Tingginya Penularan Covid-19, Kagama Keluarkan 6 Imbauan
Kasus infeksi Covid-19 di Indonesia terus meningkat secara tajam seiring menyebarnya virus Corona varian Delta di Indonesia
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kasus infeksi Covid-19 di Indonesia terus meningkat secara tajam seiring menyebarnya virus Corona varian Delta di Indonesia.
Melihat kondisi ini, Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP Kagama), memberikan imbauan pada seluruh pengurus dan anggota Kagama di mana pun berada.
Untuk secara bersama-sama meningkatkan kewaspadaan atas menyebarnya virus Corona varian baru ini.
Termasuk imbauan untuk menjaga imunitas, serta meningkatkan solidaritas sosial membantu masyarakat terdampak pandemi Covid-19, khususnya bagi anggota Kagama dan keluarganya.
Baca juga: Pandemi Covid-19 di Bali, Ketua ARSSI Tekankan Butuh Radio Medik, Selama Ini Hanya Andalkan WA Grup
Sekretaris Jenderal PP Kagama, AAGN Ari Dwipayana, mengatakan ada enam imbauan yang menjadi acuan anggota dan pengurus Kagama di semua tingkatan untuk aktif menyikapi perkembangan keadaan.
"Pertama, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan berpedoman pada prinsip 5M yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan," sebutnya dalam rilis Minggu 18 Juli 2021.
Penerapan protokol kesehatan yang ketat ini, mesti menjadi kebiasaan baik ketika berada di lingkungan rumah maupun di luar rumah.
Kedua, menjaga imunitas tubuh sebagai ‘benteng pertahanan’ agar tetap kuat dan terjaga dengan cara rutin berolahraga, cukup istirahat, hindari stres, konsumsi vitamin, dan perbanyak makan sayur dan buah.
Ketiga, dengan mendukung program percepatan vaksinasi agar segera tercapai herd immunity.
Kemudian keempat, aktif membantu anggota Kagama, dan keluarganya yang terpapar Covid-19 dengan melibatkan mereka dalam program Kagama Telekonseling yang telah diluncurkan pada 10 Juli 2021.
“Atau dapat menginisiasi program sejenis dengan tujuan membantu anggota Kagama dan keluarganya di lingkungan masing-masing,” imbuh Koordinator Staf Khusus Presiden ini.
Kelima, aktif menggalang bantuan sosial bagi sesama anggota Kagama.
Maupun warga masyarakat yang terdampak dalam program Kagama Canthelan.
“Terakhir, kami meminta agar pengurus Kagama di semua tingkatan menyelenggarakan doa bersama lintas agama memohon keselamatan dan kekuatan dalam menghadapi pandemi ini," pungkas alumnus Fisipol UGM itu.
Ari Dwipayana, juga menegaskan vaksinasi harus inklusif, dan bisa diakses semua. Kecepatan vaksinasi adalah game changer dalam mengatasi pandemi Covid-19.
Karena itu, seluruh elemen bangsa, termasuk alumni UGM atau Kagama harus membantu pemerintah dalam percepatan vaksinasi.
Sehingga vaksinasi bisa diakses oleh semua warga masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Pria asli Ubud ini menambahkan, saat ini berbagai negara sedang berlomba-lomba untuk mendapatkan vaksin.
Terbatasnya negara produsen vaksin serta tingginya permintaan vaksin, membuat vaksin menjadi rebutan.
Karena itu, pemerintah telah menempuh berbagai cara untuk mendapatkan vaksin, baik melalui pendekatan multilateral maupun bilateral.
Selain itu, Pemerintah juga terus mengembangkan program vaksin nasional, yang disebut vaksin merah putih.
Untuk mencapai herd immunity, maka Indonesia membutuhkan vaksin yang tidak sedikit.
Setidaknya, vaksinasi harus bisa menjangkau 70 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
Baca juga: Mudahkan Pemantauan Kondisi Kesehatan Masyarakat Positif Covid-19, Badung Siapkan Tempat Isolasi
Itu artinya Pemerintah harus bekerja extra ordinary untuk memastikan ketersediaan vaksin, sehingga mampu diakses oleh semua warga masyarakat Indonesia.
Menurut Ari, tantangan utama dalam vaksinasi bukan hanya ketersediaan vaksin, tapi juga sejauh mana akses masyarakat, terutama kelompok-kelompok rentan bisa memperoleh vaksin dengan cara yang mudah dan cepat.
Ari memaparkan bagaimana upaya Presiden Jokowi untuk mempercepat vaksinasi dengan mengerahkan berbagai jalur dan seluruh kekuatan yang ada.
Presiden menargetkan vaksinasi bisa dilakukan 1 juta dosis per hari di bulan Juli.
Target Presiden meningkat lagi 2 juta dosis di bulan Agustus.
Presiden Jokowi juga memberikan prioritas pada kelompok-kelompok rentan untuk mendapatkan vaksin.
Penentuan kelompok prioritas menjadi penting karena mereka harus bisa terlindungi dari penularan Covid.
Karena itu, selain diberikan pada tenaga kesehatan dan pelayan publik, vaksin juga diprioritaskan pada manula dan disabilitas.
Ari juga mengingatkan bahwa pemberian vaksin untuk disabilitas juga memerlukan edukasi dan pendampingan.
Karena bersandar dari hasil survei, masih ada sebagian masyarakat yang menolak atau masih ragu-ragu untuk divaksin.
Untuk itu, diperlukan kepedulian antar warga masyarakat, semangat saling bantu, saling mengingatkan, agar vaksin bisa diakses oleh semua, termasuk penyandang disabilitas.(*).
Baca juga: Mendagri Tegur 19 Provinsi yang Belum Maksimal Realisasikan Dana Covid-19, Ini Respon DPRD Bali
Kumpulan Artikel Corona di Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tingginya-penularan-covid-19-kagama-keluarkan-6-imbauan.jpg)