kesuciannya lagi, melalui upacara memukur atau nyekah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-roh_20170215_095137.jpg)