Kasus Omicron di Dunia Meningkat Signifikan, Pintu Masuk Indonesia Diperketat
Terjadi peningkatan signifikan kasus Covid-19 varian Omicron secara global, pintu masuk Indonesia diperketat.
TRIBUN-BALI.COM - Pandemi Covid-19 masih berlarut-larut.
Kemunculan varian Omicron menjadi masalah global baru yang semakin menyulitkan untuk keluar dari masa pandemi.
Varian Omicron merupakan mutasi dan kombinasi dari virus corona yang memiliki nama lain B.1.1.529.
Varian Omicron pertama kali dideteksi di Afrika Selatan pada tanggal 24 November 2021, dan saat ini telah menyebar hingga berbagai negara termasuk di Indonesia.
Diketahui, varian Omicron terdeteksi pada seorang petugas kebersihan berinisial N yang bekerja di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.
Untuk mengantisipasi lonjakan kasus Omicron, Pemerintah memperketat pintu masuk laut dan darat ke Indonesia.
Pasalnya, dalam sepekan terakhir, terjadi peningkatan signifikan kasus Covid-19 varian Omicron secara global.
Mengutip setkab.go.id, kasus Omicron global meningkat dari 7.900 kasus menjadi 62.342 kasus atau sekitar delapan kali lipat.
Karena itu, pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi lonjakan kasus varian baru tersebut.
"Kami dengan bantuan TNI, Polri, dan Kemendagri akan memperkuat proses surveilans dan juga karantina di pintu masuk-pintu masuk laut dan darat," kata Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, dalam keterangan pers usai Rapat Terbatas mengenai Evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Senin (20/12/2021), secara daring.
Menkes menambahkan, tingkat positivity rate pelaku perjalanan yang masuk melalui jalur darat dan laut cenderung lebih tinggi dibandingkan jalur udara.
“Dalam seminggu terakhir terjadi peningkatan pelaku perjalanan luar negeri yang cukup tinggi di seluruh pintu masuk. Kita sudah amati, semua kita tes PCR dan genome sequencing, ternyata pintu masuk laut dan pintu masuk darat jauh lebih tinggi positivity rate-nya dibandingkan pintu masuk udara,” ujarnya.
Selain tes whole genome sequencing (WGS), ujar Budi, pihaknya juga menggunakan tes PCR dengan metode S gene target failure (STGF) yang dapat lebih cepat mendeteksi varian Covid-19.
"Tes PCR dengan SGTF berfungsi sebagai marker, jadi tidak 10 persen seperti WGS tapi kemungkinan besar bisa mendeteksi Omicron dalam waktu 4-6 jam saja, sedangkan WGS membutuhkan 3-5 hari," terangnya.
Imbau Masyarakat Tidak Bepergian ke Luar Negeri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-varian-omicron-covid.jpg)