Serba serbi

Jangan Memetik Padi Hingga Tidur Siang, Ini Pantangan Soma Ribek

Setelah Hari Suci Saraswati dan banyu pinaruh, dikenal pula hari suci Soma Ribek, yang jatuh pada Senin, 30 Agustus 2021.

ist/doc Jero Mangku Ketut Maliarsa
Lukisan Dewi Sri/Dewi Laksmi perlambang dewi pelimpah kesejahteraan, kesuburan dan rezeki. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setelah Hari Suci Saraswati dan banyu pinaruh, dikenal pula hari suci Soma Ribek, yang jatuh pada Senin, 30 Agustus 2021.

"Hari suci ini merupakan hari yang sangat dirayakan dengan benar dan tulus ikhlas oleh para umat Hindu di Bali," jelas Jero Mangku Ketut Maliarsa kepada Tribun Bali

Baca juga: Hari Raya Soma Ribek, Pemujaan untuk Sang Hyang Sri Amerta, Ada Keyakinan Tak Boleh Tidur Siang

Hal ini dikatakan demikian, sebab hari suci yang jatuh hari Senin Pon Sinta tersebut merupakan hari yang sangat bermakna bagi umat Hindu dengan perayaan sebagai wujud rasa bersyukur.

"Atau dalam bahasa Bali disebut angayu bagia kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang maprebhawa Tri Pramana yaitu Dewi Sri, Sadhana, dan Dewi Saraswati," sebutnya. 

Baca juga: Malam Puncak Sastra Saraswati Sewana, Kembali ke Akar, Kesadaran, dan Kemanusiaan

Prabawa Tuhan Yang Maha Esa inilah, yang menurunkan dan menganugerahkan kesejahteraan, kemakmuran, dan jagadhita berupa bahan pangan pokok padi atau beras dan bahan pangan lainnya sebagai sumber kehidupan umat manusia pada umumnya, dan umat Hindu pada khususnya.

"Pada saat ini (Soma Ribek) juga diyakini oleh umat Hindu merupakan beryoganya Sang Hyang Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu dan Iswara (Siwa)."

"Sehingga para umat Hindu ada kewajiban mempersembahkan sesajen sebagai wujud rasa terima kasih atas kemurahan Ida Bhatara Sri Amerta yang telah melimpahkan rahmatnya  pada umatnya sehingga mencapai shanti lan jagadhita," jelas pemangku Pura Campuhan Windhu Segara ini. 

Baca juga: Hari Suci Tepat Pada Saniscara Umanis Watugunung, Mitologi Saraswati dan Hakekat Kebodohan

Upacara dan upakara dipersembahkan di tempat -tempat menyimpan bahan pokok, seperti tempat menyimpan beras atau dalam bahasa Bali disebut pulu. 

Lalu tempat menyimpan padi disebut lumbung atau jineng, dan lain sebagainya.

"Ada pantangan yang sangat diyakini oleh umat Hindu dan tidak boleh dilanggar, karena bisa berakibat buruk misalnya tidak boleh memetik padi, tidak boleh menjual beras, bahkan tidak boleh menumbuk padi," tegasnya.

Sebab hari suci ini sangat dikeramatkan sebagai hari pemujaan Bhatara Sri Amerta. Lanjutnya, Soma Pon Sinta dikatakan Soma Ribek, karena hari puja walinya Sang Hyang Sri Amerta, dengan tempat menghaturkan persembahannya di lumbung.

"Di samping itu juga umat Hindu tidak boleh tidur di siang hari  pada perayaan hari suci ini, karena pada siang hari merupakan waktu beryoganya Sang Hyang Pramesti Guru," sebutnya. (*)

Artikel lainnya di Serba serbi

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved