Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Tips Kesehatan

Proses Hemodialisa dan Kapan Penderita Penyakit Ginjal Harus Cuci Darah

Gagal ginjal stadium akhir adalah kondisi ketika penderita penyakit ginjal mengalami kehilangan sekitar 85-90 persen fungsi ginjal

tribun bali/dwisuputra
grafis cuci darah 

TRIBUN-BALI.COM – Ketika diagnosis mengalami penyakit ginjal, seseorang sangat mungkin merasa akan khawatir jika harus menjalani terapi cuci darah atau hemodialisis.

Bagaimana tidak, terapi cuci darah bukan hanya menyita tenaga, tapi juga bisa menyita waktu, pikiran, dan keuangan.

Padahal sebenarnya penderita penyakit ginjal tidak selalu membutuhkan perawatan hemodialisis.

Lantas, kapan penderita penyakit ginjal harus cuci darah?

Baca juga: Termasuk Urine Keruh, Ini Ciri-ciri Penyakit Ginjal Stadium Awal, Waspadai Gejalanya

Melansir National Kidney Foundation, penderita penyakit ginjal pada umumnya baru memerlukan perawatan cuci darah ketika didiagnosis sudah mengalami gagal ginjal stadium akhir atau stadium 5.

Gagal ginjal stadium akhir adalah kondisi ketika penderita penyakit ginjal mengalami kehilangan sekitar 85-90 persen fungsi ginjal dan memiliki perkiraan laju filtrasi glomerulus (eGFR) kurang dari 15 ml/menit/1,73 m2.

eGFR adalah tes terbaik untuk mengukur tingkat fungsi ginjal dan menentukan stadium penyakit ginjal seseorang. Dokter dapat menghitung eGFR dari hasil tes kreatinin darah pasien, usia pasien, ukuran tubuh pasien, dan jenis kelamin pasien.

GFR dapat memberi tahu dokter stadium penyakit ginjal yang dialami pasien dan membantu dokter merencanakan perawatan terbaik. Jika angka GFR pasien rendah, ginjalnya berarti sudah tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya.

Baca juga: Ketahui 6 Risiko Penyakit Ginjal, Diabetes Salah Satunya

Gejala penyakit ginjal stadium akhir

Dilansir dari American Kidney Fund, pada penyakit ginjal kronis stadium 5, ketika ginjal bekerja pada kapasitas kurang dari 15 persen, limbah dan racun akan menumpuk dalam darah. Kondisi ini bisa mengancam jiwa. Berikut ini adalah beberapa gejala penyakit ginjal stadium akhir atau gagal ginjal yang bisa terjadi:

  • Sakit punggung dan dada
  • Masalah pernapasan
  • Ketajaman mental menurun
  • Kelelahan
  • Sedikit atau tidak ada nafsu makan
  • Otot berkedut atau kram
  • Mual atau muntah
  • Gatal terus menerus
  • Susah tidur Kelemahan parah Pembengkakan pada tangan dan kaki
  • Buang air kecil lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya

Siapa saja yang mengalami gejala di atas atau mencurigai diri mengalami gejala penyakit ginjal penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Ketahuilah bahwa semakin dini penyakit ginjal terdeteksi, maka kian baik untuk memperlambat atau menghentikan perkembangannya.

Pada penderita penyakit ginjal stadium akhir, risiko untuk mengalami penyakit jantung dan stroke bisa semakin meningkat.

Bagaimana proses curi darah?

Secara mudah, cuci darah dapat dipahami sebagai perawatan untuk menggantikan fungsi ginjal dengan menggunakan ginjal buatan.

Mesin ginjal buatan (hemodializer) berfungsi membuang limbah, bahan kimia, dan kelebihan cairan tubuh. Cuci darah dapat menjaga keseimbangan tubuh dengan cara:

  • Menyaring limbah, garam, dan kelebihan air untuk mencegah zat tersebut menumpuk di dalam tubuh
  • Menjaga tubuh dari penumpukan bahan kimia tertentu dalam darah seperti kalium, natrium, dan bikarbonat
  • Mengontrol tekanan darah 

Cuci darah ini dapat dilakukan di rumah sakit atau penyedia jasa dialisis. Proses cuci darah dilakukan dengan cara darah penderita dimasukkan ke mesin ginjal buatan, dibersihkan, lalu dikembalikan ke dalam tubuh.

Baca juga: Gagal Ginjal Pada Usia Muda, Ketahui Penyebabnya

Untuk memasukkan darah ke dalam ginjal buatan, dokter perlu membuat akses (pintu masuk) ke dalam pembuluh darah. Pembuatan akses ini memerlukan operasi kecil pada lengan atau kaki penderitanya.

Terkadang, akses dibuat dengan menghubungkan arteri ke vena di bawah kulit. Tujuannya untuk membuat pembuluh darah dengan ukuran lebih besar yang disebut fistula.

Namun, jika pembuluh darah tidak cukup untuk fistula, dokter akan menggunakan tabung plastik lembut untuk menghubungkan arteri dan vena di bawah kulit pasien. Prosedur ini disebut cangkok.

Ada juga pembuatan akses darah menggunakan selang plastik yang disebut kateter. Kateter dimasukkan ke dalam pembuluh darah besar di leher penderitanya. Selama cuci darah, penderita akan disarankan duduk atau berbaring dalam posisi nyaman.

Dokter atau petugas kesehatan lainnya lalu memasang jarum ke akses keluar masuk darah. Pompa di mesin cuci darah kemudian mengeluarkan darah dari tubuh, dan menyaring limbah sampai kelebihan cairan dari tubuh.

Oleh mesin, darah yang sudah bersih lalu dimasukkan kembali ke tubuh lewat akses utama. Lamanya proses cuci darah bisa berbeda-beda pada setiap penderita penyakit ginjal, tergantung kondisi kesehatan masing-masing.

Ada pasien yang harus menjalani cuci darah tiga sampai lima jam sekali perawatan. Intensitasnya juga berlainan, ada yang sampai dua kali dalam seminggu, ada juga yang tiga kali seminggu.

Cuci darah ini banyak diberikan kepada penderita dengan tanda penyakit ginjal sudah mencapai stadium akhir atau gagal ginjal.

Cuci darah bisa permanen atau sementara, tergantung kondisi ginjal dan kesehatan penderitanya. Jika kondisi penyakit ginjal membaik setelah pengobatan, cuci darah tidak perlu dilanjutkan.

Tapi, jika kondisi gagal ginjal kronis atau memasuki stadium akhir, penderita biasanya memerlukan cuci darah seumur hidup.

(Kompas.com/Irawan Sapto Adhi)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kapan Penderita Penyakit Ginjal Harus Cuci Darah?

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved