Percik-percik Renungan dr Ida Bagus Sindhu dalam Buku 'Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari'
Percik-percik Renungan Ida Bagus Sindhu dalam Buku 'Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari'
Penulis: Putu Supartika | Editor: Widyartha Suryawan
“Tentu saja dalam proses editing saya mencoba merangkai pilahan-pilahan tulisan itu dengan frame tematik tertentu sehingga menjadi satu buku yang utuh. Membaca tulisan-tulisan IB Sindhu, saya banyak belajar menyelami kewaskitaan atau pengetahuan luhur tentang tubuh dalam pandangan sains dan spiritual atau ajaran agama,” kata Jengki yang aktif bergiat di Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP).
Sementara itu, bagi Prof. Dr. Nyoman Darma Putra, M.Litt., kurang tepatlah kiranya ungkapan ‘jangan menilai buku dari sampulnya’.
Sebab menurutnya, justru kita harus menilai kehadiran buku ‘Tubuh Kita Dibangun oleh Matahari’ ini pertama-tama melalui sampulnya.
“Bila melihat sampul buku in, kita sesungguhnya melihat sebuah dekonstruksi atas konstruksi (gambar pohon) yang lazim selama ini. Jadi, sampulnya mencerminkan keseluruhan isi buku ini, di mana kita dihadapkan pada pikiran-pikiran yang didekonstruksi atau dibalik. Ibarat sebuah ajakan bagi kita untuk merenung atau menoleh kembali ke belakang,” ungkap Guru Besar Bidang Sastra di FIB Universitas Udayana ini.
Dari sisi kebahasaan, Prof. Darma Putra menyebutkan, buku ini secara lincah menyampaikan berbagai gagasan pikiran dalam aneka bahasa yang hadir dalam hetereglossia atau polifoni, sebuah konsep yang dikemukakan oleh filsuf Rusia Michael Bakthin.
Menurut Darma Putra, IB Sindhu menyampaikan tulisan-tulisannya dalam 2 level bahasa, yang pertama meliputi bahasa sains, agama, komputer, kesehatan, filsafat, dan lain-lain. Pada level kedua yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, konsep-konsep Hindu, Budha dan konsep bahasa sains.
Buku IB Sindhu ini, menurut Wayan Mustika, merefleksikan penulisnya adalah seorang praktisi medis yang dibesarkan bersama-sama dengan vibrasi agama dan sains. IB Sindhu telah tiba pada titik yang disebut "spiritualitas modern” sebuah momentum pencerahan yang lahir dari irisan antara agama dan sains tersebut.
Acara peluncuran dan diskusi buku yang diselenggarakan oleh Dedari Institute for Art ini diikuti pula 77 peserta dari berbagai kota di tanah air secara daring melalui zoom meeting.
Terdiri dari kalangan mahasiswa, sastrawan, seniman, dokter, praktisi, dan lintas bidang lainnya. (*)