Serba Serbi
Hyang Pasupati dan Kaitannya dengan Tumpek Landep
Bantennya berupa tumpeng putih dan kuning satu dulang. Dengan daging ayam, ikan asin, terasi warna merah, sedah woh 25 biji
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pada Sabtu, tanggal 9 April 2022, adalah hari Tumpek Landep.
Pada hari Tumpek Landep adalah hari pujawali Bhatara Siwa, serta hari payogan Hyang Pasupati.
Untuk upakara atau banten, yang dipersembahkan kehadapan Bhatara Siwa.
Bantennya berupa tumpeng putih dan kuning satu dulang. Dengan daging ayam, ikan asin, terasi warna merah, sedah woh 25 biji.
Baca juga: Arti Penting Yadnya di Dalam Kepercayaan Hindu Bali, Berikut Penjelasannya
Kemudian banten yang dipersembahkan ke hadapan Hyang Pasupati, adalah sasayut pasupati satu, sasayut jayeng perang satu, suci, daksina, peras, canang wangi, pasucian.
Pemujaan dilaksanakan melalui senjata dan barang-barang yang serba lancip.
Dalam lontar Sundarigama, disebutkan makna upacara Tumpek Landep, adalah memohon kehadapan Hyang Pasupati agar berkenan menganugerahkan ketajaman pikiran.
Serta ketangguhan dalam menghadapi perjuangan hidup.
Tumpek dalam Hindu, khususnya di Bali adalah sebagai hari untuk mengingatkan agar umat manusia tidak melupakan dan tidak menjauh dari Hyang Maha Wisesa atau Tuhan.
Sebab segala yang ada di dunia ini, adalah ciptaan Tuhan.
Kemudian dijelaskan dalam banyak literatur, Hyang Aji Pasupati adalah seorang maha suci yang dahulu menurunkan sapta dewata-dewati.
Ini berkaitan dengan silsilah bhagawanta, sebagai penuntun umat untuk dapat kembali meyakini Dharma.
Dalam Purana Dewa Tattwa, disebutkan bahwa setelah Hyang Pasupati melakukan yoga di Gunung Semeru.
Kemudian dijelaskan dalam Babad Dalem dan babad lainnya, Ida Bhatara Hyang Pasupati di Semeru mengadakan putra dari yoganya. Kemudian putra itu dititahkan ke Bali.
Baca juga: Kajeng Kliwon Menurut Hindu Bali, Ini Persembahan yang Dihaturkan Agar Tak Diganggu Bhuta Kala
Beberapa putra beliau adalah Ida Bhatara Putra Jaya di Besakih, Ida Bhatara Gnijaya di Lempuyang Luhur, Ida Bhatari Danu di Ulun Danu Batur, Ida Bhatara Hyang Tugu di Gunung Andakasa, Karangasem. Ida Bhatara Hyang Manik Gumawang, di Gunung Beratan. Ida Bhatara Hyang Manik Gelang di Pejeng. Serta Ida Bhatara Hyang Tumuwuh di Gunung Batukaru.
Sehingga disebutkan bahwa Hyang Pasupati, adalah sumber dari semua leluhur khususnya di Bali.
Untuk itu pula diharapkan dalam Tumpek Landep ini, agar umat manusia tidak melupakan leluhurnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kisah-pande-keris-di-denpasar-tumpek-landep.jpg)