Tabrakan Maut Baturiti
SUAMI Wayan Wandani Masih Terpukul, Keluarga Harapkan Ada Pertanggungjawaban Perusahaan Bus
Keluarga mendiang Ni Wayan Wandani, berharap itikad baik, dari perusahaan bus pariwisata yang menabrak ibu tiga anak.Sang suami saat ini terpukul.
Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Keluarga mendiang Ni Wayan Wandani, berharap ada itikad baik, dari perusahaan bus pariwisata yang menabrak ibu tiga anak itu.
Hingga menyebabkan Wayan Wandani meninggal dunia.
Dalam tragedi tabrakan maut di Banjar Pacung, Baturiti, Tabanan, Bali.
Kecelakaan beruntun itu terjadi karena rem bus pariwisata blong dan tidak berfungsi saat jalan turunan.
Ibu berusia 30 tahun ini, meninggal dunia setelah ikut tertabrak bus pariwisata yang remnya blong di wilayah Baturiti.
Suami korban, Nyoman Sukra, masih belum bisa berbicara banyak.
Pria 35 tahun itu, sangat terpukul dengan kepergian sang istri.
Baca juga: PILU! Wayan Wandani, Korbankan Diri Selamatkan Anaknya Dalam TABRAKAN Maut di Baturiti
Baca juga: TRAGIS! WAYAN Wandani Meninggal Dunia Usai Sembahyang Kuningan Dalam Tabrakan Maut di Baturiti

Wayan Suadarma, kakak sepupu korban, mewakili keluarga besar.
Pria 53 tahun itu, meminta supaya perusahaan bus pariwisata memilki itikad baik, untuk datang ke rumah mendiang korban.
Meskipun, pada dasarnya keluarga korban sudah ikhlas atas kejadian memilukan kemarin, Sabtu 18 Juni 2022.
Pihak keluarga pun, menyerahkan sepenuhnya penyelidikan untuk kasus itu ke pihak kepolisian.
Wayan Suadarma menyatakan, bahwa sejatinya pihaknya mengikhlaskan.
Hanya saja, itikad baik perusahaan bus untuk datang, juga diharapkan dari keluarga.
Karena sudah ikhlas, maka perusahaan bus bisa datang untuk memerhatikan keluarga korban.
Serta polisi dapat menyelesaikan kasus kecelakaan lalu lintas ini dengan tuntas.
Baca juga: PILU! Wayan Wandani, Korbankan Diri Selamatkan Anaknya Dalam TABRAKAN Maut di Baturiti
Baca juga: TRAGIS! WAYAN Wandani Meninggal Dunia Usai Sembahyang Kuningan Dalam Tabrakan Maut di Baturiti

“Kami keluarga sudah ikhlas.
Kepolisian biar diselesaikan kasus ini, dan kewenangan itu bukan urusan kami.
Kami tidak ngotot.
Harapan supaya bisa musyawarah untuk kebaikan bersama.
Dan keluarga menyadari, bahwa tidak ada kesengajaan.
Namun, hanya meminta perhatian dari pihak perusahaan bus,” ucapnya Minggu 19 Juni 2022.
Suadarma mengatakan, bahwa suami mendiang korban.
Yakni Nyoman Sukra, 35 tahun, memilih supaya korban dikuburkan terlebih dahulu.
Tidak langsung dikremasi atau prosesi pengabenan.
Penguburan dilakukan besok sore, 20 Juni 2022 pukul 15.00 WITA.
Bertempat di Setra Desa Adat Pacung.
Baca juga: PILU! Wayan Wandani, Korbankan Diri Selamatkan Anaknya Dalam TABRAKAN Maut di Baturiti
Baca juga: TRAGIS! WAYAN Wandani Meninggal Dunia Usai Sembahyang Kuningan Dalam Tabrakan Maut di Baturiti

Karena suami korban memilih untuk dikuburkan.
Maka warga dan prajuru desa adat juga turut bersepakat.
Untuk kemudian, esok hari baru akan digelar acara penguburan.
“Bisa untuk pengabenan, tapi suami minta dikuburkan terlebih dahulu,” ucapnya, Minggu 19 Juni 2022.
Dijelaskannya, bahwa mendiang korban merupakan ibu rumah tangga.
Sekaligus membantu suaminya yang merupakan petani.
Mendiang memiliki tiga orang buah hati, yang seluruhnya adalah perempuan.
Yang pertama anaknya Ni Luh Putu Octa, saat ini naik ke kelas empat SD.
Sedangkan yang dua lainnya, ia tidak terlalu mengingat nama anaknya.
“Korban membantu suaminya yang petani.
Sehari-hari juga ibu rumah tangga.
Anaknya tiga semua cewek.
Dan yang pertama itu Ni Luh Putu Octa,” jelasnya.

Sedihnya, tatkala kejadian naas itu, mendiang Wayan Wandani harus meregang nyawa karena menyelamatkan anak pertamanya.
Ia mendorong Ni Luh Putu Octa, agar tidak tertabrak bus.
Namun sayang dirinya yang tertabrak.
Wayan Wandani sempat dibawa ke rumah sakit, namun sayang nyawanya tidak tertolong.
Untuk saat ini, krama desa adat atau warga Banjar Pacung, sedang bergotong royong atau menyama braya.
Mempersiapkan banten dan kebutuhan untuk upacara/upakara penguburan esok hari.
Selain banten dan juga peti jenazah, mereka juga mempersiapkan alat sarana prasarana lainnya.
Penguburan sendiri, memang sesuai petunjuk dari desa adat yang sudah memberikan.
Dan kondisi suami masih berduka, sehingga belum sepenuhnya bisa berpikir jernih untuk prosesi ke pengabenan.
“Sosok adik (mendiang Wayan Wandani), untuk menyama braya aktif dan baik di banjar.
Dan sekarang kami siapkan alat sarana prasarana buat besok (penguburan),” imbuhnya. (*)