Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

China

Kecerdasan Buatan China Sudah Jauh Mengungguli Amerika Serikat

Dia melukiskan kemampuan pertahanan siber AS di beberapa departemen pemerintah berada di level taman kanak-kanak bila dibandingan dengan China.

Tayang:
Editor: DionDBPutra
KOMPAS.COM
Ilustrasi kecerdasan buatan atau AI. Menurut mantan pejabat Pentagon, China sudah jauh mengungguli AS dalam hal pertahanan siber. 

TRIBUN-BALI.COM,LONDON - Kemajuan yang dicapai China luar biasa. Mantan pejabat pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, menilai China sudah jauh mengungguli AS.

Dia melukiskan kemampuan pertahanan siber AS di beberapa departemen pemerintah berada di level taman kanak-kanak bila dibandingan dengan China.

Mantan kepala bagian perangkat lunak (software) Pentagon, Nicolas Chaillan, mengaku bahwa China jauh lebih unggul di bidang kecerdasan buatan (AI) dibandingkan dengan AS.

Baca juga: Indonesia di Posisi 54 Dunia Terbaik Penanganan Covid-19, China Melorot dari Teratas

Baca juga: Pengamat Menilai Ada Kesalahan Pentagon yang Menyebabkan Taliban Dengan Cepat Kuasai Afghanistan

"Kita tidak punya peluang untuk bersaing melawan China dalam 15 sampai 20 tahun ke depan,” kata Chaillan dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, surat kabar bisnis yang berbasis di London, Inggris.

Melansir DW Indonesia pada Rabu 13 Oktober 2021, Chaillan menyebut situasi saat ini sudah tak bisa ditawar lagi. "Persaingan antara China dan AS sudah berakhir,” katanya.

Mengutip Financial Times, Chaillan memperkirakan, China saat ini sedang bergerak mendominasi dunia karena kemajuannya di bidang kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan kemampuan siber.

Chaillan mengeritik kemampuan pertahanan siber AS di beberapa departemen pemerintah yang ia sebut masih berada di level "taman kanak-kanak”.

Wawancara Chaillan dengan Financial Times merupakan yang pertama sejak ia mundur dari jabatannya di Pentagon.

Pengunduran dirinya merupakan bentuk protes terhadap lambatnya perubahan teknologi di tubuh pemerintahan AS, khususnya di bidang militer.

Pada bulan Juni lalu, Senat AS telah menyetujui UU Inovasi dan Persaingan Amerika Serikat untuk meningkatkan produksi semikonduktor dalam negeri, pengembangan kecerdasan buatan, dan teknologi lainnya.

Suntikan dana sekitar 250 miliar dollar AS (Rp 3,5 kuadriliun) untuk diinvestasikan dalam 5 tahun ke depan dipandang secara luas sebagai uang tunai yang memang sangat dibutuhkan dalam perlombaan inovasi teknologi melawan China.

Presiden AS Joe Biden setelah pengesahan UU itu bahkan mengatakan, "AS berada dalam kompetisi untuk memenangkan abad ke-21 dan senjata awal telah dikeluarkan.”

Namun komite urusan luar negeri Kongres Rakyat China dalam sebuah pernyataan mengatakan, UU baru AS tersebut "merongrong pembangunan China” dan "menganggu urusan dalam negeri China di bawah panji inovasi dan persaingan.”

Seberapa pentingkah teknologi kecerdasan buatan? Para pejabat tinggi dunia semakin menaruh perhatian terhadap perkembangan kecerdasan buatan dan ancaman yang mungkin ditimbulkannya di masa depan.

Seperti pada medio September 2021 lalu, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet menekankan, ada kebutuhan mendesak terkait moratorium penjualan dan penggunaan sistem kecerdasan buatan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved