Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Afghanistan

Bandara Kabul Kisruh, Belanda Gagal Evakuasi Warganya dari Afghanistan

Belanda berencana menjemput hingga 1.000 pegawai kedutaan lokal, penerjemah dan keluarga mereka dari Afghanistan.

Editor: DionDBPutra
AFP/wakl kohsar
Sejumlah warga Afghanistan naik ke pesawat dan duduk di dekat pintu saat mereka menunggu di bandara Kabul, ibu kota Afghanistan, pada 16 Agustus 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, AMSTERDAM - Upaya evakuasi warga Belanda di Afghanistan pada Selasa malam 17 Agustus 2021 gagal karena kekisruhan yang terjadi di luar bandara Kabul tidak memungkinkan orang-orang masuk ke dalam pesawat.

Demikian diungkapkan Menteri Luar Negeri Belanda, Sigrid Kaag.

Belanda berencana menjemput hingga 1.000 pegawai kedutaan lokal, penerjemah dan keluarga mereka dari Afghanistan.

Namun, sebuah pesawat militer yang dioperasikan oleh Belanda bersama dengan negara Eropa utara lainnya meninggalkan Kabul tanpa penumpang menuju Belanda pada Selasa malam.

Baca juga: Taliban Berkuasa, Hotel-hotel di Kabul Takut Putar Musik, Akankah Afghanistan Kembali ke Masa Lalu?

Baca juga: UPDATE: Facebook dan TikTok Blokir Konten Terkait Taliban

"Mengerikan. Banyak yang berada di pintu masuk bandara beserta keluarga mereka," kata Kaag kepada Kantor Berita Belanda ANP.

Pasukan bersenjata AS yang mengamankan bandara tidak mengizinkan warga Afghanistan mengakses pintu masuk bahkan jika mereka mengantongi surat mandat yang sah.

Lagipula, lanjut Kaag, pesawat hanya mendarat di Kabul sekitar setengah jam.

"Semoga situasinya akan membaik pada Rabu 18 Agustus 2021. Kami sedang mencoba memahami situasi ini dan memastikan bahwa kami dapat mengevakuasi orang-orang yang ingin kami bawa pulang."

Sementara pesawat Lufthansa pertama yang membawa 130 orang dari Afghanistan mendarat di Frankfurt, Jerman, pada Rabu pagi 18 Agustus 2021.

Pesawat Airbus A340 itu mengangkut penumpang yang dibawa oleh pesawat Bundeswehr dari ibu kota Afghanistan, Kabul, menuju Tashkent, Uzbekistan.

Sebagai bagian dari upaya pemulangan via udara dalam koordinasi dengan pemerintah Jerman, penerbangan khusus selanjutnya dari Tashkent, Doha atau negara tetangga lainnya dalam beberapa hari ke depan akan mengevakuasi lebih banyak orang dari Afghanistan.

Jerman, yang memiliki kontingen militer terbesar kedua di Afghanistan setelah AS, ingin memboyong ribuan warga berkewarganegaraan ganda Jerman-Afghanistan, pegiat HAM, pengacara dan orang-orang yang bekerja dengan pasukan asing.

Setelah kemunculan foto-foto dramatis tentang orang-orang di bandara Kabul yang berupaya menyelamatkan diri setelah Kabul jatuh ke tangan Taliban, pasukan AS mengamankan bandara dan mulai melakukan evakuasi via udara untuk menerbangkan para diplomat dan warga sipil.

Pemerintah Jepang terus melakukan kontak erat dengan sejumlah kecil warganya yang masih berada di Afghanistan untuk memastikan keselamatan mereka setelah pasukan Taliban mengambil alih Kabul.

Demikian juru bicara pemerintah Jepang pada Rabu, 18 Agustus 2021.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved