Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Ini Pentingnya Upacara Pakelem di Laut dalam Kepercayaan Hindu Bali

Harapannya dengan hal itu, terjadi keseimbangan di alam semesta. Baik sekala maupun niskala, dan antar mahluk hidup.

Tayang:
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Pelaksanaan mulang pakelem, di perairan Labuan Lalang, Kamis (29/4/2021) 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam menjaga keseimbangan alam, telah sejak lama di Bali mengenal yang namanya upacara yadnya atau pengorbanan suci yang tulus ikhlas.

Harapannya dengan hal itu, terjadi keseimbangan di alam semesta. Baik sekala maupun niskala, dan antar mahluk hidup.

Satu diantara upacara menjaga keseimbangan alam semesta ini, adalah dengan mulang pakelem.

"Pakelem adalah suatu upacara yang dilaksanakan di laut ataupun di danau. Di Jawa dikenal dengan nama larung laut atau sedekah laut," jelas Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti kepada Tribun Bali, Rabu 7 Juli 2021.

Baca juga: Pasca KRI Nanggala 402 Ditemukan, Pejabat di Bali Gelar Mulang Pakelem dengan Sarana Kambing Hitam

Upacara mapakelem, kata beliau, bagi umat Hindu di Bali adalah merupakan bagian dari caru atau Bhuta Yadnya.

Upacara menghaturkan pakelem biasanya berhubungan, dengan adanya hal-hal yang berkaitan dengan kondisi dan situasi  yang terjadi di daerah tersebut.

Misalkan adanya wabah (grubug), adanya huru-hara dan sebagainya.

"Karena umat Hindu di Bali, percaya bahwa pandemi berasal mula dari laut dan tersebar ke seantero jagat, sehingga dikenal dengan istilah demonicforce," sebut pensiunan dosen Unhi ini.

Itulah sebabnya pada zaman dulu orang Bali jarang bermukim di pesisir, dan lebih memilih tinggal agak di pedalaman.

Apabila kondisi dan keseimbangan antara laut dan daratan tidak sempurna maka dipercaya pandemi akan muncul. Misalkan saja, wabah terhadap manusia akan timbul bahkan wabah tanaman seperti hama tikus, walang sangit, dan sebagainya dipercaya berasal dari ketidakseimbangan ekosistem di laut. Untuk itulah perlu diseimbangkan.

Menyeimbangkan kehidupan di laut, dalam ajaran Hindu ada dalam bagian Sad Kertih, yaitu yang disebut dengan segara untuk di laut, dan Danu Kertih untuk di danau.

Upacara penyeimbangan ini secara spritual dilakukan dengan upacara pakelem, sedangkan upacara menyeimbangkan alam secara fisik dilakukan dengan menjaga kebersihan laut.

Seperti misalnya tidak meracuni atau mengebom ikan, tidak merusak terumbu karang dan biota laut, tidak mencemari laut atau danau dengan limbah yang kotor dan beracun, serta selalu menjaga lingkungan laut dan danau agar tetap asri, lestari dan tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang dapat merusak lingkungan.

"Sehingga pakelem berfungsi sebagai permohonan keseimbangan ekosistem kehidupan, agar keharmonisan antara alam dan lingkungan di laut atau di danau dengan manusia bisa terjaga dengan baik," sebut ida.

Baca juga: Penjelasan Tentang Roh Penasaran Dalam Hindu di Bali

Sebab upacara itu adalah pengingat, agar manusia selalu menjaga keseimbangan alam melalui tingkah laku manusia itu sendiri.

Dengan terjaganya keseimbangan antara alam dan manusia maka penyakit atau pasti akan berlalu.

Dalam upacara pakelem, kata ida, pasti menggunakan binatang hidup sebagai korban, misalnya ayam hidup, itik hidup, kambing hidup, sapi hidup serta sebagainya.

"Dengan pelaksanaan hal tersebut,  ada beberapa orang yang menanyakan apakah hal tersebut termasuk Himsa Karma. Dalam ajaran Hindu, khususnya Hindu di Bali yang menganut konsep Siwa Siddhanta Indonesia, maka konsep Ahimsa dan Himsa Karma, telah diatur ketentuannya," jelas ida.

Sehingga mana yang disebut atau digolongkan Ahimsa dan mana yang digolongkan sebagai Himsa Karma sudah jelas.

Maka dalam agama Hindu di Bali, sebelum melaksanakan pengorbanan atau pembunuhan maka mereka akan terlebih dulu mengetahui untuk apa mereka membunuh binatang.

Apabila pembunuhan hanya untuk kepentingan pribadi dan tidak untuk kesejahteraan umat, maka itu bisa digolongkan sebagai Himsa Karma, akan tetapi apabila hal itu untuk kepentingan umat bersama, maka pengorbanan itu dibenarkan asal, terlebih dahulu korban tersebut didoakan, atau yang disebut dengan Mapepada.

"Jangankan membunuh binatang, membunuh atau memasak sayur-sayuran pun dalam ajaran Hindu di Bali yang menganut paham Siwa Siddhanta, juga harus berdoa. Maksudnya daun sayuran itu harus didoakan," imbuh ida.

Salah satu doa untuk sayur-sayuran adalah sebagai berikut, 'Ong indah ta kita daun-daunan, saking nariti desa sinangkan ta, pamuliha kita Maring Nariti desa, manembah ya kita maring Sanghyang Rudra. Ong mang namah lingganta'.

Dan seterusnya, begitu juga untuk binatang berkaki dua, berkaki empat, yang berjalan memakai dada misalnya penyu, serta ikan-ikanan dan lain-lainnya, semua terlebih dahulu didoakan, agar yang dikorbankan tersebut nantinya mendapat tempat yang baik dan ketika reinkarnasi agar menjadi manusia kaya atau bahkan pendeta.

Baca juga: Saat Mengingatkan Keturunannya, Leluhur Tak Pernah Marah, Ini Penjelasannya Dalam Hindu di Bali

Setelah pengucapan doa, barulah binatang itu dikorbankan untuk kepentingan bersama. "Sehingga kita lepas dari konsep Himsa Karma, sesuai dengan ajaran Hindu Siwa Siddhanta Indonesia, yang kita anut di Bali," tegas ida.

Penyupatan binatang tidak hanya bebantenan daksina dan lain-lain, karena itu hanyalah sebagai sarana saja. Tetapi yang penting adalah ketulusan hati manusia saat menyupat (menginisiasi) binatang korban tersebut, sehingga apa yang dimohonkan betul-betul terkabul sesuai dengan tujuannya yang baik dan benar.

Sebab dalam ajaran Hindu di Bali, bahwa pengorbanan yang memiliki tujuan luhur, akan menaikkan tingkat kehidupan selanjutnya atau kehidupan pada kelahiran kemudian. (*)

Artikel lainnya di Serba Serbi

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved