Berita Internasional
Kasus Covid-19 di Australia Kembali Meningkat, Varian Omicron Mulai Menyebar
Kami baru-baru ini melihat peningkatan penularan di tempat-tempat publik yang lebih besar, dan itu tentu saja merupakan faktor yang berkontribusi
TRIBUN-BALI.COM - Infeksi Covid-19 menyebar di pub dan klub di kota terbesar Australia, Sidney, termasuk tiga kasus baru varian Omicron ditemukan diantara orang-orang yang mengikuti perayaan pesta.
Disisi lain, pihak berwenang telah melonggarkan pembatasan di Sydney sejak awal Oktober lalu, ketika kota itu telah melakukan penguncian hampir empat bulan untuk menahan varian Delta, setelah populasi mencapai tingkat vaksinasi yang lebih tinggi.
"Kami baru-baru ini melihat peningkatan penularan di tempat-tempat publik yang lebih besar, dan itu tentu saja merupakan faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus," kata Marianne Gale, Wakil Kepala Petugas Kesehatan New South Wales, mengatakan dalam sebuah video yang di-posting di Twitter, seperti dikutip Reuters.
Puluhan orang yang menghadiri pub dan klub di Sydney dinyatakan positif terpapar virus corona.
Baca juga: Peneliti Jepang Ungkap Varian Omicron 4 Kali Lebih Bahaya dari Delta, Efektivitas Vaksin Hanya 20%
Dan, para pejabat sedang menunggu hasil tes genomik untuk melihat apakah mereka terinfeksi varian Omicron atau tidak.
Infeksi harian Covid-19 terus meningkat karena pelonggaran pembatasan dengan Negara Bagian New South Wales, yang mencakup Sydney, mencatat 420 kasus baru pada Kamis (9/12/2021), kenaikan terbesar dalam dua bulan terakhir, dengan sebagian besar disebabkan oleh varian Delta.
Tetapi, jumlah infeksi varian Omicron telah meningkat sejak Australia melaporkan kasus pertamanya sekitar dua minggu lalu.
Sekitar 50 kasus kini telah terdeteksi, termasuk tiga yang terkait dengan perayaan pesta di Sydney.
Omicron berpotensi lebih menular dari varian sebelumnya, meskipun tanda-tanda awal menunjukkan penyakit yang lebih ringan.
Hanya saat ini, tak satu pun dari 151 orang di rumah sakit di New South Wales khusus pasien Covid-19 yang terinfeksi varian Omicron.
Hanya, Australia bernasib jauh lebih baik dibanding banyak negara dalam mengatasi pandemi, dengan hanya mencatat hampir 224.000 kasus dan 2.082 kematian
Sebagian besar karena keputusannya untuk menutup perbatasan pada Maret 2020.
Omicron 4 Kali Lebih Berbahaya dari Varian Delta
Tim Peneliti Jepang mengungkapkan bila varian baru virus Corona (Covid-19) Omicron memiliki bahaya empat kali lebih besar ketimbang varian Delta.
Hal tersebut berdasarkan hasil Analisa tim peneliti Jepang yang dipimpin oleh Profesor Hiroshi Nishiura dari Universitas Kyoto.
Baca juga: UPDATE: Kemenkes Sebut Tidak Benar 4 Warga Jakarta Terpapar Omicron
Menurut penelitian mereka, muatan baru strain Omicron mudah menginfeksi kembali, bahkan bagi orang yang telah divaksinasi ataupun pernah terinfeksi varian lain sebelumnya.
"Penyebaran Omicron sangat cepat dan kekuatannya 4 kali lipat dari Delta serta kekebalan tubuh yang telah divaksin pun turun menjadi 20 persen," ungkap Profesor Hiroshi Nishiura, Rabu, 8 Desember 2021 dikutip Tribun-Bali.com dari Tribunnews.com dalam artikel berjudul Penelitian Jepang: Omicron Lebih Kuat 4 Kali Lipat dari Delta, Kekebalan Vaksin Hanya 20 Persen.
Tim peneliti Profesor Nishiura pun telah mengunggah momentum perluasan strain Omicron tersebut di situs web yang mendaftarkan terkait informasi genetic virus Corona Baru.
Situs tersebut pun telah melaporkan lebih dari 200 data terkait strain dari Afrika Selatan antara bulan September hingga akhir November 2021.
Berdasarkan rapat antara ahli Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang pada 8 Desember 2021 mengungkapkan bila angka reproduksi efektif yang menunjukkan berapa banyak orang yang menyebarkan infeksi adalah dengan kekuatan 4,2 kali lipat dari strain Delta, terutama di Gauteng dimana strain Omicron tersebar luas.
Profesor Hiroshi Nishiura pun menyimpulkan meskipun data tersebut bisa dikoreksi, tingkat bahaya dari strain Omicron tetap tinggi ketimbang varian lainnya.
“Artinya meskipun bias data dikoreksi, setidaknya dua kali lipat," ujarnya.
Jumlah nilai di atas pun berdasarkan perbandingan antar strain Delta yang mengalami penurunan dan Strain Omicron yang meningkat pesat.
Lebih lanjut, sejauh ini, infektivasi dari strain Omicron belum diketahui.
Kekebalan Vaksin Hanya 20 Persen
Berdasarkan hasil Analisa dari masyarakat Afrika Selatan yang telah melakukan vaksinasi, tim peneliti mengungkapkan bila efektivitas vaksin terhadap varian Omicron hanya sekitar 20 persen.
Hal ini dapat berkembang pesat akibat infeksi ylang yang telah melewati kekebalan tubuh.
Baca juga: Antisipasi Varian Omicron, Bandara Ngurah Rai Perketat Pintu Masuk Kedatangan Internasional
"Bahkan di negara-negara di mana vaksinasi telah berkembang, risiko epidemi strain Omicron tampaknya tinggi,” jelas Profesor Nishiura.
Varian Omicron
Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan, Dr. Angelique Coetzee menyebutakan strain Omicron pertama kali muncul di Afrika Selatan sekitar 18 November 2021.
"Pasien Covid yang terinfeksi varian baru ini mulai muncul sekitar 18 November," katanya pada hari Minggu, 28 November 2021.
Dr. Coetzee menjelaskan bila pasien pertama yang terjangkit Omicron merupakan laki-laki berusia sekitar 30 tahunan.
"Ia mengaku 'sangat lelah' selama beberapa hari dan juga merasa nyeri tubuh dan sedikit sakit kepala," jelas Dr. Coetzee.
Meskipun begitu, pasien pertama yang terpapar varian Omicron tersebut tidak menunjukkan gejala yang biasa seperti pada varian Delta sebelumnya, seperti batuk atau pun kehilangan indera pengecap atau penciuman.
"Hanya merasa 'tenggorokannya gatal' bukan sakit," papar Dr. Coetzee.
Namun, dilansir Tribun-Bali.com dari Tribunnews.com pada Kamis, 9 Desember 2021 dalam artikel berjudul Ketahui Penyebab Munculnya Varian Omicron yang Telah Ditetapkan WHO Sebagai VOC, sejak WHO menetapkan varian ini menjadi Varian of Concern (VOC), beberapa negara mulai memberlakukan protokol yang ketat.
Sebagian epidemiolog menyebutkan jika varian ini perlu diwaspadai.
Pertama, penyebaran yang cepat dan sudah ditemukan di berbagai dunia.
Kedua, adanya kemungkinan infeksi ulang.
Dan ketiga, serangan pada sistem imun.
Menurut Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman, memang ada beberapa faktor yang memicu munculnya varian super ini.
Pertama adanya ketimpangan vaksin pada suatu negara. Namun menurut Dicky tidak hanya itu, ada faktor lainnya.
"Iya karena jelas karena ketimpangan vaksin, menjdi penyebab. Tapi bicara penyebab dari satu varian super ini timbul multifaktor. Bukan hanya vaksin tidak merata di dunia," ungkapnya pada Tribunnews, Selasa , 30 November 2021.
Kedua, karena kurang baiknya suatu negara dalam mendeteksi virus. Baik itu testing, tracing dan treatment (3T) dan juga surveilance genomic.
"Melalui 3T terutama survelen genomic tidak merata dan kuat di banyak negara, seperti Afrika, akhirnya menghasilkan varian ini," ungkapnya.
Namun bukan hanya Afrika saja. Belahan dunia manapun ketika kemampuan 3T surveilance genomic lemah, ditambah vaksinasi yang lambat, rawan melahirkan mutasi Covid-19 yang berbahaya.
"Ditambah jumlah penderita HIV-AIDS termasuk kategori banyak. Pada konteks ini, ketika terinfeksi itu umumnya lama untuk mengalami pemulihan. Dan semakin lama virus dalam tubuh manusia, semakin banyak peluang bermutasi,"pungkasnya. (*)
Artikel lannya di Berita Internasional
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/australia-lockdown.jpg)