AC Milan
Kompilasi 11 Pemain Ciamik Rossoneri Periode 1986 Sampai 2017, Ini Skuad Terbaik AC Milan
Bagi fans ataupun suporter AC Milan, tentu masih ingat dengan era keemasan Rossoneri di bawah Silvio Berlusconi dan tangan kanannya Adriano Galliani.
TRIBUN-BALI.COM – Bagi fans ataupun suporter AC Milan, tentu masih ingat dengan era keemasan Rossoneri di bawah Silvio Berlusconi dan tangan kanannya Adriano Galliani.
Silvio Berlusconi yang dikenal sebagai pengusaha media terkemuka di Italia tersebut mengambil alih AC Milan pada 1987, dan Rossoneri menjelma menjadi salah satu klub kuat di Eropa dalam waktu singkat.
Sosok yang kemudian hari menjadi Perdana Menteri Italia tersebut kemudian serius membangun skuad AC Milan dan menginvestasikan modalnya untuk Rossoneri, yang pada 1980-an telah dua kali mengalami degradasi.
Kendati demikian, apa yang dikerjakan Silvio Berlusconi tidak akan bisa terwujud tanpa bantuan sosok terdekatnya, Adriano Galliani yang duduk sebagai Chief Executive Officer AC Milan.
Pelan namun pasti, kerjasama kuat antara Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani menjadi kunci AC Milan menjadi klub kuat di Serie A dan Eropa.
Baca juga: Rahasia di Balik Keputusan Hengkangnya Donnarumma dari AC Milan ke PSG, Calabria Sampaikan Begini
Jika Galliani mengatakan AC Milan membutuhkan pemain tertentu, Berlusconi akan memastikan permintaan itu terpenuhi.
Melalui ikatan inilah AC Milan dapat berkembang menjadi salah satu klub elite Eropa seperti yang telah mereka lakukan beberapa dekade sebelumnya.
Pada hari ulang tahun ke-77 Galliani, laman Sempre Milan mencoba melihat kembali perjalanan klub di bawah pria berjulukan Il Condor itu selama 31 tahun masa jabatannya.
Selama itu, AC Milan berhasil meraih 29 penghargaan utama, termasuk 8 Scudetto dan 5 gelar Liga Champions.
Sederhananya, Galliani dan manajemen AC Milan mengumpulkan beberapa pemain terbaik mulai dari akhir 1990-an hingga akhir 2000-an.
Mungkin semuanya dimulai dengan memadukan trio Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit, tiga pemain terbaik dunia saat itu.
Itu adalah langkah awal untuk menunjukkan bahwa Berlusconi tidak main-main dan sudah bertekad membuat Il Diavolo Rosso (Setan Merah) menjadi kekuatan besar Eropa.
Trofi mulai datang dan begitu pula rasa lapar dan "keserakahan" untuk lebih sukses.
Moto AC Milan saat itu: 'jika Anda tidak bisa mengalahkan klub yang mereka hadapi, rekrut para bintangnya'.
Hal itu terjadi pada pemain seperti Zvonomir Boban dan Dejan Savicevic serta duo Prancis Marcel Desailly dan Jean-Pierre Papin, yang menjadi superstar waktu itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ac-milan-agresif-di-bursa-transfer-pemain-liga-italia-cari-ban-serep-ibra.jpg)