Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Kapal Batu Bara Miring dan Kandas, PLTU Celukan Bawang: Itu Tanggung Jawab Transporter

Sejumlah warga Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng mendatangi kantor Gubernur Bali, Senin (29/8).

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Harun Ar Rasyid
Tribun Bali/Ratu
Proses pemindahan batu bara dari kapal yang miring dan kandas di perairan Celukan Bawang, akibat diterjang gelombang tinggi, Selasa (30/8)   

SINGARAJA, TRIBUN BALI - Sejumlah warga Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng mendatangi kantor Gubernur Bali, Senin (29/8).

Mereka mengeluh terkait lambatnya penanganan kapal tongkang bermuatan ribuan ton batu bara, yang kandas di laut desa setempat. Sebab, batu bara tersebut dikhawatirkan tumpah dan mencemari laut.

Dari pantauan di Pantai Celukan Bawang, kapal BG. TBS 3301 itu miring ke sebelah kiri, sehingga terpaksa dikandaskan, dengan jarak sekitar 200 meter dari bibir pantai.

Muatan batu bara sebanyak 9.700 ton yang diangkut oleh kapal itu kemudian dipindahkan dengan sistem ship to ship, atau dari kapal BG. TBS 3301 ke kapal tongkang lainnya. Batu bara itu dipindahkan dengan bantuan dua unit alat berat.

Foto: Ratu Ayu Astri Desiani/ Proses pemindahan batu bara dari kapal yang miring dan kandas di perairan Celukan Bawang, akibat diterjang gelombang tinggi, Selasa (30/8)
 
Foto: Ratu Ayu Astri Desiani/ Proses pemindahan batu bara dari kapal yang miring dan kandas di perairan Celukan Bawang, akibat diterjang gelombang tinggi, Selasa (30/8)   (Tribun Bali)

Hingga Selasa (30/8) siang, batu bara yang dipindahkan baru sekitar 3.000 ton. Pihak transporter dalam hal ini PT Tri Sukses Wanatama menargetkan pemindahan batu bara ini tuntas dilakukan dua hari kedepan.

Setelah dipindahkan dengan menggunakan kapal tongkang yang lain, batu bara yang diangkut dari Pelabuhan Sangata, Kalimantan Timur itu pun akan dimasukan ke PLTU Celukan Bawang.

Salah satu warga Desa Celukan Bawang, Ketut Mangku Wijana mengatakan, ia bersama sejumlah warga mendatangi Kantor Gubernur Bali, untuk memberikan surat pengaduan, terkait lambatnya penanganan kapal bermuatan batu bara yang miring di perairan laut Celukan Bawang. Namun dalam kunjungan itu, pihaknya tidak berhasil bertemu dengan Gubernur Bali Wayan Koster.

"Pak Gub tidak ada di kantor, jadi surat pengaduan kami berikan ke Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bali. Setahu saya, kapal itu sudah ada sejak 13 Agustus lalu. Miringnya sejak lima hari yang lalu, dan saya yakin sebagian batu baranya tumpah ke laut karena dihamtam ombak. Sayangnya, kenapa penanganannya lambat sekali. Padahal kapal itu sudah mengalami masalah sejak 13 Agustus lalu," keluhnya.

Dengan adanya kejadian ini, Mangku Wijana menyebut, perairan laut Celukan Bawang telah tercemar, mengingat warna air laut yang ada di sekitar kapal telah berubah menjadi hitam pekat. Selain itu, kejadian ini juga terjadi di Depan Pura Segara. Dimana masyarakat kerap melakukan ritual melukat di pantai tersebut.

"Warna laut di sekitar kapal yang kandas ini sudah hitam pekat. Sudah banyak batu bara yang tumpah ke laut. Sekarang batu bara yang dipindahkan baru yang di atas kapal. Bagaimana dengan yang sudah terlanjut tumpah ke laut? Apakah akan dibersihkan juga? Ini belum saya ketahui. Kalau tidak ditangani otomatis akan mencemari laut," tandasnya.

General Affair PT General Energi Bali (GEB) PLTU Celukan Bawang, Indrianti Tanutanto mengatakan, kandasnya kapal tongkang bermuatan batu bara ini bukan menjadi tanggung jawab pihaknya, melainkan tanggung jawab pihak transporter dalam hal ini PT Tri Sukses Wanatama. Sebab, peristiwa ini terjadi sebelum batu bara itu diserahterimakan kepada pihak PLTU Celukan Bawang.

"Jadi tanggungjawabnya masih pada pihak transporter. Karena batu bara itu posisinya belum kami terima. Kapal yang mengangkut batu bara mengalami kemiringan, saat dalam perjalanan menuju ke PLTU. Jadi batu bara itu belum sampai di kami, sehingga tanggungjawabnya ada di pihak transporter. Ini yang tidak dipahami oleh masyarakat," jelasnya.

Meski bukan menjadi tanggung jawab pihak PLTU, namun Indrianti menyebut, dirinya telah rutin mendesak pihak transporter agar kejadian ini segera ditangani. Hal ini dilakukan agar batu bara yang diangkut, tidak tumpah ke laut.

Bahkan pemindahan batu bara dengan sistem ship to ship itu merupakan usulan dari pihak PLTU.

"Jadi kapal ini datang dalam kondisi memang sudah miring. Kapal itu harus antre dengan kapal-kapal pengangkut batu bara lain, yang juga melakukan bongkar muat di PLTU. Harus nunggu antrean, karena bongkar muat itu paling cepat sehari. Sehingga kapal ini semakin miring, jadi terpaksa harus dikandaskan. Saat kapal dikandaskan, tentu pihak transporter sudah izin dengan Perbekel," jelasnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved