Berita Bali
Kabar Duka Seniman Bali Didon Kajeng Berpulang, Made Jerry: Sosok Inspirasi Bagi Kawan Tunanetra
Seniman serba bisa yang juga penyandang disabilitas, Didon Kajeng berpulang.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seniman serba bisa yang juga penyandang disabilitas, Didon Kajeng berpulang.
Menurut informasi yang diterima Tribun Bali, Didon menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa 10 Agustus 2021, pukul 23.00 Wita, di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali
Pria kelahiran Jembrana, 5 Maret 1976 ini, tutup usia diusia 45 tahun.
Semasa hidupnya, ia sangat aktif berkesenian termasuk merangkai bunga dengan beberapa prestasi.
Baca juga: Belum Terima Honor Sejak Pentas Bulan Lalu, Seniman Tabanan Pertanyakan Honor PKB
Ia juga mendirikan Komunitas Teratai dengan anggota penyandang tunanetra yang kemudian berubah menjadi Yayasan Telaga Teratai Indonesia yang bermarkas di Jalan Pulau Rembulan, No. 7 Dauh Puri Kelod, Denpasar.
Salah satu sahabat Didon yang juga bendahara Yayasan Telaga Teratai, Made Jerry Juliawan mengatakan, Didon merupakan sosok yang luar biasa bagi dirinya dan teman-teman tunanetra.
“Di mata saya sangat luar biasa, dulunya beliau normal dan bisa melihat, namun karena penyakitnya beliau menjadi tunanetra. Dan beliau benar-benar inspirasi teman tunanetra,” kata Jerry, saat dihubungi Tribun Bali, Rabu 11 Agustus 2021.
Didon memperkenalkan sastra, teater dan seni merangkai bunga kepada penyandang tunanetra.
“Menurut beliau kami kekurangannya hanya di mata, hanya mata yang tidak bisa melihat, selebihnya semuanya normal, maka tidak ada alasan untuk tidak semangat berkarya. Mungkin yang melek butuh 2 jam, kita 3 sampai 4 jam, yang membedakan hanya waktu,” katanya mengingat pesan dari Didon.
Jerry mengatakan, jika Didon sudah bolak balik cuci darah sejak empat lima tahun lalu.
Akan tetapi, semangatnya tak pernah pudar dalam berkreativitas.
“Meskipun beliau harus cuci darah dua kali seminggu, namun tidak pernah mengeluh dengan kondisinya. Jadi saya merasa harus lebih semangat dari beliau,” imbuhnya.
Jerry kenal dengan Didon sekitar tahun 2013 lalu semenjak Didon tunanetra.
Bersamanya dan beberapa penyandang tunanetra, Didon kemudian mendirikan Komunitas Teratai tahun 2016 yang kemudian menjadi Yayasan Telaga Teratai Indonesia sejak tahun 2020.
Lewat komunitas ini, Didon mengajak penyandang tunanetra untuk berkesenian.
“Ayo selalu berkesenian, kita sosialisasikan bahwa tunanetra bisa melakukan apa saja, itu yang selalu beliau sampaikan. Kami benar-benar kehilangan, terutama saya, karena sudah saya anggap sebagai saudara sendiri,” imbuhnya.
Bersama Didon, Komunitas Teratai telah tampil di berbagai acara seperti di Bentara Budaya Bali, Art Center, hingga dalam acara Hari Puisi di Taman Ismail Marzuki dan satu panggung dengan Jusuf Kalla sekitar tahun 2018 lalu.
Sebelum Corona, tepatnya tahun 2019 lalu, Didon pernah mewakili Bali dalam lomba merangkai bunga di Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Didon merupakan satu-satunya peserta penyandang tunanetra dan masuk lima besar.
“Saya dan teman mendampingi beliau untuk memilah warna, karena beliau benar-benar tidak bisa melihat,” tuturnya.
Baca juga: Seniman Patung Teges Ditemukan Meninggal di Gubuknya, Dikenal Tidak Suka Menyusahkan Orang Lain
Belakangan Didon juga mencoba melukis dan beberapa lukisannya dijadikan desain kaos.
Didon juga telah menerbitkan sebuah buku tentang design flora berjudul Bali Bloom yang terbit September 2019.
Saat ini, Didon tengah menyusun buku keduanya, akan tetapi keinginannya belum tercapai dan ia sudah berpulang.
“Pokoknya beliau sangat luar biasa. Memang aktif, kreatif dan suka membantu serta peduli sesama,” katanya. (*).
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/didon-kajeng.jpg)