Berita Bangli

Sumpal Potensi Kebocoran Retribusi Hingga 40 Persen, Desa Penglipuran Mulai Terapkan e-Ticket

Desa Wisata Penglipuran kini mulai menerapkan sistem elektronik tiket (e-Ticket) untuk penjualan tiket masuk.

Tribun Bali/Mercury
elektronik tiket - Tamu asing saat melakukan pembayaran tiket di Desa Penglipuran. Mulai tanggal 21 Agustus, Desa Penglipuran telah menerapkan sistem e-ticketing. Selasa (23/8/2022) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Desa Wisata Penglipuran kini mulai menerapkan sistem elektronik tiket (e-Ticket) untuk penjualan tiket masuk.

Sistem yang juga berlaku di Kintamani itu, dinilai lebih transparan serta mampu mengantisipasi potensi kebocoran.

Manajer Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa mengungkapkan, penerapan e-ticket ini dimulai tanggal 21 Agustus, bersamaan dengan seremonial launchingnya di Alun-alun Bangli.

Sebelum ditetapkan, pihak pengembang aplikasi memberi pelatihan terlebih dahulu.

"Semua manajemen diberi training tanggal 21 pagi harinya. Sistem ini tidak begitu rumit, jadi anak-anak milenial mudah memahami," ungkapnya, Selasa 23  Agustus 2022. 

elektronik tiket - Tamu asing saat melakukan pembayaran tiket di Desa Penglipuran. Mulai tanggal 21 Agustus, Desa Penglipuran telah menerapkan sistem e-ticketing. Selasa (23/8/2022)
elektronik tiket - Tamu asing saat melakukan pembayaran tiket di Desa Penglipuran. Mulai tanggal 21 Agustus, Desa Penglipuran telah menerapkan sistem e-ticketing. Selasa (23/8/2022) (Tribun Bali/Mercury)

Sumiarsa mengatakan, sebelumnya pihak Desa Penglipuran masih memanfaatkan sistem manual ticketing. Ia mengakui sistem tersebut kurang fleksibel, sebab rekapitulasi jumlah pengunjung hingga pendapatan per hari, baru bisa dipastikan setelah tutup. "Proses rekap itu butuh waktu lama hingga malam hari. Yang paling riskan itu di tiketing. Ada kalanya kertas tiket ini nempel, sehingga saat penghitungan di akhir terjadi selisih antara jumlah uang dan tiket yang terjual," ungkapnya.

Sebaliknya dengan sistem elektronik diakui lebih efektif, mudah, dan transparan. Semuanya bisa dipantau secara real time dari layar monitor. Mulai dari jumlah kunjungan tamu, jenis tamu asing atau domestik, dewasa hingga anak-anak, serta jumlah tiket yang terjual. "Termasuk juga meminimalisir terjadinya pemberian tiket berlebih. Karena dengan sistem e-Ticket, pengunjung hanya menerima bukti pembayaran saja, tidak lagi menggunakan tiket sobek," jelasnya.

Sistem e-Ticket ini menggunakan beberapa pola pembayaran. Mulai dari tunai, elektronik, debit hingga kartu kredit. "Untuk sementara kami masih fokus ke tunai dulu. Tapi per tanggal 1 September, kami akan mulai alihkan ke pembayaran non tunai. Walaupun tidak menutup kemungkinan kami masih menerima sistem pembayaran tunai," kata dia.

Sumiarsa mengatakan, pihaknya juga memberdayakan tenaga checker, terhitung sejak bulan Mei. Ada dua orang yang ditugaskan di parkir utara dan parkir tengah. Tugasnya untuk menghitung jumlah tamu dan berkoordinasi dengan petugas tiket, sebelum memasuki areal Desa Wisata Penglipuran. Sebab diakui banyak kejadian antara jumlah tamu yang dilaporkan, tidak sesuai dengan kenyataannya.

"Sesuai SOP kami, tour leader ataupun guide tidak boleh melakukan pembayaran sebelum tamu itu dicek oleh petugas checker. Ini untuk mengantisipasi pembayaran yang tidak sesuai dengan jumlah tamu. Katakanlah ada 20 tamu dalam satu rombongan, tapi yang dilaporkan tidak sesuai kenyataannya," ungkap Sumiarsa.

Begitupun setelah dihitung, petugas checker selanjutnya berkoordinasi dengan tour leader ataupun guidenya. "Semisal tour leader ataupun guide tidak sinkron dengan kami, maka kami minta guest listnya. Jadi lebih transparan," imbuh dia.

Upaya ini terbukti mampu menyumpal potensi kebocoran hingga 40 persen lebih. Mengacu pada data penjualan tiket di bulan April, Sumiarsa menyebut totalnya sebesar Rp 400 juta lebih. Sedangkan di bulan Mei, pendapatan mencapai Rp 1,9 miliar. Oleh sebab itu pada APBD Perubahan 2022, pihak pengelola Desa Wisata Penglipuran berani mengajukan target lebih.

"Kalau di APBD induk 2022, Pemda menargetkan pendapatan Rp 4 miliar, karena masih dalam suasana pandemi Covid-19. Tapi ternyata dari bulan Januari hingga Juni, jumlah yang terkumpul telah mencapai Rp 6,5 miliar lebih. Sehingga di APBD Perubahan kami ajukan target menjadi Rp 18 miliar," ungkapnya.

Sumiarsa optimis target yang diajukan ini dapat terealisasi. Sebab pengajuan target telah melalui perencanaan yang matang. Terlebih ada beberapa event besar yang menanti. Misalnya G20, ia mengakui Penglipuran menjadi top list untuk dikunjungi. Ada juga world tourism day tanggal 28 September yang akan difokuskan di Desa Penglipuran. Lalu Penglipuran Village Festival pada akhir tahun.

"Dengan sisa empat bulan ini, kami berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi target. Kalau sampai hari ini, dari tiket yang terjual sudah terkumpul sebanyak Rp 9,7 miliar," tandasnya. (mer)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved