Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Hari Raya Kuningan, Umat Hindu Disarankan Mebanten Sebelum Siang, Ini Penjelasannya

Menjadi pakem di masyarakat sejak dahulu, bahwa saat Kuningan harus mebanten atau menghaturkan upakara sebelum siang hari

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
(Tribun Bali/Rizal Fanany)
Umat Hindu melaksanakan persembahyangan Hari Raya Kuningan di Pura Sakenan, Denpasar, Sabtu 24 April 2021. Hari Raya Kuningan merupakan rangkaian dari Hari Raya Galungan yaitu perayaan kemenangan 'Dharma' (kebenaran) melawan 'Adharma' (kejahatan) yang diperingati dengan melakukan persembahyangan bersama di setiap pura di Bali. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sudah sejak lama, masyarakat Hindu menjalankan dan merayakan hari suci Kuningan setelah hari suci atau hari raya Galungan.

Menjadi pakem di masyarakat sejak dahulu, bahwa saat Kuningan harus mebanten atau menghaturkan upakara sebelum siang hari.

Bahkan banten yang telah dihaturkan pada pagi hari, biasanya sudah disurud atau dilungsur pada siang harinya.

Orang tua Hindu di Bali, biasanya menyebutkan kepada anak-anaknya agar mebanten sebelum jam 12 siang.

Baca juga: Penyajahan Kuningan, Pedagang di Pasar Kidul Bangli Tumpah Ruah,Polsek Bangli Lakukan Rekayasa Lalin

Bukan tanpa alasan, sebab hal ini tertuang di dalam lontar Sundarigama.

Dalam lontar Sundarigama, disebutkan bahwa pada Sabtu Kliwon Kuningan, merupakan hari suci Tumpek Kuningan atau hari raya Kuningan.

Saat Kuningan ini, diperingati sebagai turunnya para dewa dan roh leluhur ke dunia untuk menyucikan diri. Sembari menikmati persembahan dari umat Hindu.

Pada hari suci Kuningan, umat Hindu akan membuat persembahan dan sesajen kepada para roh leluhur dan para dewa.

Berupa nasi sulanggi, tebog, raka-raka, pasucian, canang wangi-wangian, segehan agung. Serta membuat gegantungan, tamiang, caniga, yang dipasang di tepi atap bangunan.

Ada pula sesajen untuk manusia, terdiri dari sasayut, prayascita luwih, penek kuning, daging itik putih, panyeneng, tatebus dan lain sebagainya.

Hal itu bermakna untuk mengheningkan batin dan pikiran, agar tetap jernih dan suci.

Dalam lontar Sundarigama, koleksi Geria Gede Banjarangkan Klungkung, disebutkan pula bahwa saat Kuningan agar umat Hindu merenung, mengetahui, memahami hakekat diri sendiri. Guna dapat menempatkan diri, serta berperan baik dan benar dalam hidup di dunia ini.

Ada pula yang unik saat Kuningan, yakni etikanya banten harus selesai dipersembahkan sebelum siang hari.

Sebab dalam lontar Sundarigama, disebutkan bahwa saat hari suci Kuningan para dewa dan roh leluhur turun ke dunia pada pagi hari, untuk memberikan anugerah keselamatan dan kesejahteraan kepada umat.

Baca juga: Berikut Ini Upacara Saat Wuku Kuningan di Bali

Kemudian roh leluhur dan pada dewa kembali ke surga sebelum tengah hari.

Sebab diyakini, apabila umat Hindu melakukan perayaan pada siang atau bahkan sore hari, maka tidak ada para dewa dan para roh leluhur di dunia lagi karena telah kembali ke sorga.

Dengan demikian perayaan siang atau sore hari dianggap sia-sia. (*)

Artikel lainnya di Serba Serbi

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved