Berita Badung
Perlu Anggaran Rp 80 Miliar, Tuntaskan Banjir di Jalan Dewi Sri Kuta dan Sekitarnya
Banjir di wilayah Kuta tepatnya di Jalan Dewi Sri dan sekitarnya dipastikan bisa tertangani.
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Banjir di wilayah Kuta tepatnya di Jalan Dewi Sri dan sekitarnya dipastikan bisa tertangani.
Hanya saja membutuhkan dana yang cukup besar yakni mencapai puluhan miliar.
Anggaran itu nantinya untuk melakukan normalisasi sungai dan pengadaan pompa, sehingga air bisa dibuang langsung ke pantai.
Bahkan normalisasi sungai dengan pengadaan pompa itu pun sudah dirancang oleh Pemerintah Kabupaten Badung, namun belum terealisasi.
Baca juga: Banjir yang Merendam Wilayah Denpasar Kini Mulai Surut, Terhitung Ada 14 Titik Banjir
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruangan (PUPR) Badung IB Surya Suamba mengaku normalisasi sungai di Tukad Mati sudah dirancang dari dulu, hanya saja belum terealisasi.
"Kalau normalisasi dengan penambahan pompa maka kami yakin permasalahan banjir di Kuta bisa diselesaikan," ujarnya, Selasa 7 Desember 2021.
Pihaknya mengaku, ada 3 titik pencegahan atau implementasi pemasangan pompa, yaitu di kawasan Kartika Plaza, kawasan Jalan Dewi Sri, dan kawasan Jalan Arjuna Kecamatan Kuta.
Sesuai rancangan aplikasi pompa yang nantinya di pasang di Kartika Plaza akan bisa bekerja secara otomatis.
"Jadi pompa menggunakan aplikasi pump gate dengan pintu masuknya air. Sehingga bisa menyala secara otomatis. Bahkan pompa yang digunakan khusus untuk pengendalian air yang tinggi," ucapnya.
Dia mengatakan, banjir di wilayah Kartika Plaza dan wilayah Jalan Dewi Sri nantinya dialirkan menuju Tukad Mati.
Kendati demikian pihaknya mengaku membutuhkan anggaran mencapai Rp 80 miliar untuk merealisasikan rancangan tersebut.
"Kami sudah rancang, namun belum bisa jalan. Ke depan tetap akan kami rancang dan usulkan, baik dari APBD maupun APBN," tegasnya.
Untuk saat ini, birokrat asal Tabanan itu mengaku hanya bisa menyedot secara manual.
Hal itu dilakukan untuk menyurutkan genangan air bekas banjir di wilayah tersebut.
"Sekarang ini yang bisa kita lakukan adalah percepatan proses pengeringan wilayah yang tergenang saja. Jadi kami buang ke Tukad Mati dan aliran air Tukad Mati akan cepat dibuang ke Teluk Benoa," ucapnya.
Dia mengatakan, saat ini banjir sudah surut.
Bahkan masyarakat sudah kembali ke rumahnya yang sebelumnya tergenang air.
Setiap musim hujan wilayah Dewi Sri Kuta, Badung kerap terjadi banjir. Genangan air susah sekali surut sebelum dilakukan penyedotan oleh pemerintah setempat.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruangan (PUPR) Badung mengaku belum bisa menyelesaikan masalah banjir tersebut.
Suamba mengaku untuk menyelesaikan masalah banjir perlu dilakukan normalisasi di Tukad Mati.
"Jadi kalau normalisasi yang dilaksanakan secara rutin, saya yakin 99 persen banjir di kawasan Dewi Sri dan sekitarnya akan tertangani," tegasnya.
"Sebenarnya di Jalan Dewi Sri itu terdapat pompa air yang bisa langsung memompa genangan air. Namun karena Tukad Mati penuh sehingga air tetap meluap," ucapnya.
Dia mengatakan, dalam penanganan banjir di Jalan Dewi Sri dan beberapa titik lainnya pihaknya menurunkan 40 personel dengan 10 pompa, besar dan kecil.
Terpisah, BPBD Kota Denpasar tidak hanya menangani bencana banjir kemarin, tapi juga bencana kebakaran, pohon tumbang, dan tanah longsor.
Pohon tumbang terjadi di Jalan Bypass Ngurah Rai, Jalan Raya Sesetan Utara, sebelah barat kantor Gubernur Bali, Jalan Drupadi.
Baca juga: 16 KK Kena Dampak Banjir Bandang di Pekutatan Jembrana, Sudah Terjadi 4 Kali Dalam Setahun
Tanah longsor terjadi di Jalan Tunjung Tutur, Gang Taman Sari 5.
Sekretaris BPBD Kota Denpasar, Ardy Ganggas mengatakan, cuaca ekstrem ini ada kaitannya dengan fenomena La Nina.
"La Nina ini kan adalah fenomena alam yang keterkaitan, berdampak pada curah hujan semakin tinggi. Nah kebetulan sekali, di bulan Oktober, November dan Desember ini curah hujan memang waktunya. Plus ditambah ini (La Lina) akan meningkat," ujarnya.
Terkait banjir yang tersebar di wilayah Denpasar dan Badung, Ketua Komisi III DPRD Bali, Anak Agung Adhi Ardhana alias Gung Adhi mengatakan, pihaknya sebenarnya sempat memanggil dan melakukan rapat koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Dinas Lingkungan Hidup dan instansi terkait, Oktober lalu.
Dalam rapat tersebut, dilaporkan kesiapan dari Bali dalam mengantisipasi tingginya curah hujan dan angin kencang pada musim penghujan.
"Kami Komisi III sudah memanggil Dinas PUPR dan Dinas Kehutanan & dan Lingkungan Hidup pada akhir Oktober, untuk bersiap menghadapi musim penghujan yang disertai La Nina ini," ujarnya, Selasa.
Ia menjelaskan, salah satu kesimpulan rapat saat itu, pihaknya sempat meminta agar saluran air atau draniase dilakukan penggelontor saluran.
Sedangkan, untuk mengantisipasi genangan berlebih disiapkan dengan pompa, pengurangan volume sampah dari hulu hingga kesiapan terhadap kemungkinan longsor banjir bandang serta mitigasi bencana dapat diantisipasi.
Namun, dengan melihat kenyataan banjir yang terjadi tersebut, Gung Adhi justru mempertanyakan apakah tim yang bekerja tersebut sudah sesuai dengan komitmennya.
Sehingga, ia meminta Dinas PUPR segera melakukan evaluasi. (gus/riz/gil)
Kumpulan Artikel Badung
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/penyedotan-air-di-wilayah-banjir-di-jalan-dewi-sri-kuta-pada-senin-6-desember-2021.jpg)