Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

CUACA Panas Jadi BERKAH! Covid-19 AKAN Segera BERAKHIR!

Sejumlah daerah di Indonesia, mengalami cuaca panas terik dalam waktu beberapa hari terakhir.cuaca panas membantu berakhirnya virus Covid-19.

Tayang:
Pixabay/geralt
ilustrasi cuaca panas terik saat ini 

 

TRIBUN-BALI.COM - Apakah kalian merasa, belakangan ini cuaca agak panas?

Kalian benar, karena memang cuaca panas terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. 

Sejumlah daerah di Indonesia, mengalami cuaca panas terik dalam waktu beberapa hari terakhir.

Dilansir dari Kompas.com, masyarakat dapat memantau suhu maksimum harian di masing-masing kota.

Ilustrasi cuaca panas(shutterstock)
Ilustrasi cuaca panas(shutterstock)

Fenomena cuaca panas, atau suhu udara terik yang terjadi saat siang hari.

Dipicu posisi semu matahari, yang berada di wilayah utara ekuator.

Ini mengindikasikan sebagian wilayah Indonesia, akan mulai memasuki musim kemarau.

Baca juga: AKHIR Dari Virus Covid-19, Ini Kata Prof. Mahardika!

ilustrasi musim kemarau
ilustrasi musim kemarau.

Artinya, tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujannya akan sangat berkurang.

Sehingga cuaca cerah pada pagi, menjelang siang hari akan cukup mendominasi.

Selain itu, dominasi cuaca cerah dan tingkat perawanan yang rendah dapat mengoptimalkan penerimaan sinar matahari di permukaan bumi.

Hal ini menyebabkan kondisi suhu yang dirasakan masyarakat menjadi cukup terik saat siang hari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), telah menegaskan bahwa cuaca panas terik yang terjadi di wilayah Indonesia.

Bukanlah fenomena gelombang panas.

Dikutip dari World Meteorological Organization (WMO), gelombang panas atau heatwave adalah fenomena kondisi udara panas, yang berkepanjangan selama lima hari atau lebih secara berturut-turut.

Dengan suhu maksimum harian lebih tinggi, dari suhu maksimum rata-rata hingga 5 derjat celsius atau lebih.

Baca juga: Peringatan BMKG, Kamis 19 Mei 2022 Sejumlah Daerah Cuaca Ekstrem, Bali Potensi Hujan Angin Kencang

Laman suhu maksimum tersebut dapat dicek melalui http://web.meteo.bmkg.go.id/pengamatan/pengamatan-harian.

Dalam analisis klimatologi, sebagian besar lokasi-lokasi pengamatan suhu udara di Indonesia, menunjukkan dua puncak suhu maksimum yaitu pada April-Mei dan September.

ilustrasi cuaca panas terik saat ini
ilustrasi cuaca panas terik saat ini

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saepudin, menjelaskan cuaca panas di Indonesia akan berlangsung setidaknya selama bulan ini.

“Secara umum (suhu panas terik) selama Mei,” ujar Miming, seperti dikutip Kompas.com, Selasa 17 Mei 2022.

Miming menambahkan, masyarakat dapat memantau suhu maksimum harian di berbagai wilayah Indonesia melalui laman yang disediakan BMKG.

Laman suhu maksimum tersebut dapat dicek melalui http://web.meteo.bmkg.go.id/pengamatan/pengamatan-harian.

Baca juga: Fenomena Cuaca Panas Bisa Berdampak Serius untuk Perempuan

Dalam laman tersebut, tersedia sejumlah informasi seperti kelembapan udara, suhu, dan curah hujan.

Peringatan dini cuaca, petir, siklon tropis, kebakaran hutan, dan lainnya.

Yang datanya selalu diperbarui setiap hari.

Terdapat wilayah Indonesia yang mengalami suhu hingga 36,6 derajat celsius.

Terpantau di Stasiun Meteorologi Iskandar pada 16 Mei 2022.

Namun, suhu maksimum sekitar 36 derajat celsius, bukanlah merupakan suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia.

Dikarenakan rekor suhu tertinggi pernah terjadi 40 derajat celsius di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, pada 5 September 2012.

termometer suhu udara
termometer suhu udara.

Kendati begitu, anomali suhu yang lebih panas dibandingkan beberapa wilayah lain di Indonesia.

Mengindikasikan faktor lain, yang mengamplifikasi periode puncak suhu udara tersebut.

Untuk diketahui, sirkulasi massa udara memicu tertahannya masa udara panas, di atas sebagian wilayah Sumatera dan Jawa.

Sehingga mengamplifikasi cuaca panas.

Kondisi udara yang terasa panas, dan tidak nyaman dapat disebabkan oleh suhu udara yang tinggi.

Fenomena cuaca panas di Indonesia, saat suhu udara tinggi terjadi pada udara yang kelembapannya tinggi.

Maka akan terkesan gerah.

Sedangkan bila udaranya kering (kelembapan rendah), maka akan terasa terik dan membakar. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cuaca Panas Indonesia, Pantau Suhu Maksimum Harian Lewat Link Ini".

Nah di sisi lain, walau kita merasakan gerah pada bulan Mei 2022 ini. 

Namun cuaca panas, sangat membantu. 

Khususnya membantu mengurangi aktivasi virus, salah satunya virus Covid-19. 

Virus yang sedang mewabah di dunia, dan di Indonesia sejak 2019 lalu.

Baca juga: AKHIR Dari Virus Covid-19, Ini Kata Prof. Mahardika!

Hal ini dijelaskan oleh Ahli Virus Universitas Udayana Bali. Prof Dr drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika. 

Ahli Virologi Universitas Udayana Bali, Prof. Dr. drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika
Ahli Virologi Universitas Udayana Bali, Prof. Dr. drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika (Podacst Tribun Bali)

Kepada Tribun Bali, guru besar Unud ini menjelaskan. 

Bahwa masyarakat Indonesia patut bersyukur.

Sebab banyak hal yang menyumbang penurunan kasus akibat virus Covid-19.

Pertama, anugerah suhu yang panas dan lembab.

Kedua, vaksinasi Covid-19 yang percepatannya gencar dilakukan dan PPKM.

Dan ketiga ialah alam dan Omicron.

Virus Omicron
Virus Omicron (Pixabay/Alexandra_Koch)

“Kenapa Omicron, karena Omicron menyediakan vaksin alami.

Malam ini pergilah ke tempat ibadah masing-masing, untuk puji syukur 'end of the game'.

Omicron muncul ini kemungkinan jackpot umat manusia, pandemi akan berakhir,” tegasnya.

Baca juga: AKHIR Dari Virus Covid-19, Ini Kata Prof. Mahardika!

Lantas kapan pandemi di Indonesia menjadi endemi.

Menurutnya, ada dua hal yang perlu diketahui dari endemi.

Dari factor scientific, dan politis serta peran WHO dan pemerintah dalam hal ini.

“Endemi per definisi scientific kita perlu memantau paling tidak dalam periode tertentu.

Tidak bisa hanya satu hari, satu bulan minimal 3 bulan bisa dipantau perkembangannya setiap 3 bulan.

Secara politis, ada dimensi lain yang tidak bisa saya sampaikan.

Umumnya ada peran WHO dan pemerintah Indonesia.

Bisa saja tidak hanya melihat keadaan sekarang, tetapi melihat resiko semua penduduk satu negara.

Namun ada penduduk negara lain, yang masih memiliki resiko.

WHO harus melihat secara keseluruhan,” paparnya.(*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved