serba serbi

KAJENG KLIWON, Jangan Lupa MALUKAT dan Sembahyang ya Tribunners!

"Kajeng Kliwon Enyitan, adalah Hari Suci spesial dalam Hindu. Untuk itu umat diharapkan Sembahyang," jelasnya kepada Tribun Bali.

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Kajeng Kliwon Enyitan jangan lupa malukat dan sembahyang. 

TRIBUN-BALI.COM - Kajeng Kliwon, tepat pada hari ini, Minggu 3 Juli 2022 adalah Kajeng Kliwon Enyitan

Dalam Lontar Sundarigama, disebutkan bahwa saat purnama, tilem dan Kajeng Kliwon adalah Hari Suci

Hal ini pula disebutkan oleh Jero Mangku Ketut Maliarsa

"Kajeng Kliwon Enyitan, adalah Hari Suci spesial dalam Hindu. Untuk itu umat diharapkan Sembahyang," jelasnya kepada Tribun Bali.

Pensiunan kepala sekolah ini, mengatakan bahwa saat Kajeng Kliwon adalah hari dari payogan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bermanifestasi menjadi Dewa Siwa atau Bhatara Mahadewa,” jelasnya.

Baca juga: KAJENG KLIWON ENYITAN, Umat Hindu Diharapkan Mengekang Hawa Nafsu

Baca juga: HATI-HATI! Sang Hyang Kala Tiga Sebelum Galungan Bakal Menggoda 

Kajeng Kliwon, tepat pada hari ini, Minggu 3 Juli 2022 adalah Kajeng Kliwon Enyitan. 

Dalam Lontar Sundarigama, disebutkan bahwa saat purnama, tilem dan Kajeng Kliwon adalah Hari Suci. 

Hal ini pula disebutkan oleh Jero Mangku Ketut Maliarsa. 
Kajeng Kliwon, tepat pada hari ini, Minggu 3 Juli 2022 adalah Kajeng Kliwon Enyitan.  Dalam Lontar Sundarigama, disebutkan bahwa saat purnama, tilem dan Kajeng Kliwon adalah Hari Suci.  Hal ini pula disebutkan oleh Jero Mangku Ketut Maliarsa.  "Kajeng Kliwon Enyitan, adalah Hari Suci spesial dalam Hindu. Untuk itu umat diharapkan Sembahyang," jelasnya kepada Tribun Bali. Pensiunan kepala sekolah ini, mengatakan bahwa saat Kajeng Kliwon adalah hari dari payogan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bermanifestasi menjadi Dewa Siwa atau Bhatara Mahadewa,” jelasnya. (Dok. Tribun Bali)

Bhatara Mahadewa dikenal sebagai dewanya para dewa.

Sehingga sangat baik untuk menghaturkan sembah bhakti, memuja keagungannya.

Memuja Ista Dewata, untuk memohon keselamatan Tri Loka Bhuana (Bhur Loka, Bwah Loka, dan Swah Loka).

Dalam ajaran Agama Hindu, Dewa Siwa diyakini sebagai dewa pelebur karena berfungsi melebur segala sesuatu yang sudah usang.

Atau dikembalikan ke asalnya.

Umat Hindu di Bali memuja keagungan Dewa Siwa, ditempatkan di Pura Dalem.

Baca juga: KAJENG KLIWON ENYITAN, Umat Hindu Diharapkan Mengekang Hawa Nafsu

Baca juga: WASPADA Jangan Emosi Jelang Galungan, Itu Gangguan Sang Hyang Kala Tiga

Dalam ajaran Agama Hindu, Dewa Siwa diyakini sebagai dewa pelebur karena berfungsi melebur segala sesuatu yang sudah usang.

Atau dikembalikan ke asalnya.

Umat Hindu di Bali memuja keagungan Dewa Siwa, ditempatkan di Pura Dalem.
Dalam ajaran Agama Hindu, Dewa Siwa diyakini sebagai dewa pelebur karena berfungsi melebur segala sesuatu yang sudah usang. Atau dikembalikan ke asalnya. Umat Hindu di Bali memuja keagungan Dewa Siwa, ditempatkan di Pura Dalem. (Istimewa)

Berbeda dengan Dewa Brahma, dipuja di Pura Desa (Bale Agung).

Dan Dewa Wisnu distanakan di Pura Puseh.

Dewa Siwa berposisi di tengah, dengan warnanya berupa panca warna (brumbun). Senjatanya Padma dengan kendaraan lembu Nandini.

Istri Dewa Siwa adalah Dewi Durga, Dewi Uma, dan Dewi Parwati.

Dewi Uma adalah dewi yang sangat sakti, sehingga banyak dipuja manusia.

Dewi Parwati adalah istri Dewa Siwa yang kedua, merupakan reinkarnasi Dewi Sati atau Dewi Uma pasca menikah dengan Siwa.

Dewi Parwati saat marah dikenal sebagai Dewi Durga.

Serta memohon peleburan sarwa mala, yang ada di bhuana agung dan bhuana alit.

“Itulah sebabnya, mengapa umat Hindu Sembahyang bahkan sebelum Sembahyang, harus melakukan panglukatan terlebih dahulu.

Untuk pembersihan angga sarira (atika sarira) dan suksma sarira,” sebutnya.

Baca juga: KAJENG KLIWON ENYITAN, Umat Hindu Diharapkan Mengekang Hawa Nafsu

Baca juga: WASPADA Jangan Emosi Jelang Galungan, Itu Gangguan Sang Hyang Kala Tiga

Malukat di Pura Mangening Tampaksiring saat Kajeng Kliwon Enyitan.
Malukat di Pura Mangening Tampaksiring saat Kajeng Kliwon Enyitan. (Tribun Bali/AA Seri Kusniarti)

Untuk itu, malukat di Bali hampir bisa ditemui di semua kabupaten yang ada di Pulau Dewata

Seperti di Pura Dalem Pangembak, Sanur, Denpasar.

Pamedek hanya perlu menghaturkan dua pejati, dan dua bungkak nyuh gadang serta nyuh gading. 

Kemudian malukat akan dimulai dari air payau yang berada di bawah pura. 

Untuk membersihkan diri. 

Setelah itu, baru menuju ke pasiraman yang akan dilukat oleh pemangku. 

Malukat di Pura Dalem Pangembak, Sanur, Denpasar.
Malukat di Pura Dalem Pangembak, Sanur, Denpasar. (Tribun Bali/AA Seri Kusniarti)

Atau bisa juga malukat ke Pura Tirta Empul Tampaksiring. 

Dimana pamedek hanya perlu membawa canang sari untuk malukat.

Sementara untuk sembahyangnya bisa pejati dan canang sari. 

Fasilitas Pura Tirta Empul juga sangat lengkap. 

Malukat di Pura Tirta Empul Tampaksiring.
Malukat di Pura Tirta Empul Tampaksiring. (Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa)
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved