Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Internasional

Taiwan Konfirmasi Kasus Pertama Varian Omicron, Dibawa Pelancong dari Luar Negeri

Sepuluh orang lain yang duduk di depan dan di belakang pelancong pada penerbangan masuk telah di karantina di rumah dan semuanya dinyatakan negatif

Tayang:
Editor: Wema Satya Dinata
Pixabay
Ilustrasi covid-19 Varian Omicron 

TRIBUN-BALI.COM - Pemerintah Taiwan mengonfirmasi kasus pertama varian Covid-19 baru Omicron di negaranya.

The Central Epidemic Command Centre mengatakan infeksi varian Omicron terdeteksi pada seorang pelancong dari Eswatini, yang sudah dikarantina, seperti halnya semua kedatangan ke Taiwan.

Pendatang itu tanpa gejala.

Sepuluh orang lain yang duduk di depan dan di belakang pelancong pada penerbangan masuk telah di karantina di rumah dan semuanya dinyatakan negatif.

Baca juga: Peneliti Jepang Ungkap Varian Omicron 4 Kali Lebih Bahaya dari Delta, Efektivitas Vaksin Hanya 20%

Lebih Bahaya dari Varian Delta

Sebelumnya diberitakan Tribun Bali, Tim Peneliti Jepang mengungkapkan bila varian baru virus Corona (Covid-19) Omicron memiliki bahaya empa kali lebih besar ketimbang varian Delta.

Hal tersebut berdasarkan hasil Analisa tim peneliti Jepang yang dipimpin oleh Profesor Hiroshi Nishiura dari Universitas Kyoto.

Menurut penelitian mereka, muatan baru strain Omicron  mudah menginfeksi kembali, bahkan bagi orang yang telah divaksinasi ataupun pernah terinfeksi varian lain sebelumnya.

"Penyebaran Omicron sangat cepat dan kekuatannya 4 kali lipat dari Delta serta kekebalan tubuh yang telah divaksin pun turun menjadi 20 persen," ungkap Profesor Hiroshi Nishiura, Rabu, 8 Desember 2021

Tim peneliti Profesor Nishiura pun telah mengunggah momentum perluasan strain Omicron tersebut di situs web yang mendaftarkan terkait informasi genetic virus Corona Baru.

Situs tersebut pun telah melaporkan lebih dari 200 data terkait strain dari Afrika Selatan antara bulan September hingga akhir November 2021.

Berdasarkan rapat antara ahli  Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang pada 8 Desember 2021 mengungkapkan bila angka  reproduksi efektif yang menunjukkan berapa banyak orang yang menyebarkan infeksi adalah dengan kekuatan 4,2 kali lipat dari strain Delta, terutama di Gauteng dimana strain Omicron tersebar luas.

Profesor Hiroshi Nishiura pun menyimpulkan meskipun data tersebut bisa dikoreksi, tingkat bahaya dari strain Omicron tetap tinggi ketimbang varian lainnya.

“Artinya meskipun bias data dikoreksi, setidaknya dua kali lipat," ujarnya.

Prof Hiroshi Nishiura, anggota tim peneliti penyakit menular virus corona Kementerian Kesehatan Jepang dan dosen Universitas Hokkaido.

Baca juga: UPDATE: Kemenkes Sebut Tidak Benar 4 Warga Jakarta Terpapar Omicron

Jumlah nilai di atas pun berdasarkan perbandingan antar strain Delta yang mengalami penurunan dan Strain Omicron yang meningkat pesat.

Lebih lanjut, sejauh ini, infektivasi dari strain Omicron belum diketahui.

Kekebalan Vaksin Hanya 20 Persen

Berdasarkan hasil Analisa dari masyarakat Afrika Selatan yang telah melakukan vaksinasi, tim peneliti mengungkapkan bila efektivitas vaksin terhadap varian Omicron hanya sekitar 20 persen.

Hal ini dapat berkembang pesat akibat infeksi ylang yang telah melewati kekebalan tubuh.

"Bahkan di negara-negara di mana vaksinasi telah berkembang, risiko epidemi strain Omicron tampaknya tinggi,” jelas Profesor Nishiura.

Asal Mula Varian Omicron

Ketua Asosia Medisi Afrika Selatan, Dr. Angelique Coetzee mengebutakan strain Omicron pertama kali muncul di Afrika Selatan sekitar 18 November 2021.

"Pasien Covid yang terinfeksi varian baru ini mulai muncul sekitar 18 November," katanya pada hari Minggu, 28 November 2021.

Dr. Coetzee menjelaskan bila pasien pertama yang terjangkit Omicron merupakan laki-laki berusia sekitar 30 tahunan.

"Ia mengaku 'sangat lelah' selama beberapa hari dan juga merasa nyeri tubuh dan sedikit sakit kepala," jelas Dr. Coetzee.

Meskipun begitu, pasien pertama yang terpapar varian Omicron tersebut tidak menunjukkan gejala yang biasa seperti pada varian Delta sebelumnya, seperti batuk atau pun kehilangan indera pengecap atau penciuman.

"Hanya merasa 'tenggorokannya gatal' bukan sakit," papar Dr. Coetzee.

Baca juga: Antisipasi Varian Omicron, Bandara Ngurah Rai Perketat Pintu Masuk Kedatangan Internasional 

Namun, dilansir Tribun-Bali.com dari Tribunnews.com pada Kamis, 9 Desember 2021 dalam artikel berjudul Ketahui Penyebab Munculnya Varian Omicron yang Telah Ditetapkan WHO Sebagai VOC, sejak WHO menetapkan varian ini menjadi Varian of Concern (VOC), beberapa negara mulai memberlakukan protokol yang ketat.

Sebagian epidemiolog menyebutkan jika varian ini perlu diwaspadai.

Pertama, penyebaran yang cepat dan sudah ditemukan di berbagai dunia.

Kedua adanya kemungkinan infeksi ulang.

Dan ketiga, serangan pada sistem imun.

Menurut Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman, memang ada beberapa faktor yang memicu munculnya varian super ini.

Pertama adanya ketimpangan vaksin pada suatu negara. Namun menurut Dicky tidak hanya itu, ada faktor lainnya.

"Iya karena jelas karena ketimpangan vaksin, menjdi penyebab. Tapi bicara penyebab dari satu varian super ini timbul multifaktor. Bukan hanya vaksin tidak merata di dunia," ungkapnya pada Tribunnews, Selasa , 30 November 2021.

Kedua, karena kurang baiknya suatu negara dalam mendeteksi virus. Baik itu testing, tracing dan treatment (3T) dan juga surveilance genomic.

"Melalui 3T terutama survelen genomic tidak merata dan kuat di banyak negara, seperti Afrika, akhirnya menghasilkan varian ini," ungkapnya.

Namun bukan hanya Afrika saja. Belahan dunia manapun ketika kemampuan 3T surveilance genomic lemah, ditambah vaksinasi yang lambat, rawan melahirkan mutasi Covid-19 yang berbahaya.

"Ditambah jumlah penderita HIV-AIDS termasuk kategori banyak. Pada konteks ini, ketika terinfeksi itu umumnya lama untuk mengalami pemulihan. Dan semakin lama virus dalam tubuh manusia, semakin banyak peluang bermutasi,"pungkasnya. (*)

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved