Berita Bangli

Warga Masih Hidup Dicatat Meninggal di Bangli Bali, Bawaslu Minta KPU Lakukan Perbaikan Data

Badan pengawas pemilu (Bawaslu) Bangli menemukan tujuh nama warga yang masih hidup, namun tercatat meninggal dunia. Temuan ini berdasarkan hasil uj

Tribun Bali
foto:/mer Ketua Bawaslu Bangli, I Nengah Purna 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bangli menemukan tujuh nama warga yang masih hidup, namun tercatat meninggal dunia.

Temuan ini berdasarkan hasil uji petik dari daftar pemilih berkelanjutan (DPB) bulan Juli 2022, yang telah diplenokan oleh KPUD Bangli.


Ketua Bawaslu Bangli, I Nengah Purna ditemui Rabu (31/8/2022) menjelaskan, secara umum DPB ini berisi data pemilih pemula dan warga yang telah meninggal dunia. DPB di-update oleh KPUD Bangli setiap bulannya, yang muaranya untuk menghasilkan Daftar Pemilih Tetap (DPT).


Lanjut Purna, dari DPB bulan Juli 2022, setelah diplenokan oleh KPUD Bangli, selanjutnya data tersebut diserahkan pada Bawaslu Bangli untuk dilakukan uji petik ke lapangan. Dalam hal ini, Bawaslu Bangli menggunakan metode sampling. 


"Yang tyang lakukan itu ada 77 sampling di empat kecamatan. Setelah dilakukan sampling, ternyata ada pemilih yang NIK dan Namanya tercantum sudah meninggal, tetapi fakta di lapangan orang tersebut masih hidup.

Baca juga: Kebakaran Rumah Makan Cepat Saji di Padangsambian Denpasar, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta

Dalam uji sampling kami juga mencari tahu apakah ada nama warga lain yang sama di satu TPS.

Kami juga mencocokan NIK dan nama warga yang tercantum sudah meninggal, serta bertemu dengan warga bersangkutan dan membuktikan melalui foto," ungkapnya.


Dari 77 sampling yang dilakukan, total ada tujuh warga yang tercatat sudah meninggal di DPB, namun faktanya masih hidup. Tujuh orang tersebut, tiga orang diantaranya dari Desa Landih, Bangli; Tiga orang dari Desa Tiga, Susut; dan satu orang dari Desa Jehem, Tembuku.


Terhadap data tersebut, Purna mengaku tidak tahu ini kesalahan siapa. Sebab KPUD Bangli biasanya mendapatkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Bangli. Demikian pula KPUD Bangli bisa memplenokan DPB karena sudah ada akta kematian. Pun dari Disdukcapil, imbuhnya, biasanya menerbitkan nomor akta kematian pasti ada pelaporan dan saksi. 

Baca juga: BBM Naik, Warga Tabanan Keluhkan, Ketut Sukanadi Harapkan Kendaraan Umum Dipermudah


"Kita belum tahu benang merahnya ada dimana. Namun atas temuan ini, kami berikan saran perbaikan kepada KPU Bangli, bahwa orang ini masih hidup. Bagaimanapun juga orang tersebut harus terlindungi hak-haknya dan tercantum pada DPT," tegasnya.


Pria asal Desa Pengotan, Bangli itu mengatakan temuan ini baru pertama kali, dari uji petik yang sudah dilakukan sebelumnya. Rata-rata tujuh orang yang namanya tercantum sudah meninggal berusia di atas 60 tahun, dan ada yang sedang sakit. 


Purna tidak memungkiri dengan jumlah sampling sebanyak 77 orang, masih ada kemungkinan nama warga lain yang tercantum meninggal tapi masih hidup. Oleh sebab itu kedepan, pihaknya akan berupaya memaksimalkan uji petik, dengan menambah jumlah sampling hingga 50 persen. 


"Terhadap data kematian dari DPB bulan Agustus ini jumlah samplingnya akan kami perbanyak. Katakanlah dari 200 orang yang namanya tercantum meninggal dunia, kalau bisa 100 orang akan kami sampling. Ini dilakukan karena jumlah personel kita yang terbatas," tandasnya. (*)

 

 

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved