Liga Italia
Karir Jordan Veretout Ambyar Bersama Aston Villa, Ciamik Bersama AS Roma dan Mourinho
Catatan menarik pernah terjadi pada bursa transfer musim panas 2015 silam, ketika Aston Villa bersama Tim Sherwood tengah mencari satu pemain yang
TRIBUN-BALI.COM – Catatan menarik pernah terjadi pada bursa transfer musim panas 2015 silam, ketika Aston Villa bersama Tim Sherwood tengah mencari satu pemain yang siap diplot sebagai gelandang serang.
Ambisi untuk mendatangkan gelandang serang bertalenta karena Aston Villa kala itu ingin menargetkan lolos ke zona Liga Eropa.
Pada momen yang sama pelatih asal Italia, Claudio Ranieri yang membesut Leicester City juga mengincar pemain di posisi yang sama.
Lebih menarik lagi, scout talent yang disebarkan kedua tim ternyata merekomendasikan nama yang sama untuk diboyong.
Kedua pemain dimaksud adalah NGolo Kante dan Jordan Veretout.
Nama tereakhir lebih menjadi masuk akal dan dibidik oleh kedua tim, dan akhirnya ia memilih gabung ke Aston Villa, sementara Leicester kalah bersaing melabuhkan Kante.
Ironisnya di akhir musim, Kante sukses mengangkat gelar juara Liga Inggris, sementara Veretout menjadi saksi timnya turun kasta ke Championship Division.
Baca juga: Kisah Franck Kessie, Bermula Ujicoba Kepepet Drago Kini Menjelma Jadi Pemain Komplit di AC Milan
Baca juga: Juventus Vs AC Milan di Liga Italia, Allegri Minta Skuad Jaga Momentum Kebangkitan Nyonya Tua
Beralih ke momen saat ini, Veretout rupanya lebih berhati-hati ketika memilih tim yang dibelanya.
Bersama AS Roma, Veretout menjadi buah bibir dengan sejauh ini mengemas tiga gol, termasuk brace-nya di laga melawan Fiorentina.
Jordan Veretout bukan hanya gelandang klasik dengan stamina luar biasa, atau biasa disebut sebagai pemain dengan tujuh paru-paru.
Ia masuk dalam kelas '93 di sepakbola Prancis, yang menjadi pondasi Timnas Prancis U-20 yang memenangkan Piala Dunia U-20 tahun 2013 di Turki.
Saat itu, Prancis diisi dengan gelandang-gelandang kelas dunia, mulai dari Mario Lemina, Kondogbia dan tentu saja Paul Pogba.
Veretout mendapatkan sorotan khusus, Zidane memujinya sebagai pemain dengan 'keseimbangan otak dan otot' dan bakatnya sempat diperebutkan oleh Barcelona dan Real Madrid.
Kedua raksasa Spanyol ini ingin mendatangkan sang pemain ketika masih berada di akademi Nantes, tetapi minat kedua klub tersebut tidak direspon oleh Nantes.
Nantes paham bahwa bakat mentah dari Veretout akan lebih menjajikan di masa depan, dan keputusan tersebut memang tepat.
Ia kemudian dijual ke Aston Villa dengan harga 7 Juta Euro, tetapi mengalami masa kelam selama bergabung dengan tim asal Birmingham tersebut.
Melihat timnya degradasi di akhir musim 2016, ia kemudian dipinjamkan ke Saint-Etienne, menariknya, ketika kembali dari masa peminjamannya, Veretout disingkirkan dari Aston Villa.
Steve Bruce yang menjadi pelatih Aston Villa meminta Tony Xia menjualnya karena tidak masuk dalam rencana permainan, dan akhirnya bergabung dengan Fiorentina pada 2017.
Beruntung bagi Veretout, ia bertemu dengan Stefano Pioli, yang masih sangat yakin dengan kemampuannya di lini tengah.
Veretout diroyeksikan menggantikan Borja Valero yang bergabung ke Inter Milan, Pioli menempatkan Veretout menjadi sosok penting dengan sang kapten Davide Astori.
Duet ini terbukti ampuh, berisikan banyak pemain muda, La Viola menjanjikan di awal musim, duetnya bersama Davide Astori menjadi motor dan mentor bagi para pemain muda.
Fiorentina saat itu berisi banyak pemain yang masih sangat hijau, mulai dari Federico Chiesa, Giovanni Simeone hingga Nikola Milenkovic.
La Viola menjadi tim yang mengejutkan, mereka nyaris finish di zona Eropa sebelum kehabisan bahan bakar jelang akhir musim dan berada di posisi ke-8.
Ini tidak lepas dari meninggalnya Davide Astori pada April 2018, sebelum melawan Udinese.
Menariknya, kalimat terakhir dan candaan untuk rekan-rekannya di Fiorentina adalah memuji Veretout.
"Jordan, anda berkembang di Italia, dan besok dunia akan menyaksikanmu," ujar Veretout di wawancara bersama L'Equipe.
Benar saja, banyak yang mengantri mendatangkan sang pemain, mulai dari AC Milan hingga Everton, bahkan Milan sejatinya punya peluang besar mendatangkan sang pemain.
Veretout adalah rekomendasi Moncanda untuk didatangkan, Milan sudah menyiapkan dana 10 Juta Euro untuk Veretout, sedangkan Fiorentina meminta 20 Juta Euro.
Milan ngotot dan menaikkan tawaran sebesar 15 Juta Euro, Fiorentina tetap kukuh, sebelum akhirnya AS Roma datang dan mengajukan tawaran 18 Juta Euro yang disetujui keduanya.
Veretout bergabung secara pinjaman terlebih dahulu, sebelum dipermanenkan musim lalu, dan kini di bawah Jose Mourinho, ia mengunci satu tempat di lini tengah dan berduet dengan Bryan Cristante.
Cara bermain Veretout memang unik, ia punya kemampuan membawa bola dan umpan yang sangat baik, bahkan ekeskusinya juga istimewa sebagai gelandang.
Sejauh ini, ia mengemas 8 asis dan mencetak 21 gol dalam 87 penampilan di semua ajang untuk AS Roma.
Menariknya, ia juga punya peringai yang keras dan tegas di lapangan, ia tidak segan beradu fisik dengan pemain lawan, dan memiliki akurasi tackle yang luar biasa.
Baca juga: Grande Partita Liga Italia Juventus vs AC Milan, 2 Pemain Ini Pulih, Allegri Siapkan Formasi 4-3-3
Baca juga: Update Hasil dan Klasemen Liga Italia 2021-2022, AS Roma Berada di Puncak
Data dari Whoscored, akurasinya tackle suksesnya 82 persen, dan hanya kalah dari Gianluca Mancini di AS Roma.
Permainannya dianggap mirip dengan pemain keturunan Indonesia, Radja Nainggolan yang sempat menjadi pujaan di AS Roma.
"Veretout seperti Nainggolan? Dia masih bisa berkembang pesat, tapi katakanlah dia sangat dekat dengannya", ujar Stefano Pioli saat masih di Fiorentina.
Ironisnya, karena persaingan di lini tengah Prancis, ia jarang dipanggil untuk masuk ke Timnas, alasan lainnya karena perselisihan Veretout dengan Dominique Rocheteau selaku direktur teknis Timnas Prancis.
Namun, kini ketegangan tersebut mereda, ia mendapatkan panggilan perdana bersama Timnas Prancis pada Agustus, dan mencatatkan debutnya dalam laga melawan Bosnia di Kualifikasi Piala Dunia 2022.
Kini bersama Jose Mourinho, Veretout bak bunga yang mekar dan siap untuk menjadi mesin di lini tengah AS Roma.
Veretout bahkan memuji Jose Mourinho sebagai pelatih yang sangat supportif.
"Hubungan dengan Mourinho sangat baik. Kami bekerja keras dan di saat yang sama, kami sering bercanda di waktu yang tepat," kata Veretout seperti dilansir Football Italia.
Dan bukan tidak mungkin Veretout akhirnya memberikan Scudetto pertama bagi Serigala Ibu Kota pada akhir musim, gelar yang diimpikan selama lebih dari dua dekade.
(Tribunnews.com/Gigih)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Jordan Veretout, Mesin AS Roma, Replikasi Radja Nainggolan, Diselamatkan Pioli & Wasiat Astori
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/penyerang-inggris-as-roma-tammy-abraham.jpg)