Serba Serbi
Black Magic atau Ilmu Hitam, Berikut Cara Mudah Melepaskan Pengaruhnya
Guru Mangku Hipno, menjelaskan cara mudah melepaskan pengaruh black magic. Dosen UHN Denpasar ini, mengatakan salah satu caranya dengan 'Narayana Yoga
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Black magic atau ilmu hitam, telah dikenal sejak lama oleh masyarakat Nusantara.
Bagian dari black magic ini, diantaranya adalah seperti santet, teluh, pelet, dan masih banyak lagi.
Biasanya penyakit yang diakibatkan ilmu hitam, memiliki ciri khas berbeda dari penyakit medis.
Semisal sakit di waktu dan tempat tertentu, seperti saat sandyakala saja.
Baca juga: Kebal Ilmu Hitam, 7 Weton Ini Dipercaya Memiliki Penjaga dan Pagar Gaib, Termasuk Rabu Kliwon
Guru Mangku Hipno, menjelaskan cara mudah melepaskan pengaruh black magic. Dosen UHN Denpasar ini, mengatakan salah satu caranya dengan 'Narayana Yoga Samyama'.
"Banyak orang merasa dirinya sedang dalam pengaruh seseorang, khususnya orang yang menggunakan energi negatif atau ilmu hitam atau rerajahan untuk menyakiti," katanya, Kamis 27 Januari 2022.
Sehingga untuk menangkal hal ini, hanya dengan menguatkan diri dan memohon perlindungan kepada Tuhan.
Namun tentu saja dibarengi dengan mantra pamungkas, yang mengunci kesaktian lawan dan melepaskan pengaruh ilmu hitam, tenung acepan, desti, magic, atau rerajahan bervibrasi negatif dari seseorang.
"Maka ucapkan mantra sambil membayangkan wajahnya," imbuh ahli kejiwaan ini.
Mantranya, adalah 'Ong kancing kunci gedong Widhi, Dikancing Sanghyang Widhi, Dikunci Bhatara - Bhatari, Hawa nafsu lan kesaktianne (sebutkan namanya).
Pomo pomo pomo tan dadi, Ong siddhi mandi mantraku'.
"Apabila belum yakin, maka saya akan membantu," ucap dosen asli Singaraja ini.
Guru Mangku Hipno juga menjelaskan, sesungguhnya mereka yang tidak bahagia adalah mereka yang gagal memahami siapa dirinya. Sehingga kebanyakan orang yang tidak bahagia akan mudah mengalami rasa iri dengki.
Baginya, nama hanya label semata. Sebab seorang spiritualis akan menjawab, bahwa dirinya adalah pelayan Tuhan.
Kemudian seorang religius akan menjawab dirinya adalah atman.
Baca juga: Dipicu Ilmu Hitam, Bocah 2 Tahun Jadi Korban Pembunuhan, Lehernya Disayat
"Filsafat barat menyatakan saya adalah badan ditambah pikiran (mind- body- complex)," sebutnya.
Filsafat India terutama Vedanta menjawab, bahwa saya adalah atman, sang diri ditutupi oleh sarung Panca Maya Kosa, badan (anna), daya hidup(prana), pikiran(manas), kebijaksanaan(vijnana), kebahagiaan(ananda).
"Pertanyaan berikutnya untuk lebih memahami sang diri adalah apakah manusia pada hakekatnya baik atau jahat," katanya.
Thomas Hobbs (1588 - 1679) berpendapat, dalam keadaan alamiah ( state of nature) manusia itu, jahat, keji, dan pendek umurnya ( nasty- brutish- short).
Namun Mencius (372-289 BCE) muridnya Confucius, justru percaya pada hakekatnya manusia baik. Sebab dalam diri manusia terdapat welas asih.
"Tidak ada manusia yang hatinya kosong dari sensitivitas penderitaan orang lain. Siapapun yang hatinya kosong dari welas asih,dari rasa malu, dari rasa benar dan salah, bukanlah manusia," jelasnya.
Vedanta menegaskan sang diri manusia, atman, adalah sat chit dan ananda. Sat artinya keberadaan yang kekal. Chit artinya Kesadaran. Ananda artinya kebahagiaan.
"Jadi pada hakekatnya manusia tidak sekadar baik, tetapi juga tetap ada, abadi, kesadaran dan kebahagiaan," imbuhnya.
Namun faktanya manusia tidak selamanya bahagia, kadang sering menderita.
"Jawabannya karena kita sering salah mengidentifikasikan diri kita. Kita menduga tubuh ini adalah sang diri kita," tegasnya.
Baca juga: Termasuk Mimpi Digigit Hewan Bertaring, Berikut Tanda-Tanda Seseorang Terkena Ilmu Hitam
Lalu Upanisad memberikan gambaran bahwa, secara esensi seseorang adalah jiwa universal yang sama di dalam setiap makhluk.
"Melalui pengalaman yang dialami selama kehidupan sedang menuju tujuan akhir saya, pembebasan dari ikatan," katanya.
Sehingga apapun peristiwa yang dialami bukanlah sesuatu yang buruk, karena semua itu adalah guru terbaik yang disebut pengalaman hidup yang mengajarkan untuk membebaskan diri dari segala keterikatan.
"Jadi semakin kita mampu membebaskan diri dari keterikatan semakin besar kemungkinan kita memahami diri sendiri atau sang diri sejati, semakin besar kita mendapatkan kesadaran diri dan semakin bahagialah hidup kita," imbuhnya. (*)
Artikel lainnya di Serba Serbi