Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Sponsored Content

BNI Galakkan Digitalisasi Pasar Tradisional di Bali

BNI Galakkan Digitalisasi Pasar Tradisional di BaliBNI Galakkan Digitalisasi Pasar Tradisional di BaliBNI Galakkan Digitalisasi Pasar Tradisional di B

Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Harun Ar Rasyid
Adrian Amurwonegoro
Pedagang Pasar Nyanggelan, Panjer, Denpasar mulai menerapkan digitalisasi dengan transaksi menggunakan QRIS, pada Jumat, 1 April 2022. 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - 60 persen dari 192 pedagang Pasar Nyanggelan, Desa Adat Panjer, Kota Denpasar, Bali mulai dilibatkan dalam program digitalisasi transaksi di Pasar Tradisional oleh PT. Bank Negara Indonesia (BNI).

Launching digitalisasi transaksi dihadiri langsung oleh Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali, Trisno Nugroho, Kepala BNI Kanwil 8 Denpasar mewilayahi Bali Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur I Gusti Nyoman Dharma Putra beserta pejabat terkait lainnya.

Menurut Kepala BNI Kanwil 8 Denpasar, I Gusti Nyoman Dharma Putra, yang biasa di sapa Gustra, upaya digitalisasi transaksi menggunakan QRIS BNI ini selaras dengan visi BNI dalam membantu masyarakat mengikuti perkembangan zaman di era modern ini serta membantu mengindari penyebaran covid 19.

"Melalui program digitalisasi ini BNI secara nyata memudahkan bagi masyarakat saat berbelanja ke pasar, dimana tidak perlu lagi membawa uang tunai, cukup melalui QRIS BNI bisa menerima pembayaran dari bank mana saja, maupun e wallet apa saja, bahkan kedepannya sistem ini memungkinkan transaksi jual beli di pasar tradisional dilakukan secara online dan barang tinggal dikirim ke pelanggan," papar Gustra saat dijumpai Tribun Bali di lokasi acara.

Saat ini BNI sudah memiliki merchant QRIS sebanyak 32.400 titik se-Bali, sedangkan user QRIS BNI mencapai 606.500 pengguna. Program digitalisasi ini secara riil meningkatkan nilai transaksi BNI.

Bukan tanpa kendala, Gustra menuturkan, masih perlu sosialisasi dan edukasi yang masif untuk penerapan digitalisasi karena banyak pedagang yang masih awam dengan teknologi QRIS.

"Proses ini terus kita lakukan, evaluasi seperti ada yang lupa bawa handphone, cara pengoperasian dan lain sebagainya, kami ada tim untuk edukasi, memang butuh waktu seperti jaman dulu, pembayaran dengan sistem barter, beralih ke uang, lagi sekarang digital," paparnya.

Sementara itu, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menyampaikan, bahwa program digitalisasi ini merupakan dorongan pemerintah untuk memperkuat struktur fondasi perekonomian

"Menghidupkan aktivitas seni, tradisi, budaya di Denpasar, yang memiliki aset kita dorong bangun pasar, hasil keuntungan LPD, pasar, untuk kegiatan budaya, keagamaan, upacara adat, seni, berkontribusi membantu bagi masyarakat," paparnya.

Wali Kota pun mendorong digitalisasi pasar, setiap pasar didorong memanfaatkan perkembangan teknologi digital dalam memudahkan masyarakat betransaksi jual beli, Pasar Nyanggelan dipilih menjadi pilot project karena merupakan salah satu pasar terbaik yang dimiliki Kota Denpasar.

"Kita sekarang istilahnya pedagang pasar tradisional di dorong pakai QRIS, transaksi bisa langsung masuk ke rekening, perputaran perekonomian lebih termonitor," ujarnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho menargetkan 100 persen pasar di Denpasar menjadi pasar modern tradisional berbasis smart digital sehingga pedagang lebih maju serta dapat mengantisipasi peredaran uang palsu di pasar.

"QRIS memiliki slogan SIAP (Sehat, Inovatif, Aman Pakai QRIS), targetnya 100 persen pasar tradisional terdigitalisasi, tidak kalah dengan toko modern, sehingga semua sektor tersentuh digitalisasi kedepan juga tidak bisa dihindari, Bali sudah 50 persen lebih, sudah ada 434.000 merchant pakai QRIS, Denpasar bisa jadi contoh" ujarnya.

Bendesa Adat Panjer, Jro Bendesa Anak Agung Ketut Oka Adnyana menyampikan bahwa Pasar Nyanggelan berdiri sejak tahun 1995 yang kala itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat sebagai persyaratan lomba desa.

Pasar tersebut dibangun di atas tanah laba pura seluas 26 are, seiring berjalannya waktu dilakukan revitalisasi pada tahun 2013 dengan menelan APBN Rp 5 Miliar ditambah dana pembangunan desa secara swadaya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved