Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Ekonomi Hadapi 2 Cobaan, Dampak Resesi Global Menurut Ekonom Unud Bali dan Celios

resesi global diperkirakan terjadi pada 2023, inflasi akan naik dan saat bersiap untuk bangkit menghadapi ketidakpastian dunia yang tak menentu.

Pixabay
Ilustrasi - Ekonomi Hadapi 2 Cobaan, Dampak Resesi Global Menurut Ekonom Unud Bali dan Celios 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seluruh dunia dikabarkan akan mengalami resesi global yang diperkirakan terjadi pada 2023.

Ancaman resesi global akan jelas di depan mata jika ada upaya-upaya untuk berdamai dengan keadaan.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof Wayan Suartana selaku Akademisi Ekonomi Universitas Udayana.

“Negara-negara di Eropa banyak menghadapi masalah yang serius, seperti harga energi dan makanan naik. Berarti dunia menghadapi dua cobaan yang berdampak luas bagi kehidupan ekonomi. Pertama, tentu saja pandemi. Kedua, eskalasi krisis Rusia-Ukrania,” kata dia, Selasa 4 Oktober 2022.

Baca juga: Ini Perkiraan Dampak Resesi Global pada Indonesia, Menurut Para Ahli Ekonom

Dia mengatakan, pada saat ekonomi dunia secara penuh terkonekasi dan interdepensi saat itu pula dunia mengalami tantangan dan cobaan hebat.

Tentunya Pulau Dewata juga akan merasakan dampaknya, khususnya inflasi.

Inflasi naik dan saat bersiap untuk bangkit menghadapi ketidakpastian dunia yang tak menentu.

Selain itu, nilai dolar meningkat terhadap mata uang lainnya, termasuk euro dan rupiah.

Sementara, industri pariwisata dengan alat tukar dolar kelihatan menguntungkan karena turis akan berbelanja lebih murah.

“Tetapi bagi krama Bali tidak berpengaruh signifikan karena kunjungan wisatawan juga masih sekitar 40 persen dari kondisi normal sebelum Covid-19. Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan supaya tidak mengalami goncangan terlalu jauh,” imbuhnya.

Hal tersebut yakni pertama, Pemda Provinsi Bali dan kabubaten/kota agar memantau terus pergerakan harga secara real time.

Kedua, mengeksekusi kegiatan yang berdampak langsung terhadap peningkatan produksi dan produktivitas.

Ketiga, ekonomi lokal Bali diberi insentif baik pada skala makro maupun mikro (individu dan rumah tangga).

Keempat, BLT dimonitor terus kesahihan data dan sasarannya.

Lalu kelima, Bali harus melirik kunjungan wisatawan dari Asia dan Australia yang relatif tidak mengalami resesi tetapi lebih pada pelambatan pertumbuhan, karena itu ekonomi domestik atau private consumtion harus terus digenjot.

Dikonfirmasi terpisah, Director Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira memebeberkan beberapa dampak resesi global yang akan terjadi di Indonesia.

Seperti nantinya kinerja ekspor akan melambat karena terjadi penurunan dari harga komoditas akibat melemahnya permintaan industri di negara maju, naiknya tingkat suku bunga memicu pelemahan berbagai sektor usaha dari properti hingga otomotif.

Juga akan berdampak pada bertambahnya jumlah orang miskin karena kesempatan kerja menurun, sementara harga barang semakin mahal.

Pemulihan sektor pariwisata terhambat oleh rendahnya minat masyarakat melakukan aktivitas leisure atau rekreasi karena fokus utama pada pemenuhan kebutuhan pokok dan ekonomi Indonesia akan tumbuh melambat dan masuk pada fase stagflasi, di mana inflasi tinggi tidak berbanding lurus dengan terbukanya lowongan kerja baru.

Ia pun menyarankan pada pemerintah Indonesia untuk menerapkan beberapa hal agar resesi global ini tidak terlalu berpengaruh.

“Jaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan memaksimalkan devisa hasil ekspor dikonversi ke rupiah dan ditahan di bank domestik, meningkatkan pasokan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor pangan dan berikan stimulus ke sektor yang paling terdampak yakni properti dan otomotif dengan subsidi uang muka dan program subsidi bunga,” kata Bhima.

Ia juga menekankan agar UMKM juga perlu lebih didorong untuk memperluas akses pasar dengan digitalisasi sehingga kemampuan serapan kerja menjadi meningkat.

Benahi Sebelum Transformasi

GABUNGAN Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Bali menyarankan agar Bali lebih memperbaiki sektor pariwisata terlebih dahulu sebelum melakukan transformasi atau memfokuskan kegiatan ekonomi pada sektor pertanian.

“Bali harus memperbaiki sektor pariwisatanya terlebih dahulu, barulah diikuti dengan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, ekspor, hingga manufacturing. Untuk industri ekspor pun, saat ini yang masih dikatakan baik untuk Bali adalah ekspor hasil alam, seperti ikan atau bibit ikan,” kata Ketua GPEI Bali, Panudiana Kuhn, Selasa 4 Oktober 2022.

Diakuinya, kondisi ini memang cukup berat, maka dari itu ia mengimbau agar seluruh pihak tetap optimistis dan jangan sampai stres.

Ia mengatakan, kondisi perekonomian saat ini masih sangat memprihatinkan.

Dampak adanya kenaikan BBM pada angkutan kota, bemo kecil, atau bis-bis harus menaikkan harga.

Sebab kalau tidak, jasa transportasi darat tersebut akan mati sendiri.

Terlebih lagi saat ini, pembelian BBM subsidi tidak boleh banyak.

“(Sarannya) Subsidi lagi, kalau perlu BBM diturunin bisa tidak?,” tanyanya.

Pihaknya pun menyarankan kepada pemerintah mengurangi dulu membangun infrastruktur, agar masyarakat tidak terlalu menjerit. Karena bagaimana pun, kata dia, kalau BBM naik inflasi jelas akan melambung.

“Kemarin saja rencana konversi kompor gas ke kompor listrik sudah batal, karena ini kita belum mampu memang. Termasuk mobil listrik pun kita belum siap sebetulnya. Hanya nafsu besar, tenaga kurang. Harus take time. Kita belum siap. Ini memang berat untuk rakyat kecil,” imbuhnya.

Ia menilai tampaknya kondisi perekonomian Bali tahun 2023 tidak lebih baik dari tahun 2022.

Ia juga memprediksi, di tahun 2023 ekonomi minus tidak hanya akan dirasakan di Bali, melainkan juga di wilayah lainnya.

Dirinya juga melihat, tahun ini pendapatan masyarakat cenderung tidak akan naik, sedangkan pengeluaran semakin meningkat.

“Iya, tahun depan agak minus di mana-mana. Itu prediksi saya. Makanya, saya pernah bilang, Bali tiga tahun kedepan masih mengkhawatirkan. Belum booming kalau pariwisata,” katanya. (*)

P to P Saran Ekonom Unud

- Pemda Provinsi Bali dan kabubaten/kota terus pantau pergerakan harga secara real time.

- Mengeksekusi kegiatan yang berdampak langsung terhadap peningkatan produksi dan produktivitas.

- Ekonomi lokal Bali diberi insentif, baik pada skala makro maupun mikro (individu dan rumah tangga).

- BLT dimonitor terus kesahihan data dan sasarannya.

- Bali harus melirik kunjungan wisatawan dari Asia dan Australia yang relatif tidak mengalami resesi tetapi lebih pada pelambatan pertumbuhan.

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved