Berita Denpasar

MENTAL BOCAH TELANTAR Harus Dipulihkan Juga Kesehatannya, Ini Kata Psikiater

Mental bocah telantar harus dipulihkan selain kesehatannya. Ini menjadi tugas orang terdekatnya, khususnya orang tuanya. Ini Psikiater.

Penulis: Putu Yunia Andriyani | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Sup
NY anak terlantar dengan kondisi patah kaki dan luka telah dirawat di RS Wangaya. Diduga luka dan patah kaki itu didapat karena dianiaya pacar ibunya. Ini kata Dokter Anak 

TRIBUN-BALI.COM - Malang benar nasib NY, bocah telantar yang disiksa hingga patah tulang

Mirisnya yang menyiksa bocah ini, adalah kekasih dari ibu kandungnya sendiri. 

Di mana seharusnya, sang ibu melindungi anaknya. 

Namun ibu kandungnya, hanya diam melihat sang anak disiksa dengan sadis sampai luka-luka. 

Bahkan sang anak dibiarkan telantar di jalanan, dengan kondisi patah tulang paha dan luka lebam di sekujur tubuh. 

Tentu ini menjadi luka mendalam bagi si anak, apalagi di usianya yang masih perlu perlindungan. 

Untuk itu, pemulihan mental bocah telantar ini menjadi penting dilakukan selain pemulihan kesehatannya. 

Sebab perlindungan anak-anak menjadi tanggung jawab semua orang, khususnya orangtuanya sendiri. 

Baca juga: PILU! ANAK TERLANTAR di Sidakarya Denpasar Diduga Dianiaya Pacar Ibunya

Baca juga: IBU BOCAH Telantar Diamankan Polsek Densel, Akui Kesal Karena Tidak Mau Tidur

NY anak terlantar dengan kondisi patah kaki dan luka telah dirawat di RS Wangaya. Diduga luka dan patah kaki itu didapat karena dianiaya pacar ibunya.
NY anak terlantar dengan kondisi patah kaki dan luka telah dirawat di RS Wangaya. Diduga luka dan patah kaki itu didapat karena dianiaya pacar ibunya. (Sup)

Merespon kasus bocah telantar ini, yang dianiaya pacar ibu kandungnya sendiri.

Juga menjadi atensi Dokter Psikiater

Selain korban masih dalam usia balita, bocah telantar ditemukan dalam kondisi mengenaskan, yaitu patah tulang paha dan badan penuh luka.

Pemerintah Kota Denpasar melalui walikota dan jajarannya pun, telah turun tangan untuk menangani kasus ini.

Kasus ini juga mendapat tanggapan dari DR.dr. Anak Ayu Sri Wahyuni,SpKJ, selaku Ketua Yayasan Lentera Anak Bali (LAB).

Jika dilihat dari segi kesehatan mental, DR.dr. Anak Ayu Sri Wahyuni,SpKJ mengatakan bocah telantar tersebut tidak hanya menjadi korban.

Ia juga menjadi saksi terhadap perlakuan salah, oleh orangtua yang seharusnya memberikan perhatian kasih sayang dan hak-hak anak.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved