Berita Klungkung

Pengamen Bermunculan di Klungkung, Kenakan Pakaian Adat, Terpantau Sebelum Galungan

Keberadaan para pengamen juga ditemui di beberapa ruas jalan di wilayah di Klungkung.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Aktivitas para pengamen dengan mengenakan pakaian adat Bali di Perempatan Tiing Adi, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung, Kamis 18 November 2021 - Pengamen Bermunculan di Klungkung, Kenakan Pakaian Adat, Terpantau Sebelum Galungan 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Keberadaan para pengamen yang mengenakan pakaian adat Bali ternyata tidak saja menjamur di Denpasar, namun juga ditemui di beberapa ruas jalan di wilayah di Klungkung.

Seperti yang tampak di Perempatan Tiing Adi, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung, Kamis 18 November 2021 siang.

Dua laki-laki mengenakan udeng lengkap dengan kamen, dan saput mengamen di perempatan.

Satu orang bernyanyi dengan membawa microphone, dan satunya lagi membawa speaker bluetooth yang disambungkan dengan smartphone.

Baca juga: Fenomena Pengamen Maudeng Kian Marak; Antara Kebutuhan Hidup, Peluang Bisnis, hingga Aturan Perda

Tidak peduli terik panas matahari, mereka menyanyikan lagu-lagu pop Bali lalu meminta imbalan ke para pengendara yang berhenti di lampu lalu lintas.

Ketika ditanya asal dan namanya, dua laki-laki itu enggan menjawab dan memilih menghindar.

Para pedagang di seputaran Perempatan Tiing Adi mengatakan, para pengamen berpakaian adat Bali itu muncul di Klungkung sejak sebulan terakhir.

"Sebelum Galungan mereka (pengamen berpakaian adat) sudah ada di Perempatan Tiing Adi. Mungkin ada sekitar sebulanan mereka ngamen di sini," ungkap seorang pedagang di Perempatan Tiing Adi, Ni Wayan Sulasih.

Kata dia, para pengamen berpakaian adat itu mengamen hingga sore hari. Selama ini juga belum ada penertiban.

"Kalau pengemis sudah berkali-kali diamankan Satpol PP, tapi kalau pengamen ini belum ada," ungkapnya.

Satpol PP Denpasar dalam beberapa hari terakhir juga aktif menertibkan aktivitas para pengamen dengan ber pakaian adat Bali tersebut. Bahkan ada yang disidangkan dan dikenakan sanksi tipiring.

Anggota DPRD Kota Denpasar dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yakni, Agus Wirajaya mengatakan, sesuai Perda Nomor 1 tahun 2015, pasal 1 ayat 23 disebutkan pengemis adalah orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka (di tempat) umum, dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain serta mengganggu ketertiban umum.

“Maraknya saat ini orang berduyun ke Denpasar mengadu nasib tentu bisa dipahami karena kondisi ekonomi akibat dampak Covid-19. Namun bila sampai mengganggu ketertiban umum tentu sangat disayangkan, apalagi sampai menggunakan pakaian adat yang biasanya digunakan untuk kegiatan yang bersifat baik,” kata Agus.

Agus menambahkan, mengenai tipiring sebesar Rp 250 ribu, itu merupakan sanksi maksimal yang bisa dilakukan sesuai aturan yang berlaku saat ini.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved