Berita Denpasar

Terbukti Edarkan Sabu & Ekstasi di Denpasar, Kurir Narkoba asal Lumajang ini Divonis 9 Tahun Penjara

Terbukti Edarkan Sabu dan Ekstasi di Denpasar Kurir Narkoba asal Lumajang ini Divonis 9 Tahun Penjara

Penulis: Putu Candra | Editor: Harun Ar Rasyid
Tribun Bali/Dwi S
Ilustrasi Narkoba - Terbukti Edarkan Sabu dan Ekstasi di Denpasar, Kurir Narkoba asal Lumajang ini Divonis 9 Tahun Penjara 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Fuguh Tri Prasetyo (35) diganjar vonis pidana penjara selama sembilan tahun oleh majelis hakim.

Terdakwa kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 29 November 1986 ini dijatuhi pidana karena menjadi kurir narkoba golongan I jenis sabu dan ekstasi seberat seperempat kilogram.

Amar putusan telah dibacakan majelis hakim dalam sidang yang digelar secara daring di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis, 1 September 2022.

Dalam amar putusan majelis hakim menyatakan, terdakwa Fuguh telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah secara tanpa hak atau melawan hukum menerima dan menjadi perantara dalam jual beli narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 gram.

Ilustrasi narkoba jenis sabu-sabu. Terbukti Edarkan Sabu dan Ekstasi di Denpasar, Kurir Narkoba asal Lumajang ini Divonis 9 Tahun Penjara
Ilustrasi narkoba jenis sabu-sabu. Terbukti Edarkan Sabu dan Ekstasi di Denpasar, Kurir Narkoba asal Lumajang ini Divonis 9 Tahun Penjara (Tribun Bali/Dwi S)

Sebagaimana dakwaan primair Jaksa Penuntut Umum, terdakwa melanggar Pasal 114 ayat (2) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotik.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Fuguh Tri Prasetyo dengan pidana penjara selama sembilan tahun, dikurangi selama ditahan. Dengan perintah terdakwa tetap ditahan dan membayar denda sebesar Rp 3 miliar subsidair delapan bulan penjara," tegas majelis hakim.

Vonis majelis hakim lebih ringan setahun dari tuntutan JPU. Sebelumnya JPU Eddy Arta Wijaya menuntut terdakwa Fuguh dengan pidana penjara selama sepuluh tahun, denda sebesar Rp 4 miliar subsidair satu tahun penjara.

Menanggapi vonis majelis hakim, terdakwa didampingi tim penasihat hukumnya dari Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi Denpasar menyatakan menerima. Hal senada juga disampaikan JPU Eddy Arta Wijaya menanggapi putusan majelis hakim.

Diungkap dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum, bahwa terdakwa Fuguh ditangkap petugas BNNP Bali di depan rumah kos di Jalan Gatot Subroto 1/II, Banjar Tegeh Sari, Denpasar Utara, Jumat, 8 April 2022 sekira pukul 18.15 Wita.

Ditangkapnya terdakwa, bermula dari adanya laporan dari masyarakat yang diterima petugas BNNP Bali. Oleh petugas kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan di lokasi. Benar saja, petugas melihat terdakwa sedang meletakkan sesuatu dengan gelagat mencurigakan di atas bak sampah.

Tidak mau buruannya lepas, petugas langsung mengamankan terdakwa. Selanjutnya dilakukan penggeledahan, dan ditemukan tiga paket sabu yang ditempel terdakwa di atas bak sampah di depan rumah kos tempatnya tinggal. Dari tiga paket sabu itu total beratnya mencapai 239,88 gram Netto.

Tidak berhenti sampai di sana, penggeledahan juga dilakukan di kamar kos terdakwa. Petugas juga menemukan ekstasi sebanyak 134 butir dengan berat keseluruhan 29,8 gram netto. Ekstasi itu disembunyikan di dalam dispenser. Selain itu diamankan juga timbangan digital dan peralatan lainnya sebagai barang bukti.

Saat diinterogasi, terdakwa mengaku bahwa narkotik jenis sabu dan ekstasi itu adalah milik Iguk (buron). Terdakwa mengatakan hanya bekerja mengedarkan narkotik itu. Selama bekerja sejak Januari 2022 terdakwa telah lima kali menerima sabu milik Iguk. sedangkan ekstasi baru sekali.

Terdakwa diberi upah sebesar Rp 50 ribu setiap kali menempel sabu dengan cara ditransfer ke rekening miliknya. Terakhir kali Iguk mengirimkan upah kepada terdakwa pada 5 April 2022 sebesar Rp 1,5 juta. Upah itu sudah habis terdakwa gunakan untuk membayar utang dan kebutuhan hidup sehari-hari. CAN

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved