Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Sejarah Evolusi Agama Hindu dari Mahenyodaro dan Harrapa

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, beberapa waktu lalu memberikan materi dalam sebuah pertemuan daring,

Tayang:
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti - Sejarah Evolusi Agama Hindu dari Mahenyodaro dan Harrapa 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASARIda Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, beberapa waktu lalu memberikan materi dalam sebuah pertemuan daring, mengenai sejarah evolusi agama Hindu.

Menurut sulinggih dari Griya Bhuwana Dharma Shanti, Sesetan, Bali ini, bahwa asal mula konsep tersebut dari Mahenyodaro dan Harrapa.

“Karena di sanalah, awal ditemukannya peninggalan arkeologis dan pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan agama Hindu,” sebut beliau.

Lanjut beliau, menurut para sarjana bahwa di lembah sungai Sindhu itu, diperkirakan telah berlangsung sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi.

Baca juga: IGB Weda Sanjaya, Guru Bahasa Bali SMAN Bali Mandara Raih Hadiah Sastera Rancage Tahun 2022

Di lembah itu pula lah merupakan peradaban Harappa.

Selain peradaban kuno di Mahenyodaro.

Termasuk kedua peradaban tersebutlah, yang sangat berkaitan dengan konsep Weda.

“Dalam ajaran Hindu kita mengenal kitab suci yaitu Weda, yang diturunkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui beberapa para rsi,” sebut pensiunan dosen UNHI ini.

Lanjut beliau, turunnya Weda tidak bersamaan sebab yang menerima wahyu tidak hanya satu rsi saja.

Tetapi diketahui ada lebih dari 5 rsi yang mendapatkan wahyu Tuhan, yang dikenal dengan sebutan Sapta Maha Rsi (7 rsi).

“Wahyu yang diterima itu berbeda-beda, dan tahunnya pun berbeda-beda,” sebut beliau.

Kemudian dikenallah konsep Catur Weda, dengan bahasa antara satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

“Tetapi anehnya, bahwa semua itu berhubungan antara satu dengan lainnya,” tegas beliau.

Dalam Hindu dikenal istilah Weda Sruti dan Weda Smrti.

Dijelaskan beliau, bahwa Weda Sruti adalah wahyu Tuhan dan Weda Smrti adalah penjelasan dari Weda tersebut.

“Tetapi perlu diketahui, bahwa Weda Smrti adalah Weda itu sendiri,” kata beliau.

Kemudian Weda Sruti dibagi menjadi tiga bagian, diantaranya mantra, Brahmana, dan Upanisad atau Aranyaka.

Beliau mengatakan, perbedaan bahasa dari wahyu Tuhan yang turun ke dalam Weda ini karena adanya perbedaan zaman tatkala turunnya wahyu tersebut.

“Tentu saja perbedaan bahasa setiap zaman berbeda, apalagi ribuan tahun yang lalu,” sebut beliau.

Bagian Weda Sruti pertama adalah mantra, yang diturunkan ke dalam Reg Weda Samhita dengan bahasa Weda paling kuno, biasanya dalam mantra-mantra pujaan.

Kemudian diturunkan ke Sama Weda, yakni sloka dengan lagu pujaan.

Baru diturunkan lagi ke Yajur Weda, yakni sloka pokok tentang yadnya.

Dan terakhir adalah Atharwa Weda, yaitu sloka bersifat magis.

“Sehingga mantra-mantra itu, banyak tidak diketahui secara tepat. Untuk itu, ada konsep yang mencoba mendalami apa sebenarnya isi Weda ini,” jelas beliau.

Sehingga Weda lebih mudah dipahami, divisualisasikan dan mudah untuk dipahami oleh umat Hindu di seluruh dunia.

“Maka dengan itu timbullah zaman Brahmana,” sebut mantan jurnalis ini.

Pada zaman Brahmana ini, kata beliau, tiada lain adalah tentang penjelasan tentang yadnya itu sendiri.

Yang kemudian disebut pula dengan Karma Kanda, atau melakukan perbuatan.

“Dari kita melakukan sembah bakti kepada Tuhan, tidak hanya dengan berdoa begitu saja. Tetapi kita juga melakukan dengan perbuatan atau karma,” tegas Ida Rsi.

Karma yang dilakukan dengan kerja, melakoni perbuatan yang baik sesuai isi dari Weda itu sendiri.

Bahkan dengan memvisualkan Weda itu sendiri.

Agar masyarakat tahu apa sebenarnya inti dari mantra-mantra pujaan tersebut.

Sehingga pada zaman Brahmana ini, timbullah konsep-konsep yang disebut dengan bebantenan (upakara).

Sehingga bebantenan atau sarana upakara ini, memiliki arti, fungsi, dan makna yang sangat tinggi karena berhubungan dengan ketuhanan.

Oleh sebab itu, kata beliau, banten sangat penting dari zaman Hindu kuno hingga zaman modern saat ini.

Baca juga: Weda dari Ingatan Maharsi, Berikut Jenis-jenis Vedangga

“Sebab dengan banten itu, orang akan sembahyang dan merasa khyusuk, karena ada sesuatu sarana upakara yang memberikan vibrasi positif menyertai,” sebut beliau.

Pada zaman Karmakanda atau zaman Brahmana itu pula, timbul beberapa penafsiran-penafsiran.

Lanjut sulinggih yang juga mantan bendesa adat ini, Weda mengajarkan tentang kesetaraan manusia pula. (*)

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved