Opini
Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Ketika Integritas Akademik Tergerus Pragmatisme
Nilai bukan lagi cerminan capaian pembelajaran, melainkan sekadar formalitas administratif bagi mahasiswa.
Institusi pendidikan kehilangan kredibilitas, dan kepercayaan publik perlahan tergerus.
Lebih jauh lagi, yang dipertaruhkan adalah makna pendidikan itu sendiri.
Pendidikan tinggi seharusnya menjadi ruang pembentukan nalar, karakter, dan integritas.
Ketika ia berubah menjadi sekadar mekanisme produksi ijazah, maka fondasi masa depan ikut melemah.
Oleh karena itu, diperlukan keberanian untuk melakukan koreksi.
Perguruan tinggi perlu menegaskan kembali standar akademik yang berintegritas. Dosen harus didukung untuk melakukan penilaian secara objektif.
Pengawasan terhadap praktik kecurangan, termasuk industri jasa tugas, perlu diperkuat secara sistematis.
Mahasiswa pun perlu ditempatkan sebagai subjek pembelajar yang aktif. Proses belajar—dengan segala tantangan dan kemungkinan kegagalannya—merupakan bagian penting dalam pembentukan kapasitas intelektual.
Pada akhirnya, seperti diingatkan William Butler Yeats, "Pendidikan bukanlah tentang mengisi, melainkan menyalakan.
Tanpa komitmen pada integritas dan proses, nyala itu akan redup dan pendidikan tinggi akan kehilangan maknanya".
Selamat Hari Pendidikan Nasional, sebuah renungan bagi upaya mencerdaskan anak bangsa menuju Indonesia Emas.
Penulis: Dr. Putu Eva Ditayani Antari, S.H., M.H.
Akademisi Fakultas Hukum, Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS)
| KISAH Pilu Kakak Beradik Yatim Piatu di Bukit Tuntung, Juni & Agus Bertahan Hidup dari Uluran Tangan |
|
|---|
| ARYADUTA Bali Kenalkan Tren Pemotretan Pra-Pernikahan 2026: Inspirasi Ciptakan Kisah Cinta Berarti |
|
|---|
| DARI Karyawan ke Pengusaha Derek, Kisah Gus Adi Jeli Tangkap Peluang Usaha dan Berkembang Berkat BRI |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Refleksi-Hari-Pendidikan-Nasional-Ketika-Integritas-Akademik-Tergerus-Pragmatisme.jpg)