Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Corona di Dunia

Israel Deteksi Covid-19 Menggunakan Air Liur, Hasilnya Bisa Diketahui dalam 45 Menit

Demikian pernyataan bersama kementerian kesehatan, Universitas Bar Ilan (BIU) dan kementerian pertahanan pada Kamis 7 Oktober 2021.

Tayang:
Editor: DionDBPutra
AFP/SAEED KHAN
Orang-orang tiba di lokasi tempat pelaksanaan vaksinasi Covid-19 massal di Sydney Australia, 18 Agustus 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, YERUSALEM - Israel mulai melakukan tes untuk mendeteksi Covid-19 menggunakan saliva atau air liur.

Demikian pernyataan bersama kementerian kesehatan, Universitas Bar Ilan (BIU) dan kementerian pertahanan pada Kamis 7 Oktober 2021.

Pengambilan sampel dilakukan di kompleks pengujian di kota pesisir Tel Aviv dan merupakan bagian dari program percontohan dua pekan untuk memvalidasi tes saliva.

Baca juga: Peneliti Israel: Vaksin Dosis Ketiga Menambah Imunitas 10 Kali Lipat

Baca juga: Australia Akan Hentikan Bantuan Uang Tunai Bagi Warga Terdampak Covid-19

Ratusan orang dari berbagai usia akan dites dengan tes usap PCR saliva dan tes standar untuk membandingkan hasil serta kenyamanan dan keamanan pengambil sampel air liur.

Tes saliva digunakan dalam uji coba yang dikembangkan oleh BIU dan berhasil diuji di sebuah laboratorium dengan kinerja dan sensitivitas yang sama dengan tes usap PCR standar.

Hasil tes saliva akan diketahui sekitar 45 menit setelah sampel diambil, bukan berjam-jam seperti tes usap biasa.

Program tersebut termasuk dalam upaya bersama untuk mengidentifikasi dan mengembangkan teknologi baru sebagai bagian dari penanganan virus berskala nasional.

Upaya ini dipimpin oleh unit Layanan Kesehatan Israel di kementerian kesehatan, yang berperan memberikan inovasi layanan kesehatan, dan Badan Pengembangan Persenjataan dan Infrastruktur Teknologi (MAFAT) di kementerian pertahanan.

Lansia 70 tahun ke atas dapat booster

Dari Berlin dilaporkan, komite penasihat vaksin Jerman menyarankan agar lansia 70 tahun ke atas dan staf medis yang berinteraksi dengan pasien mendapatkan vaksin booster (penguat).

Saran itu dikeluarkan kendati saat sistem kesehatan negara telah memvaksinasi lansia 65 tahun ke atas dengan dosis ketiga.

Panel pakar tersebut, STIKO, mengatakan suntikan ulang vaksin mRNA Pfizer-BioNTech atau Moderna harus diberikan minimal enam bulan sesudah dosis standar awal.

"Perlindungan vaksin menurun seiring berjalannya waktu, terutama dalam hal pencegahan infeksi tanpa gejala dan bentuk penyakit ringan. Dengan bertambahnya usia, respons imun pascavaksinasi secara menyeluruh menjadi lebih lemah dan infeksi yang menerobos dapat lebih sering menyebabkan penyakit parah," kata STIKO Kamis 7 Oktober 2021.

Semua penerima vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson harus menerima vaksin booster minimal empat pekan setelah dosis awal sebab tingkat infeksi pada orang-orang yang disuntik vaksin J&J merupakan yang tertinggi di antara vaksin penerima vaksin-vaksin resmi lainnya, kata panel tersebut.

Otoritas layanan kesehatan masyarakat tidak menunggu pernyataan para ahli.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved