Breaking News:

Berita Badung

Lomba Ditiadakan, Pemkab Badung Tetap Izinkan Pawai Ogoh-Ogoh Saat Hari Pengerupukan

Pemerintah Kabupaten Badung akhirnya memastikan bahwa pawai ogoh-ogoh tetap dilaksanakan sesuai Surat Edaran MDA Provinsi Bali. Kendati demikian semen

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Perlombaan ogoh-ogoh di Klungkung tahun 2019 silam. Tahun ini pelaksanaan perlombaan ogoh-ogoh di Klungkung juva dibatalkan. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Pemerintah Kabupaten Badung akhirnya memastikan bahwa pawai ogoh-ogoh tetap dilaksanakan sesuai Surat Edaran MDA Provinsi Bali.

Kendati demikian, untuk sementara, untuk tahun ini lomba ogoh-ogoh tidak digelar. 

Peniadaan lomba dilakukan lantaran ada beberapa desa memilih tidak akan membuat ogoh-ogoh saat hari raya nyepi tahun caka 1944 mendatang. Keputusan pelaksanaan pawai ogoh-ogoh saat pengerupukan dilakukan setelah dinas Kebudayaan (Disbud) Badung melakukan koordinasi dengan berbagai pihak.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Gede Eka Sudarwitha saat dihubungi, Rabu 12 Januari 2022 tak menampik hal tersebut. Pihaknya mengaku jika pemkab Badung memutuskan akan mengikuti surat edaran dari MDA Provinsi Bali.

"Jadi kita mengikuti SE dari MDA Provinsi. Meski nanti ada sejumlah desa yang tidak menggelar kegiatan arak-arakan ogoh-ogoh saat pengerupukan," ujar Sudarwitha.

Meski diperbolehkan dalam pelaksanaan pawai saat pengerupukan, namun sesuai hasil koordinasi, Badung tidak akan melaksanakan perlombaan ogoh-ogoh seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Kita memperbolehkan arak-arakan ogoh-ogoh yang dilaksanakan di masing-masing desa di Kabupaten Badung sesuai dengan surat edaran dari Provinsi Bali dengan pelaksanaan protokol kesehatan covid-19 yang sudah ditentukan dari surat edaran tersebut. Hanya saja, untuk kegiatan lomba seperti tahun-tahun sebelumnya, kita tidak melaksanakannya," ujarnya.

Mantan Camat Petang ini juga menjelaskan, biasanya untuk di Kabupaten Badung sebelumnya ogoh-ogoh dilombakan namun tanpa ada pawai saat lomba. Sistem lomba di Badung pun dengan mendatangkan panitia ke masing-masing banjar.

Namun sebelum melakukan penilaian di masing-masing banjar, penilaian ogoh-ogoh dilakukan antar kecamatan yang ada di Gumi Keris. Terbaik di kecamatan akan kembali dinilai untuk ditentukan tiga terbaik.

"Tapi untuk tahun ini hal itu tidak ditiadakan. Karena ada desa yang tidak membuat ogoh-ogoh karena masih suasana pandemi ini," ungkapnya.

Lebih lanjut pihaknya mengaku, terkait dengan pawai saat penyepian yang akan datang, katanya diatur oleh masing-masing desa. Pawai dilakukan dilingkungan desa dengan dengan pemberlakukan protokol kesehatan covid-19 ketat.

"Memang dalam hal ini kita tidak memaksa desa adat mau melakukan apa menyambut Nyepi nanti.Tapi intinya kami memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin membuat ogoh-ogoh saat pengerupukan nanti, karena ini juga bagian dari pelestarian budaya," ungkapnya.

Disinggung mengenai desa apa saja yang tidak melakukan pembuatan ogoh-ogoh, Sudarwitha mengaku yang sudah pasti yakni Desa Adat Bualu. Kendati demikian mereka mengganti dengan pelaksanaan pasraman kilat. "Jadi permintaan desa adat akan melaksanakan Pasaman kilat," tegasnya.

Sudarwitha mengakui pemerintah juga tetap mensupport para pemuda Badung yang ingin membuat ogoh-ogoh melalui dana kreativitas sebesar Rp 10 juta.

"Bupati tetap memberikan support para pemuda untuk berkreasi dan mengajegkan budaya. Sehingga pemerintah menyiapkan dan untuk itu. Meski tidak sebesar tahun tahun lalu, tapi komitmen pemerintah akan tetap dilakukan," terangnya. (*)

Berita Badung Lainnya

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved