Breaking News:

Berita Budaya

Ini Makna Tradisi Mekotek di Desa Munggu, Jika Tak Diadakan Timbulkan Wabah Penyakit

Tradisi Mekotek yang berlangsung di Desa Munggu, Badung berlangsung dua kali dalam setahun dan tepat diberlangsungkan pada Hari Raya Kuningan. Kebetul

Wahyuni Sari
Tradisi Mekotek di Desa Adat Munggu pada, Sabtu 18 Juni 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tradisi Mekotek yang berlangsung di Desa Munggu, Badung berlangsung dua kali dalam setahun dan tepat diberlangsungkan pada Hari Raya Kuningan. Kebetulan hari ini pada, Sabtu 18 Juni 2022 tradisi Mekotek kembali dilangsungkan.

I Made Rai Sujana selaku Bendesa Adat Munggu mengatakan tradisi ini diikuti oleh 3 ribu masyarakat asli Munggu.

"Yang ikut Mekotek seluruh masyarakat Desa Adat Munggu yang kurang lebih jumlahnya 3000 orang. Kita memiliki penduduk 1.138 Kepala Keluarga (KK) masing-masing rumah dikalikan 3 orang karena laki-laki dan perempuan wajib ikuti Mekotek," katanya.

Ia juga menerangkan pada saat pandemi Covid-19 lalu, tradisi Mekotek yang ada di Desa Adat Munggu tetap dilaksanakan. Karena makna dari tradisi Mekotek tidak lain sebagai penolak bala atau memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME).

Di saat pandemi Covid-19 tradisi mekotek tetap dilaksanakan namun jumlahnya yang dibatasi hanya kepada para pemuda dan jumlahnya hanya 100 orang saja.

"Menurut sejarah dari leluhur kami tradisi Mekotek ini pernah ditiadakan atau tidak dilaksanakan yaitu pada jaman penjajahan Belanda. Dikira waktu itu kita akan melakukan pemberontakan kepada Belanda. Karena dulu Mekotek ini menggunakan tombak sehingga dikira akan mengadakan perlawanan pada Belanda. Lalu beberapa kali tradisi mekotek ini tidak dilaksanakan. Dan yang terjadi Desa Munggu diserang dengan wabah penyakit hampir setiap hari 10 orang meninggal," paparnya.

Tradisi Mekotek di Desa Adat Munggu pada, Sabtu 18 Juni 2022.
Tradisi Mekotek di Desa Adat Munggu pada, Sabtu 18 Juni 2022. (Wahyuni Sari)

Kemudian para tokoh adat dan agama pada saat itu melakukan negosiasi pada Belanda dan akhirnya diizinkan kembali melaksanakan tradisi Mekotek sampai saat ini.

Rangkaian Mekotek sesuai dengan sejarahnya suatu perayaan kemenangan pasukan Taruna Munggu pada jaman Kerajaan Mengwi berhasil mempertahankan wilayah Raja Mengai yang ada di Tanah Blambangan.

Keberhasilan Karang Taruna Munggu dalam misi mempertahankan Blambangan dari Raja yang ada di Jawa itulah membuat setiap Tumpek Kuningan dilaksanakan tradisi Mekotek.

Rangkaian pelaksanaan tradisi mekotek diawali dengan mengaturkan sesajen kepada yang 'tamyang kolem atau tameng' yang diistanakan sampai sekarang dan merupakan bukti real ketika Pasukan Taruna Munggu melawan kerjaan di Jawa untuk mempertahankan Blambangan.

"Jam 12 siang mengaturkan sesajen di Pura Dalam setelah itu sembayang bersama memohon keselamatan. Setelah dilakukan sembayang bersama barulah ritual Mekotek dilaksanakan mengelilingi Desa," terangnya.

"Walaupun Covid-19 masih ada, tetapi sudah ada kebebasan dari Presiden untuk penonton tidak ada pembatasan begitu juga dengan peserta mekotek tidak ada pembatasan," pungkasnya.

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved