Berita Bali

Ini Perkiraan Dampak Resesi Global pada Indonesia, Menurut Para Ahli Ekonom

Seluruh dunia dikabarkan akan mengalami resesi global yang diperkirakan akan terjadi pada Tahun 2023 mendatang.

Tribun Bali/Putu Supartika
Ilustrasi pedagang di Pasar - Inflasi di Kota Denpasar Capai 6,4 Persen, Pemkot Anggarkan Dana Rp 5,3 Miliar 

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Seluruh dunia dikabarkan akan mengalami resesi global yang diperkirakan akan terjadi pada Tahun 2023 mendatang.

Ancaman resesi global di Tahun 2023 akan jelas didepan mata jika ada upaya-upaya untuk berdamai dengan keadaan.

Hal tersebut disampaikan oleh, Prof. Wayan Suartana selaku Akademisi Ekonomi, Universitas Udayana.

“Negara-negara di Eropa banyak menghadapi masalah yang serius sepeti harga energi dan makanan naik. Berarti dunia menghadapi dua cobaan yang berdampak luas bagi kehidupan ekonomi. Pertama, tentu saja Pandemi dan Kedua, eskalasi krisis Rusia-Ukrania,” kata dia pada, Selasa 4 Oktober 2022.

Lebih lanjutnya ia mengatakan pada saat ekonomi dunia secara penuh terkonekasi dan Interdepensi saat itu pula dunia mengalami tantangan dan cobaan hebat.

Tentunya Pulau Dewata juga akan merasakan dampaknya, khususnya inflasi.

Inflasi naik dan saat bersiap untuk bangkit menghadapi ketidakpastian dunia yang tak menentu.

Selain itu, Dollar meningkat terhadap mata uang lainnya termasuk Euro dan Rupiah. Sementara, industri Pariwisata dengan alat tukar dollar kelihatan menguntungkan karena turis akan berbelanja lebih murah.

“Tetapi bagi krama Bali tidak berpengaruh signifikan karena kunjungan wisatawan juga masih sekitar 40 persen dari kondisi normal sebelum Covid-19. Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan supaya tidak mengalami goncangan terlalu jauh,” imbuhnya.

Hal tersebut yakni pertama, Pemda Provinsi Bali dan Kabubaten/kota agar memantau terus pergerakan harga secara real time. Kedua, mengeksekusi kegiatan yang berdampak langsung terhadap peningkatan produksi dan produktivitas. Ketiga, ekonomi lokal Bali diberi insentif baik pada skala makro maupun mikro (individu dan rumah tangga). Keempat, BLT dimonitor terus kesahihan data dan sasarannya. Lalu kelima, Bali harus melirik kunjungan wisatawan dari Asia dan Australia yang relatif tidak mengalami resesi tetapi lebih pada pelambatan pertumbuhan, karena itu ekonomi domestik atau private consumtion harus terus digenjot.

Dikonfirmasi terpisah, Director Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira memebeberkan beberapa dampak resesi global yang akan terjadi di Indonesia.

Seperti nantinya kinerja ekspor akan melambat karena terjadi penurunan dari harga komoditas akibat melemahnya permintaan industri di negara maju, naiknya tingkat suku bunga memicu pelemahan berbagai sektor usaha dari properti hingga otomotif.

Juga akan berdampak pada bertambahnya jumlah orang miskin karena kesempatan kerja menurun sementara harga barang semakin mahal, pemulihan Sektor pariwisata terhambat oleh rendahnya minat masyarakat melakukan aktivitas leisure atau rekreasi karena fokus utama pada pemenuhan kebutuhan pokok dan ekonomi Indonesia akan tumbuh melambat dan masuk pada fase stagflasi dimana inflasi tinggi tidak berbanding lurus dengan terbukanya lowongan kerja baru. Ia pun menyarankan pada Pemerintah Indonesia untuk menerapkan beberapa hal agar resesi global ini tidak terlalu berpengaruh.

“Jaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan memaksimalkan devisa hasil ekspor dikonversi ke rupiah dan ditahan dibank domestik, meningkatkan pasokan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor pangan dan berikan stimulus ke sektor yang paling terdampak yakni properti dan otomotif dengan subsidi uang muka dan program subsidi bunga,” kata, Bhima.

 

Ia juga menekankan agar UMKM juga perlu lebih didorong untuk memperluas akses pasar dengan digitalisasi sehingga kemampuan serapan kerja menjadi meningkat. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved