Citizen Journalism
Risiko Mata Minus saat Belajar Daring, Lakukan Hal Ini untuk Kesehatan Mata Anak
Ketika belajar online waktu melihat layar yang panjang akan memperparah ketegangan mata, menyebabkan mata menjadi lelah serta memperjarang proses berk
Penulis : dr. Dewa Ayu Ina Dianata, S. Ked
TRIBUN-BALI.COM - Untuk mengontrol angka penyebaran Covid 19, pembelajaran diberlakukan secara daring atau pembelajaran jarak jauh (pjj).
Proses pembelajaran ini diharapkan dapat melindungi anak-anak dari paparan virus.
Anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan pekerjaan jarak dekat seperti membaca, menulis atau melihat layer elektronik ditambah dengan penurunan waktu aktivitas di luar ruangan bisa lebih rentan terhadap kelainan mata minus atau miopia.
Miopia merupakan salah satu penyebab terbesar gangguan penglihatan pada anak dan bisa menjadi faktor resiko gangguan penglihatan lainnya di kemudian hari.
Penyakit miopia atau mata minus akan memberikan gejala kabur saat anak melihat jarak jauh namun melihat jelas dalam jarak yang dekat.
Miopia merupakan penyakit multifaktorial dimana bisa bersifat diturunkan dari orang tua ataupun tidak.
Gejala yang biasa dirasakan penderita adalah mata terasa tegang atau berat, nyeri kepala, sering menyipitkan mata untuk dapat melihat dengan jelas, dan pada anak sekolah akan ada kesulitan saat melihat papan tulis.
Ketika belajar online waktu melihat layar yang panjang akan memperparah ketegangan mata, menyebabkan mata menjadi lelah serta memperjarang proses berkedip sehingga mekanisme lubrikasi bola mata terganggu yang kemudian myebabkan mata kering.
Baca juga: Jika Pandemi Covid-19 Berakhir, Koster Bakal Lanjutkan Metode Belajar Mengajar Daring di Bali
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesahatan mata anak selama proses belajar daring antara lain :
1. Gunakan layar yang lebih besar dan diposisikan lebih jauh dari mata anak, Jarak monitor sepanjang ukuran lengan orang dewasa lebih baik dibanding jarak hp atau tablet yang ditempatkan dekat dengan wajah.
2. Hindari penggunaan layar elektronik saat tiduran karena dapat menyebabkan sakit leher dan punggung yang semakin mendekatkan layar ke mata anak-anak
3. Ikuti aturan 20-20-20. Istirahatkan mata tiap 20 menit. Arahkan mata untuk melihat objek yang jauh sekitar 20 kaki (± 6 meter), selama 20 detik.
4. Pergi keluar ruangan setidaknya 1 jam sehari. Olahraga ringan akan memberikan mata anak waktu istirahat, focus terhadap objek jauh, dan mendapatkan sinar matahari.
5. Mempersering berkedip untuk menjaga kelembababn mata.
6. Atur pencahayaan layar yang sesuai dengan pencahayaan ruangan serta meningkatkan kontras layar untuk menurunkan ketegangan mata.
7. Matikan layar 1 jam sebelum waktu tidur
8. Temui dokter mata untuk mencegah keterlambatan screening kelainan mata jika muncul gejala gangguan penglihatan pada anak. (*)