Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bocah 12 Tahun Berhasil Kabur dari Sekapan Penculik, tapi Tas Sekolahnya Tertinggal

IM tidak dapat mengingat lebih jauh ciri-ciri para pelaku, apalagi sampai mengingat raut wajah ketiganya saat itu.

Editor: Bambang Wiyono
surya.co.id/luhur pambudi
Nur Paini (54) ibunda IM (12) bocah kelas 6 SD di Kota Surabaya nyaris diculik oleh tiga orang bandit.  

TRIBUN-BALI.COM, SURABAYA - Seorang bocah berusia 12 tahun inisial IM berhasil lolos dari penculikan.

Begini kronologi IM (12) bocah kelas 6 SD korban percobaan penculikan di Surabaya berhasil melarikan diri dari sekapan tiga orang penculik di dalam mobil, terungkap.

Ibunda korban Nur Paini (54), menerangkan, semula IM tidak mengetahui berapa jumlah pasti pelaku komplotan penculik yang menyekap dirinya.

Namun sesaat tubuhnya diangkat untuk dipindah ke dalam mobil milik penculik. IM mendapati ada tiga orang pelaku yang berkomplot menculik dirinya.

Dua orang termasuk sopir duduk di kabin bagian depan. Sedangkan, satu orang pelaku lainnya, bertugas menyekapnya di bangku kabin bagian belakang.

Sebagaimana penuturan IM kepada Nur,  dua orang pelaku diantaranya berpostur tubuh kecil. Sedangkan, satu orang pelaku lain, berpostur tubuh tinggi, dengan usia kisaran 40 tahun, dan memiliki karakter rambut cenderung tipis, namun beruban.

IM tidak dapat mengingat lebih jauh ciri-ciri para pelaku, apalagi sampai mengingat raut wajah ketiganya saat itu. Pasalnya, mereka memakai masker penutup hidung dan mulut warna hitam.

"Katanya IM, lebih muda dari ayah gitu," ujarnya saat ditemui awak media di kediamannya di Jalan Jemur Wonosari, Wonocolo, Surabaya, Selasa (19/10/2021).

Selama disekap, tambah Nur, IM mengingat betul aktivitas para pelaku di dalam mobil. Satu orang pelaku yang duduk di samping kiri sopir, tampak sibuk dengan ponsel ditangannya.

Sedangkan satu orang lainnya, bertugas menyekap sekaligus membekap mulut IM selama perjalanan.

Sepanjang perjalanan yang entah tujuannya ke mana. Kepada Nur, IM mengungkapkan, para pelaku itu saling berbicara satu sama lainnya.

Namun intonasi suara ketiga yang terdengar lirih, membuat IM tidak mampu memahami secara pasti obrolan yang terjadi di tengah mereka.

"Langsung dibekap mulutnya. 'Jangan teriak' bilang gitu, kemudian orangnya nggremeng-gremeng (tidak jelas), enggak tahu ngomong apa, katanya (IM)," tuturnya.

Saat mobil yang dikendarai para penculik itu berangsur pelan dan menepi di bahu jalan. Di situlah IM merasa memiliki kesempatan untuk kabur dari mobil tersebut.

Apalagi, ungkap Nur, satu orang pelaku yang bertugas menyekap anaknya di bangku belakang, tiba-tiba keluar dari sisi kiri mobil, lalu menempelkan layar ponsel ke telinganya seperti sedang terlibat percakapan telpon dengan orang lain.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved