Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Opini

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Ketika Integritas Akademik Tergerus Pragmatisme

Nilai bukan lagi cerminan capaian pembelajaran, melainkan sekadar formalitas administratif bagi mahasiswa. 

Tayang:
Istimewa
Dr. Putu Eva Ditayani Antari, S.H., M.H. Akademisi Fakultas Hukum, Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS). Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Ketika Integritas Akademik Tergerus Pragmatisme 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremoni. 

Di tengah perayaan tersebut, penting untuk kembali mengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal capaian angka, melainkan pembentukan nalar dan karakter. 

“Education is not the filling of a pail, but the lighting of a fire.” 

Ungkapan ini menegaskan bahwa pendidikan sejatinya menyalakan daya pikir, bukan sekadar mengisi pengetahuan. 

Baca juga: Dapat Kabar Penghapusan Guru Honorer di Hardiknas, Ini Harapan Guru SMAN 1 Denpasar Bali

Sejalan dengan itu, “Intelligence plus character—that is the goal of true education.” Pendidikan, dengan demikian, tidak hanya menuntut kecerdasan, tetapi juga integritas.

Namun, arah pendidikan tinggi kita tampaknya 

bergerak menjauh dari cita-cita tersebut. Nilai mahasiswa membengkak, indeks prestasi meningkat, dan dengan dalih menjamin kelulusan mahasiswa tepat waktu. 

Di atas kertas, semuanya tampak baik-baik saja. Tetapi di balik itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah capaian tersebut benar-benar mencerminkan kompetensi?

Kita sedang menghadapi apa yang dapat disebut sebagai obesitas nilai, sebuah kondisi ketika nilai akademik kehilangan makna. 

Nilai bukan lagi cerminan capaian pembelajaran, melainkan sekadar formalitas administratif bagi mahasiswa. 

Demikian juga gelar akademik yang disandang, hanya untuk aksesori dan gengsi sosial. 

Hampir semua mahasiswa tampak unggul, tetapi dunia kerja justru semakin sering mempertanyakan kesiapan lulusan.

Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba. Dalam ekosistem pendidikan tinggi saat ini, standar akademik kerap dinegosiasikan. 

Dosen berada dalam tekanan evaluasi berbasis kepuasan mahasiswa, sementara institusi dibebani target akreditasi dan angka kelulusan. 

Di sisi lain, mahasiswa dan orang tua menginginkan hasil yang cepat dan pasti.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved