Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

Melik Ceciren, Berikut Ini Arti Kata Melik Dalam Hindu Bali

Secara umum melik dibedakan menjadi tiga, yaitu Melik Adnyana, Melik Ceciren, dan Melik Kelahiran.

Tayang:
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Karsiani Putri
Istimewa
Dosen Unhi Denpasar, I Kadek Satria 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Melik merupakan salah satu laku keyakinan masyarakat Bali.

Secara umum melik dibedakan menjadi tiga, yaitu Melik Adnyana, Melik Ceciren, dan Melik Kelahiran.

BACA JUGA: Pemuda Karangasem Gelar Aksi Solidaritas Dengan Berbagi Makanan Gratis Ditengah PPKM Darurat

Dosen Unhi Denpasar, I Kadek Satria menjelaskan ihwal ketiga arti melik tersebut.

Pertama, Melik Adnyana adalah keadaan seseorang yang memiliki kemampuan yang lebih dari orang biasa, misalnya bisa melihat mahluk gaib.

"Kemudian berkomunikasi dengan mahluk gaib, bermimpi yang berkaitan dengan spiritual seperti mimpi bertemu orang suci, mimpi berperang dengan mahluk astral (leak, red), mimpi ngiring sesuwunan seperti petapakan ida (barong dan rangda, red)," jelasnya kepada Tribun Bali, Minggu 18 Juli 2021.

Melik ini, kata dia, amat berbahaya jika belum mendapatkan panglukatan melik.

Kedua adalah Melik Ceciren, yaitu melik dengan beberapa ciri-ciri.

Seperti dalam tubuhnya ada guratan berbentuk senjata Dewata Nawa Sanga, memiliki ciri tubuh seperti rambut putih, gimbal, dan lainnya seperti kadengan atau tahi lalat dan lain.

Adapun Ceciren lainnya seperti ada berupa salah satu senjata Dewata Nawa Sanga dalam tubuhnya, kadang hanya bisa dilihat oleh tokoh spiritual atau kelihatan nyata di kulit.

Lalu ada Kadengan Apit Wangke, yaitu ada tahi lalat di kelamin dan di sekitaranya.

Kadengan Celedung Nginyah atau tahi lalat yang ada di tengah-tengah alis.

Lalu lesung pipit di bokong.

Kemudian rambut putih hanya beberapa helai dan tidak bisa hilang.

Rambut gimbal, jari kaki tangan dan kaki lebih dari lima.

Lidah poleng dan usuan lebih dari satu.

Kemudian ada Melik Kelahiran.

Melik jenis ini seperti kelahiran pada Wuku Wayang, anak tunggal, Tiba Sampit atau anak yang lahir berkalung tali pusar.

Tiba Angker atau anak yang lahir berbelit tali pusar dan tidak menangis.

Jempina atau anak yang lahir premature.

Margana, yakni anak lahir di tengah perjalanan.

Wahana anak yang lahir di tengah keramaian.

Julungwangi, anak yang lahir tatkala matahari terbit.

Julungsungsang, yaitu anak yang lahir tatkala tepat tengah matahari.

Julung Sarab / Julung Macan / Julung Caplok, yaitu anak lahir menjelang matahari terbenam.

Lalu Walika, orang kerdil.

Wujil atau orang cebol.

Kembar dua anak lahir bersamaan dalam sehari.

Buncing / Dampit, yaitu dua anak beda jenis kelamin lahir bersamaan dalam sehari.

Tawang Gantungan, anak kembar selisih satu hari.

Pancoran Apit Telaga, kelahiran tiga bersaurdara dimana urutannya perempuan – laki – perempuan.

Telaga Apit Pancoran, kelahiran anak dengan urutan laki – perempuan – laki.

Sanan Empeg, yaitu anak yang lahir diapit saudaranya meninggal.

Pipilan, yaitu lima bersaudara empat perempuan satu laki.

Padangon, lima bersaudara empat laki satu perempuan.

"Orang yang Lintangan Bade, yakni lahir Kamis Pon atau Wuku Watugunung," sebutnya.

Orang yang Lintangan Bubu Bolong, yakni Lahir Jumat Paing.

Orang yang Lahir saat Tumpek, Tumpek Landep, Tumpek Kandang, dan lainnya.

Lidah ada hitam/garis hitam.

Orang hamil saat kena Tumpek Wayang harus malukat agar anaknya tidak dikuasai sifat bhuta kala.

"Serta orang pada umumnya/keluarga pada umumnya yang ingin membersihkan dirinya dan menetralisir sifat bhuta kala dalam dirinya agar terhindar dari bahaya, murah rezeki, tenang dan bahagia sekala niskala," sebutnya.

"Terkait dengan melik ini, sesuai dengan pengalaman di pasraman kami lakukan panglukatan melik dengan upacara penyangling melik," jelasnya.

Ritual ini dilakukan di pasraman dengan sarana-sarana tertentu seperti yeh empul-empulan, sarana dari tumbuhan, bunga, buah dan menggunakan sarana rerajahan untuk neduh orang yang melik.

"Upacaranya sederhana, namun menguatkan dan lebih pada perilaku permohonan kepada kemulan dan taksu serta kepada Ida Sesuhunan agar anak tersebut dilindungi dalam hidupnya dan selalu berjalan di jalan kebenaran atau Dharma," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved