Berita Badung

Polusi Suara di Canggu Hingga Getarkan Jendela Warga, Satpol PP Bali Adakan Koordinasi

Polusi Suara di Canggu Hingga Getarkan Jendela Warga, Satpol PP Bali Adakan Koordinasi

Pexels/Jerome Govender
ILUSTRASI Polusi Suara di Canggu 

TRIBUN BALI.COM, MANGUPURA - Suara yang diduga berasal dari kawasan Bar dan Cafe areal Canggu cukup keras hingga menggetarkan jendela rumah warga kembali terjadi.

Menurut laporan dari beberapa warga suara dari musik hampir terjadi setiap malam terjadi.

Sebelum pandemi Covid-19 suara dentuman musik keras dari bar hingga cafe sudah pernah ditertibkan oleh Satpol PP.

Namun, pascapandemi suara itu malah makin keras.

ILUSTRASI Polusi Suara di Canggu
ILUSTRASI Polusi Suara di Canggu (Pexels/Jerome Govender)

Bahkan, suara bising ini terjadi hingga pukul 04.00 WITA, dan bergetar.

Hal tersebut pun masyarakat sekitar geram dengan suara bising hingga mereka ramai-ramai menandatangani petisi 'Basmi Polusi Suara di Canggu | End Extreme Noise in Canggu' melalui Change.org.

Hingga hari ini, Selasa 13 September 2022 pukul 14.41 sudah sebanyak 7.441 orang menandatangi petisi yang ditujukan pada Presiden RI Joko Widodo.

Ketika dikonfirmasi, Kasatpol PP Provinsi Bali Dewa Nyoman Rai Dharmadi pun membenarkan bahwa memang terjadi polusi suara di Canggu karena cafe dan bar yang ada pada kawasan atau posisi usaha uang kegiatanya terbuka tanpa ada peredam suara.

“Adanya bar dan cafe-cafe sebagai penunjang sektor pariwisata ini juga sangat berkontribusi besar terhadap perputaran ekonomi pascaketerpurukan akibat dampak pandemi Covid-19. Namun yang perlu ditekankan batasan waktu dan desibel atau tingkat kebisingan," ujarnya pada, Selasa 13 September 2022.

Sementara terkait dengan penertiban, pihaknya akan melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan instansi terkait, dan akan melakukan monitoring serta pengawasan untuk mendalami informasi tersebut.

Selain itu pihaknya juga akan melakukan rapat dalam waktu dekat ini untuk menyikapi adanya kebisingan ini.

Kemudian melakukan tindak aksi untuk menertibkannya.

Dewa Dharmadi juga menjelaskan bahwa yang perlu diatur dan dibatasi desibel suara sound system serta batas waktu.

“Untuk rekreasi maksimal desibel yang diperbolehkan 70 dB(A) sesuai Pergub No 16 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan," tutupnya. (*)

Baca juga: Penataan Loloan Yeh Poh Tak Ada Sosialisasi Pasti, Masyarakat Desa Adat Canggu Temui Giri Prasta

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved