Berita Bali

Pandemi Akibatkan Gangguan Jiwa, Ini Solusi dari Guru Mangku Hipno

Pandemi Akibatkan Gangguan Jiwa, Ini Solusi Dari GMHPandemi Akibatkan Gangguan Jiwa, Ini Solusi Dari GMH

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Harun Ar Rasyid
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Guru Mangku Hipno 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ahli kejiwaan Psikosomatik Anxiety, Guru Mangku Hipno (GMH), mengatakan bahwa pandemi akibat wabah virus Covid-19 yang meluas di dunia membuat banyak orang stres dan depresi.

Salah satu penyebab hal itu terjadi, karena banyak orang yang belum atau tidak rela kehilangan apa yang telah dimiliki sebelumnya. Baik itu harta yang hilang, atau kehilangan pekerjaan, dan merugi usahanya. Bisa pula disebabkan karena kehilangan keluarga, kolega, atau saudara yang sangat dicintai akibat terpapar virus ini.

GMH mengingatkan, bahwa segalanya adalah jalan Tuhan dan telah ditakdirkan. Sehingga manusia hanya bisa berserah. Jika sedih tidak perlu terlalu sedih, jika gembira tidak perlu pula berlebihan. Tetap dikontrol agar jiwa tenang dan hati bahagia. "Pandemi ini juga membuat kita senantiasa waspada. Rasa waspada ini memicu hormon kortisol meningkat, yang diproduksi oleh otak lalu munculah gangguan cemas," ucapnya kepada Tribun Bali, Jumat 4 Februari 2022.

Jika kondisi ini berlangsung lama, maka akan menganggu keseimbangan serotonin dan dopamin sehingga memunculkan gangguan depresi. "Saat ini mungkin sangat banyak orang yang marah, kecewa akibat dari tekanan yang dialami dan dibayangi ketidakpastian.
Kondisi ini menimbulkan penurunan kondisi fisik sampai pada sulit tidur," jelasnya.

Bahkan banyak yang trauma mendengar berita, melihat ambulans, dan berada atau melihat orang banyak berkumpul, apalagi melihat orang tanpa masker. Semua hal di atas seringkali memicu neurotik. Neurotik adalah melakukan gerakan tiada arti, irasional, ritual personal, tingkah yang aneh, obsessive (OCD).

Obsessive Compulsive Disorder (OCD), adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Misalnya, mencuci tangan, mandi, mengusap wajah. Bila tidak dilakukan, penderita OCD akan diliputi kecemasan atau ketakutan.

Penderita OCD terkadang sudah menyadari bahwa pikiran dan tindakannya tersebut berlebihan, tetapi tetap merasa harus melakukannya dan tidak dapat menghindarinya. Sehingga ia tetap melakukan hal tersebut berulangkali tanpa disadari. Untuk itu, GMH mengajak masyarakat mengikuti terapi Kognitif dan Prana.

"Jangan biarkan kegundahan, stress, halu, kegalauan, gejala depresi ada dalam diri anda karena masa depan masih panjang," imbuhnya. Dosen UHN ini, mengatakan bahwa apa yang dialami manusia sampai detik ini adalah takdir, sedangkan apa yang akan terjadi di masa depan adalah nasib. Sehingga takdir memang tidak bisa diubah, tetapi nasib bisa diupayakan dengan doa dan kesadaran diri akan Tuhan. Bahwa beliau adalah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Pengasih. "Sehingga dengan berbuat baik, berkata baik, dan berpikir yang baik. Maka niscaya semuanya akan pula baik," ucap guru di Yayasan Brahmakunta ini. (ask)

Baca juga: BMKG Sebut Gempa Berkekuatan Magnitudo 5,5 di Bayah Banten Tidak Berpotensi Tsunami

Baca juga: Selama Miliki Visa Kunjungan Wisata B211A, Wisman yang ke Bali Bisa Kunjungi Destinasi Daerah Lain 

Baca juga: Kendaraan Muatan Berlebih Membahayakan, Polresta Denpasar telah Siapkan Sanksi Tegas

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved