Corona di Indonesia

Disiplin Prokes dan Varian Delta Jadi Pemicu Utama Lonjakan Kasus Covid-19 di Jawa-Bali

Menurutnya, jika masyarakat disiplin dalam menerapkan 5M, maka angka positif tidak akan melonjak signifikan.

Editor: DionDBPutra
Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin ketika mengunjungi RSUP Sanglah Minggu 28 Februari 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut dua faktor utama yang mendorong melonjaknya kasus positif virus corona (Covid-19) di sejumlah daerah, khususnya wilayah Jawa dan Bali.

Faktor yang pertama adalah sikap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan yakni Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Mengurangi mobilitas dan Menjauhi kerumunan (5M).

"Kenaikan kasus ini memang dua penyebab utamanya, satu adalah disiplin protokol kesehatan," ujar Budi Gunadi, dalam konferensi pers virtual bertajuk 'Update Penanganan Covid-19', Senin 2 Agustus 2021.

Baca juga: Berdasarkan Data Banyuwangi, Vaksinasi Efektif Tekan Penularan dan Cegah Dampak Buruk Covid-19

Baca juga: 11 Desa di Karangasem Masuk Zona Hijau Covid-19

Menurutnya, jika masyarakat disiplin dalam menerapkan 5M, maka angka positif tidak akan melonjak signifikan.

"Kalau kita disiplin protokol kesehatan, pakai maskernya benar dan rajin, jaga jaraknya benar, kerumunannya dihindari, itu adalah resep yang paling jitu," kata Budi Gunadi.

Budi Gunadi menilai, menerapkan protokol kesehatan sangat mudah, namun dianggap sulit karena masyarakat belum terbiasa. "Sebenanya paling mudah, tapi paling susah kita disiplin melakukannya," jelas Budi Gunadi.

Menurutnya, protokol kesehatan merupakan salah satu cara yang tepat untuk mengurangi risiko penularan Covid-19, selain vaksinasi.

Terlebih saat ini fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) seperti rumah sakit tengah kewalahan menangani pasien yang terifeksi virus tersebut, katanya.

"Kalau dilakukan, itu adalah hal yang paling mudah dan paling besar dampaknya untuk mengurangi penularan dan melindungi keluarga kita supaya nggak ke rumah sakit," tegas Budi Gunadi.

Faktor kedua yang mendorong peningkatan kasus baru adalah munculnya varian B.1.617.2 (Delta) yang diketahui lebih mudah dan cepat menular.

Varian yang pertama kali ditemukan di India ini disebut dua hingga tiga kali lipat lebih cepat menular dari varian Alpha, dan lima hingga enam kali lipat lebih mudah menular dibandingkan varian awal yang ditemukan di Wuhan, China.

"Yang kedua, perlu kita akui penularan Delta ini cepat sekali, itu 2 hingga 3 kali lebih menular daripada kasus varian Inggris, dan mungkin bisa 5 sampai 6 kali lebih menular dari yang Wuhan, jadi itu penyebab kedua," kata Budi Gunadi.

Cuma di Mamuju

Pada bagian lain, Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio mengatakan, sampai saat ini jumlah kasus varian Delta Plus yang ditemukan di Indonesia baru terdeteksi satu kasus di Mamuju, Sulawesi Barat.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved