Gunung Semeru Meletus
Terungkap, Letusan Gunung Semeru Tak Terjadi Tiba-tiba, Ada Tanda-tanda Alam Sebelumnya
Letusan Gunung Semeru menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Tercatat 15 orang meninggal, 27 orang hilang, dan 1.707 warga
TRIBUN-BALI.COM - Letusan Gunung Semeru menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban yang ditinggalkan.
Tercatat 15 orang meninggal, 27 orang hilang, dan 1.707 warga mengungsi, Sabtu (4 Desember 2021).
Erupsi Gunung Semeru juga membuat 2.970 unit rumah, fasilitas pendidikan, dan jembatan rusak.
Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran Prof Nana Sulaksana mengatakan, letusan yang terjadi pada Sabtu sore pekan lalu ternyata tidak terjadi tiba-tiba.
“Jadi letusan kemarin bukan tiba-tiba, tapi memang sudah terjadi letusan kegiatan magmatisme jauh sebelumnya. Hanya kemarin saat letusan besar, secara kebetulan bersamaan dengan curah hujan tinggi,” ungkap Nana dikutip dari Kompas.com.
• Kabar Transfer AC Milan: Rossoneri Punya Strategi Darurat, Paolo Maldini Revisi Daftar Incaran
Nana menjelaskan, erupsi Gunung Semeru diakibatkan adanya dua gaya yang bekerja, yaitu endogen dan eksogen.
Gaya endogen terjadi dari aktivitas magma yang mendorong material vulkanik naik ke permukaan, sedangkan gaya eksogen diakibatkan hujan ekstrem.
Material vulkanik yang tertumpuk di kubah secara langsung bersentuhan dengan air.
Akumulasi material tersebut kemudian dialirkan oleh air dan hanyut ke bawah melalui lembahan dan sungai-sungai.
Akibatnya, banjir lahar mampu menyapu kawasan di lembahan Semeru.
“Kalau tidak ada hujan, maka seluruh material yang keluar sifatnya belum langsung menjadi lahar. Ini karena musim hujan, kebetulan hujan besar, material yang teronggok di atas terkena air dan hanyut ke sungai,” papar Nana.
• Hasil Liga Inggris: Arsenal Telan Kekalahan Pahit, Dicomeback Everton pada Menit Akhir
Karakter berbeda Nana mengungkapkan, letusan Semeru memiliki karakter sendiri.
Hal ini disebabkan, setiap komplek gunung berapi di Indonesia memiliki dapur magmanya tersendiri.
Dilihat dari tipe letusan, berdasarkan hasil penelitian dan historis, Gunung Semeru secara spesifik memiliki erupsi yang besar.
Setelah itu, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut kemudian akan tertidur kembali.