Biaya Cat Pesawat Kepresidenan Mencapai Rp 2,1 Miliar
Pakar penerbangan Alvin Lie yang pertama membeberkan adanya kegiatan pengecatan ulang pesawat kepresidenan itu.
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Pihak Istana Kepresiden menjadi sorotan setelah diketahui melakukan pengecatan ulang terhadap pesawat kepresidenan. Biaya pengecatan ulang pesawat mencapai Rp2,1 miliar.
Pakar penerbangan Alvin Lie yang pertama membeberkan adanya kegiatan pengecatan ulang pesawat kepresidenan itu. Di akun twitternya ia mengunggah foto pesawat kepresidenan warna merah putih.
Alvin menyinggung soal pemborosan uang di tengah pandemi. Menurut Alvin, pengecatan ulang pesawat bisa menelan biaya miliaran rupiah dan bentuk foya-foya.
Baca juga: 5 Pesawat Kepresidenan Paling Mewah dan Canggih di Dunia, AS Boeing Rusia Ilyushin IL-96
Baca juga: Pesawat Kepresidenan Simbol Kemewahan, Presiden Meksiko Menjualnya untuk Alat Medis dan Orang Miskin
"Hari gini masih aja foya-foya ubah warna pswt Kepresidenan Biaya cat ulang pswt setara B737-800 berkisar antara USD100ribu sd 150ribu Sekitar Rp.1,4M sd Rp.2.1M @KemensetnegRI@setkabgoid@jokowi," cuit akun @alvienlie21, Senin 2 Agustus 2021.
Sumber di Istana tak membantah cuitan Alvin itu, dan membenarkan bahwa anggaran mengecat ulang pesawat mencapai Rp 2 miliar.
Angka tersebut hanya untuk satu pesawat saja yakni BBJ 2. "Iya plus-minus segitu (2 miliar), pesawat BBJ saja," tutur sumber tersebut.
Namun demikian, pihak Istana membantah pengecatan sebagai bentuk foya-foya.
"Pengecatan pesawat ini telah direncanakan sejak tahun 2019 serta diharapkan dapat memberikan kebanggaan bagi bangsa dan negara. Perlu kami jelaskan bahwa alokasi untuk perawatan dan pengecatan sudah dialokasikan dalam APBN," kata Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono dalam keterangan tertulisnya, Selasa 3 Agustus 2021.
Heru menjelaskan pengecatan pesawat kepresidenan merupakan bagian dari perawatan. Ia beralasan ada beberapa sisi pesawat yang catnya sudah terkelupas.
"Ada beberapa bagian yang sudah terkelupas," kata Heru.
Di sisi lain, kata Heru, pesawat kepresidenan juga sudah 7 tahun digunakan. Sehingga sudah selayaknya mendapatkan perawatan agar bisa berfungsi dengan baik.
"Pesawat itu sudah 7 tahun, secara teknis memang harus memasuki perawatan besar, overhaul. Itu harus dilakukan untuk keamanan penerbangan," ujarnya.
Heru juga menjelaskan bahwa pengecatan pesawat sudah direncanakan sejak 2019, terkait dengan perayaan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 2020.
Namun, kegiatan itu tak bisa langsung dilakukan karena pesawat itu belum memasuki waktu perawatan rutin. Pesawat kepresidenan itu baru masuk jadwal perawatan rutin tahun ini.
Pengecatan pun dilakukan bersamaan dengan perawatan seluruh komponen. Tak hanya pesawat kepresidengan, pengecatan dilakukan terhadap Heli Super Puma yang biasa dipakai presiden.
"Proses pengecatan merupakan pekerjaan satu paket dengan Heli Super Puma dan Pesawat RJ," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pesawat-presiden_20170806_122244.jpg)