Berita Denpasar

Sabung Ayam Atau Tajen Khas Bali Tetap Dapat Dilakukan Asal Tak Ada Transaksi Didalamnya

Sabung Ayam Atau Tajen Khas Bali Tetap Dapat Dilakukan Asal Tak Ada Transaksi Didalamnya

Tribun Bali/ Istimewa
Ilustrasi Judi Sabung Ayam atau Tajen 

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali, Ir. I Gusti Putu Budiarta menanggapi adanya permintaan Dewan Kabupaten Gianyar untuk membebaskan acara sabung ayam atau yang lebih dikenal dengan nama Tajen di Bali. Ketika dikonfirmasi, Budiarta mengatakan Tajen tetap dapat berlangsung di Bali asalkan digunakan sebagai atraksi budaya. 

“Kalau menurut saya sepanjang Tajen dipakai sebagai atraksi budaya tidak ada persoalan. Persoalan yang terjadi sekarang dimasyarakat adalah tajen itu identik dengan judi. Kalau judi jelas bertentangan dengan UUD diatasnya,” katanya pada, Kamis 22 September 2022. 

Lebih lanjutnya ia mengatakan, jika Tajen diarahkan ke atraksi budaya dalam rangka kegiatan upacara adat atau agama dapat dimaknai dengan nama ‘Tabuh Rah’. Nantinya jika Tabuh Rah yang ada pada upacara keagamaan dan tidak ditemukan unsur perjudian, ia mengatakan Bali akan tetap memperjuangkan hal tersebut agar dapat diberlakukan sepanjang kaitannya dengan upacara agama. 

“Yang sering terjadi di masyarakat Tajen itu kan identik dengan taruhan dan ini yang masih bertentangan dengan UUD 303 KUHP dan yang kedua diarahkan untuk menjadi sebuah atraksi budaya yang dinikmati oleh wistawan internasional dan domestik. Saya yakin tidak akan menjadi persoalan,” tambahnya. 

Intinya sepanjang tidak ada transaksi uang didalamnya kegitan Tajen ini diyakini Budiarta  tidak akan menjadi persoalan. Namun yang terjadi selama ini dilapangan berbeda dan Tajen sudah terlanjur diidentikan terdapat taruhan didalamnya. 

“Tapi kalau menurut saya kita harus membuat Perda khusus untuk memaknai Tajen sebagai tabuh rah dan atraksi budaya khusus Tajen saja,” imbuhnya. 

Didalam Perda tersebut nantinya difokuskan bahwa para pemain Tajen tidak melanggar peraturan perundang-undangan diatasnya. Dan sepanjang tidak melanggar aturan diatasnya, Budiarta meyakini Tabuh Rah atau Tajen harus dipertahankan. Persoalan dalam kegiatan Tajen ini terdapat taruhan. Menurutnya ketika sebuah permainan terdapat aksi taruhan uang, sudah termasuk kategori judi. 

“Kalau memang ingin membuat atraksi budaya tanpa ada unsur taruhan saya yakin tidak ada masalah. Kita mengesampingkan taruhannya,” ujarnya. 

Diharapkan Tajen ini ditampilkan untuk dinikmati oleh masyarakat, wisdom dan wisman. Sehingga khusus sebagai penarik keinginan wisatawan untuk menonton atraksi Tabuh Rah ini. (*) 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved