Breaking News:

Berita Denpasar

Kasatpol PP Denpasar: Para Gepeng Sering Diberikan Pekerjaan, Namun Malah Kabur Dari Tempat Kerja

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar, Dewa Gede Anom Sayoga, menampik pihaknya tak memberikan solusi

Tribun Bali/Putu Supartika
Pengamen berpakaian adat Bali yang diamankan Satpol PP Denpasar - Kasatpol PP Denpasar : Para Gepeng Sering Diberikan Pekerjaan, Namun Malah Kabur Dari Tempat Kerja 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar, Dewa Gede Anom Sayoga, menampik pihaknya tak memberikan solusi saat menertibkan gelandang pengemis dan pengamen di seputaran jalanan Kota Denpasar, Bali.

Memang Ibu kota Provinsi Bali ini sering dijadikan lahan pelaku gelandangan, pengemis, pengamen atau usaha sejenis lainnya dalam meraup keuntungan dari hasil meminta-minta.

Satpol PP kerap membahas masalah sosial tersebut dengan seluruh pihak berbagai institusi kedinasan yang menaungi persoalan tersebut.

Bahkan, Dewa menuturkan, pihaknya juga menyalurkan dan memfasilitasi pekerjaan bagi para gepeng dan pengamen yang terjaring razia, namun justru malah pergi dari tempat kerja dan tidak melanjutkannya.

Baca juga: Penertiban Tak Selesaikan Masalah, KPPAD Bali Soroti Pengamen Anak Pakaian Adat

"Gepeng ini masalah sosial yang akhirnya mengganggu ketertiban umum ini, munculnya sudah dari dulu sudah ada, bahkan sebelum pandemi Covid-19, sudah muncul di Kota Denpasar, hal ini sudah sering dibahas dan komunikasikan, dari tempat binaan kita sudah banyak kita coba carikan pola memfasilitasi menyalurkan pekerjaan sudah dilakukan hingga memberikan konseling," ujar Dewa kepada Tribun Bali, Minggu 3 Oktober 2021.

"Ada yang disalurkan bekerja di Yayasan, sekolah pasar, tempat makan, tenaga kebersihan, gardener atau perawat kebun, asisten rumah tangga dan lain-lain, namun dari laporan yang kita titipkan itu pada kabur pergi tidak melanjutkan pekerjaan diberikan, kita juga melihat dari latar belakang pendidikan dalam memberikan pekerjaan, namun mereka lebih memilih meminta-minta dibanding penghasilan dari bekerja, mereka 2-3 jam dari meminta-minta bisa dapat sekitar Rp 100 ribu," paparnya.

Terkait pengamen berbusana adat Bali yang berada di traffic light sejumlah titik kawasan di Kota Denpasar dan sekitarnya, diakui Dewa tidak semua berasal dari Bali, namun ada pula yang dari luar Bali, style tersebut merupakan bagian dari modus operandi para gepeng.

"Dari data tidak semua pengamen berbusana Bali itu orang Bali, tapi ada juga orang luar Bali, itu modus operasional atau cara mereka menarik simpati dan empati warga, ada manusia perak, manusia badut, muncul lagi dengan busana adat Bali, yang awalnya dulu anak punk," tandasnya. (*).

Baca juga: Banyak Pengamen-Gepeng Disalurkan Jadi ART, Satpol PP Denpasar: Mereka Minggat, Kembali ke Jalanan

Kumpulan Artikel Denpasar

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved