Percik-percik Renungan dr Ida Bagus Sindhu dalam Buku 'Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari'

Percik-percik Renungan Ida Bagus Sindhu dalam Buku 'Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari'

Penulis: Putu Supartika | Editor: Widyartha Suryawan
Panitia
Buku yang bertajuk “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” karya dr. Ida Bagus Sindhu, SpOGK dibincangkan dalam program Timbang Renung di Denpasar. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Buku yang bertajuk “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” karya dr. Ida Bagus Sindhu, SpOGK dibincangkan dalam program Timbang Renung di Denpasar.

Tampil sebagai pembicara yakni kritikus sastra Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., budayawan Wayan Westa, sastrawan Wayan Jengki Sunarta, penekun spiritual Wayan Mustika, serta mantan Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama, Prof. Dr. IBG Yudha Tri Guna.

Pada acara Timbang Renung yang dimoderatori oleh penyair dr. Dewa Putu Sahadewa, mengemuka pandangan bahwa sains, seni dan agama pada hakikatnya saling melengkapi pandangan perihal bagaimana kehidupan di bumi dan jagat raya ini tercipta.

Buku yang diterbitkan Pustaka Ekspresi (2021) ini berisi 24 tulisan percik-percik renungan.

“Semisal pada Bab I bukunya, IB Sindhu mengupas tentang anatomi pikiran yang terdiri dari Buddi, Mannas, Ego dan Citta, berikut cara-cara kita untuk mengelola atau menyeimbangkannya. Atau, pada Bab VII, diulas perihal Dunia Imajiner, yang mengajak kita merenung bahwa dunia “nyata” ini sesungguhnya hanyalah dunia imajiner. Kebenaran hanyalah sekumpulan pembenaran yang disepakati untuk dianut bersama sebagai sebuah kebenaran kolektif,” kata Wayan Mustika.

Menyinggung tajuk buku dari IB Sindhu, yakni Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari, Prof. Dr. IBG Yudha Triguna memaparkan bahwa dalam keyakinan agama Hindu matahari disebut sebagai Dewa Surya, atau yang memiliki nama lain ‘Sawitri’.

“Sawitri mengandung makna pemberi energi atau tenaga. Dengan judul buku tersebut, Pak Ida Bagus Sindhu menguraikan hal yang memang menjadi kenyataan alami, bahwa kehidupan kita tidak bisa dipisahkan dari keberadaan matahari sebagai sumber energi,” ungkap mantan Rektor UNHI Denpasar periode 2006-2012.

Terkait hubungan sains, agama, dan seni, Prof. Yudha menambahkan, “Veda sebagai sumber ajaran Hindu yang menampung segala gagasan ilmu pengetahuan meliputi pengetahuan paravidya (spiritual) dan pengetahuan aparavidya (sains dan teknologi). Melalui pendekatan interdisipliner yang mensinergikan antara kajian agama dan sains keduanya dapat saling mencerahkan. Buku-buku seperti ini layak ditulis dan diterbitkan, serta kajiannya diperdalam secara berkelanjutan.”

Budayawan, Wayan Westa menimbang kehadiran buku ini sebagai upaya merenungi kehidupan dan menemukan nilai-nilai kewaskitaan.

Sudah lama sains seakan-akan terpisahkan dari seni, budaya serta filosofi atau dinamika pemikiran.

Melalui Timbang Renung ini, ia mengandaikan bahwa kewaskitaan atau kebijaksanaan hidup yang tersuratkan di dalam buku ini ibarat proses penemuan air oleh para tetua penekun spiritual tempo dulu.

“Membaca tulisan-tulisan ini kita tidak akan menyangka bahwa ini lahir dari seorang dokter yang boleh dikata saintik. Fenomena penemuan kearifan pemikiran ini sesungguhnya bukan hal baru bila kita menyimak kisah-kisah para tetua tempo dulu, bagaimana mereka menemukan sumber air dengan satu ketajaman batin atau gabungan antara kedalaman spiritual serta pemahaman mendasar ilmu pengetahuan,” tukas Wayan Westa yang juga penulis ini.

Buku “Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari” terdiri dari 24 bab, dieditori oleh Wayan Jengki Sunarta dan Dewa Putu Sahadewa.

Sebagai editor, Wayan Jengki Sunarta menemukan banyak hal yang mengandung kedalaman renungan dan pemikiran dari IB Sindhu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved