Berita Denpasar

Pembukaan Pariwisata Internasional di Bali, Ekonom Celios: Bisa Tingkatkan Okupansi Hingga 60 Persen

Pembukaan pariwisata internasional di Bali merupakan momentum untuk recovery bagi sektor pariwisata Bali.

Tribun Bali/Rizal Fanany
ILUSTRASI- Sejumlah wisatawan tengah menikmati Pantai Melasti, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Rabu (21/10/2020) lalu 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Pembukaan pariwisata internasional di Bali merupakan momentum untuk recovery bagi sektor pariwisata Bali.

Terlebih sudah banyak masyarakat Indonesia dan luar negeri yang tidak betah untuk diam di rumah saja. 

Director Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menerangkan selama pandemi, mereka menghemat dengan tidak bepergian ke luar rumah.

Dana yang mereka simpan selama ini, khususnya bagi masyarakat ekonomi kelas menengah keatas akan dipergunakan untuk liburan.

“Jadi, ini akan ada booming kembali di sektor pariwisata. Adanya pelonggaran ini diharapkan bisa mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali. Di Agustus 2021 memang masih ada koreksi. Nah dengan adanya pembukaan ini proyeksinya sudah mulai ada perbaikan. Jadi kontraksinya tidak dalam, tidak sampai 20 persen,” ungkapnya pada, Kamis 14 Oktober 2021. 

Lebih lanjut ia mengatakan puncak kedatangan pengunjung ke Bali ada di musim Natal dan tahun baru yang mana merupakan liburan puncak di negara-negara lain khususnya di Eropa, Jepang, Amerika.

Hal ini, kata dia, akan memicu terjadinya pemulihan.

Jadi, mulai beralih, perkiraannya walaupun terjadi penurunannya sangat kecil, kurang dari 2 sampai 3 persen di Desember 2021 secara year on year (YoY).

Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, bila dibandingkan dengan kondisi di bulan Juli 2021 serta Agustus 2020, kondisi kedatangan wisman ke Bali di bulan Agustus 2021 menunjukkan penurunan sedalam 100 persen.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Bali pada bulan Agustus 2021 yang tercatat turun 0,46 poin atau sebesar 4,77 persen secara month to month (mtm) dibandingkan dengan TPK bulan Juli 2021 yang tercatat sebesar 5,23 persen.

Tahun 2022 jika pembukaan pariwisata internasional berlangsung sukses, maka kunjungan wisman ke Bali akan kembali mengalami kenaikan.

Bahkan, diperkirakan akan tumbuh positif. 

“Dan untuk tingkat hunian kamar sekarang kan kisaran di 25 persen, artinya 25 persen hotel berbintang terisi. Dan dengan adanya pelonggaran ini saya kira dari wisdom dan wisman yang masuk akan bisa meningkatkan okupansi, bahkan bisa kembali ke 50 atau 60 persen. Khususnya di tempat-tempat destinasi wisata,” tambahnya.

Efeknya dari pembukaan pariwisata internasional ini, mulai dari sektor pariwisata, sektor transportasi, dan sektor lainnya akan mulai mengalami perbaikan. T

erutama, hal tersebut akan menguntungkan pada belanja pelaku usaha UMKM yang berada di sekitar destinasi wisata di Bali.

Khususnya untuk UMKM oleh-oleh, souvenir, pakaian jadi, dan warung-warung kecil di sekitar lokasi wisata.

Namun, pihaknya menegaskan, agar pemerintah tetap perlu menjaga protokol kesehatan di tempat wisata yang berisiko menimbulkan kerumunan.

Serta, memastikan vaksinasi dua dosis bagi seluruh pekerja di sektor pariwisata sampai akhir tahun ini. 

Baca juga: Pengetatan PPKM Mikro di Bali Berdampak ke Perekonomian, Bhima: Kita Perlu Belajar dari China

Baca juga: Cegah Persaingan Tak Sehat Ekonomi Digital, Kementerian Perdagangan Siapkan Aturan

Baca juga: Ketahui 10 Hal yang Sebaiknya Tak Dilakukan di Coffee Shop, Salah Satunya Memonopoli Kursi

Baca juga: Latihan Dengan Fasilitas Seadanya, Made Eppi Tak Menyangka Bisa Rebut Medali Emas

“Soal bantuan juga tetap perlu disalurkan karena meski ada pelonggaran pariwisata, ada kelompok pekerja yang butuh bantuan pemerintah. Misalnya pekerja yang belum mendapat panggilan kerja lagi pasca dirumahkan,” tutupnya. (*) 

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved