Ibu Hamil Dengan HIV Atau Autoimun Juga Wajib Mendapat Vaksinasi Covid-19

Menurut Seksi Promkes Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ni Kadek Widiastuti ibu hamil memiliki sistem imunitas tubuh yang rendah

Pexels
Ilustrasi hamil. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Berdasarkan Surat Edaran KEMENKES RI nomor HK.02.02/I/2007/2021, tentang Vaksinasi Covid-19 bagi Ibu Hamil dan Penyesuaian Skrining dalam Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19, menyebutkan seluruh ibu hamil wajib mendapat vaksinasi covid-19.

Vaksin Covid-19 untuk ibu hamil juga termasuk yang sedang mengidap HIV atau penyakit autoimun.

Menurut Seksi Promkes Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ni Kadek Widiastuti ibu hamil memiliki sistem imunitas tubuh yang rendah, sehingga lebih rentan untuk mengidap penyakit atau infeksi.

"Karena kondisi tersebut, maka resiko ibu hamil wajib mendapat vaksinasi covid-19, termaauk mereka yang sedang mengidap HIV atau penyakit autoimun lainnya. Namun demikian, bagi ibu hamil yang sedang mengidap HIV atau penyakit autoimun, bisa mendapatkan vaksinasi namun harus dalam kondisi terkontrol dan dapat persetujuan dokter," katanya pada, Kamis 26 Agustus 2021. 

Ia mengatakan hal tersebut dilakukan agar kondisi ibu hamil bisa dikontrol dan jika ada risiko alergi supaya bisa ditangani lebih cepat.

Selain harus sepengetahuan dokter yang merawat, proses skrining terhadap sasaran ibu hamil harus dilakukan secara rinci dan teliti.

Karena pada proses ini akan menentukan apakah ibu hamil dengan HIV atau penyakit autoimun dan penyakit launnya layak menerima vaksinasi atau tidak.

Meskipun demikian, pemberian vaksin Covid-19 tidak melindungi ibu hamil sepenuhnya dari virus Corona.

"Ibu hamil tetap perlu menjalani protokol kesehatan selama pandemi ini masih berlangsung, agar risiko ibu hamil untuk terkena Covid-19 dapat ditekan seminimal mungkin. Selain ibu hamil pengidap HIV, ada beberapa kelompok ibu hamil yang juga harus mendapatkan pengawasan ketat pasca vaksinasi," lanjutnya.

Seperti contohnya, ibu hamil yang sedang mendapat pengobatan untuk gangguan pembekuan darah, kelainan darah, defisiensi imun, penerima tranfusi darah, mendapat pengobatan kortikosteroid atau kemoterapi, ibu hamil dengan penyakit jantung, asma, DM, penyakit paru, hipertiroid, ginjal kronik.

Lalu untuk ibu yang sedang menyusui, Widiastuti mengatakan juga dapat menerima vaksinasi karena secara bilogis, menyusui tidak menimbulkan risiko bagi bayi dan anak yang menyusu, serta bayi dan anak yang menerima ASI perah.

"Justru antibodi yang dimiliki ibu setelah vaksinasi dapat memproteksi bayi melalui ASI. Pelaksanaan vaksinasi bagi ibu hamil dan menyusui menggunakan tiga jenis vaksin yaitu vaksin Covid-19 platform mRNA Pfizer dan Moderna serta vaksin platform inactivated virus Sinovac, sesuai ketersediaan. Pemberian dosis pertama vaksinasi dimulai pada trimester kedua kehamilan dan untuk pemberian dosis kedua dilakukan sesuai dengan interval dari jenis vaksi," tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved