Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Opini

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Ketika Integritas Akademik Tergerus Pragmatisme

Nilai bukan lagi cerminan capaian pembelajaran, melainkan sekadar formalitas administratif bagi mahasiswa. 

Tayang:
Istimewa
Dr. Putu Eva Ditayani Antari, S.H., M.H. Akademisi Fakultas Hukum, Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS). Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Ketika Integritas Akademik Tergerus Pragmatisme 

Institusi pendidikan kehilangan kredibilitas, dan kepercayaan publik perlahan tergerus.

Lebih jauh lagi, yang dipertaruhkan adalah makna pendidikan itu sendiri. 

Pendidikan tinggi seharusnya menjadi ruang pembentukan nalar, karakter, dan integritas. 

Ketika ia berubah menjadi sekadar mekanisme produksi ijazah, maka fondasi masa depan ikut melemah. 

Oleh karena itu, diperlukan keberanian untuk melakukan koreksi. 

Perguruan tinggi perlu menegaskan kembali standar akademik yang berintegritas. Dosen harus didukung untuk melakukan penilaian secara objektif. 

Pengawasan terhadap praktik kecurangan, termasuk industri jasa tugas, perlu diperkuat secara sistematis.

Mahasiswa pun perlu ditempatkan sebagai subjek pembelajar yang aktif. Proses belajar—dengan segala tantangan dan kemungkinan kegagalannya—merupakan bagian penting dalam pembentukan kapasitas intelektual.

Pada akhirnya, seperti diingatkan William Butler Yeats, "Pendidikan bukanlah tentang mengisi, melainkan menyalakan. 

Tanpa komitmen pada integritas dan proses, nyala itu akan redup dan pendidikan tinggi akan kehilangan maknanya".

Selamat Hari Pendidikan Nasional, sebuah renungan bagi upaya mencerdaskan anak bangsa menuju Indonesia Emas.

Penulis: Dr. Putu Eva Ditayani Antari, S.H., M.H.
Akademisi Fakultas Hukum, Universitas Pendidikan Nasional (UNDIKNAS)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved